Komunikasi Konstruktif dengan Pasangan, Membentuk Karakter Anak
Sebuah keluarga yang berawal dalam sebuah ikatan perkawinan bermula dari sebuah proses komunikasi antara laki-laki dan perempuan. Komunikasi keduanya yang menginginkan tujuan yang sama untuk masa depannya. Termasuk pada anak.
Komunikasi adalah faktor penting dalam hubungan manusia. Saat sebuah hubungan dibangun, maka dengan komunikasilah akan muncul sebuah keintiman. Semua jenis hubungan apapun itu tergantung kepada bagaimana gaya berkomunikasi, cara berkomunikasi, dan keterampilan mengembangkan keduanya.
Komunikasi Suami-Istri
Kemampuan dan kemauan pasangan untuk berkomunikasi dapat menciptakan hubungan yang sehat dan bahagia di antara pasangan.
Pasangan suami istri merupakan orang-orang asing yang berjumpa dalam gelombang komunikasi yang cenderung sama. Dengan bentuk keluarga, pengasuhan, dan latar belakang lingkungan; membentuk karakter masing-masing orang asing ini menyatukan keinginan, cita-cita, harapan, tindakan dan cinta.
Selain itu, bentuk komunikasi dengan pasangan ini juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman di lingkungan keluarga; latar belakang pendidikan; latar belakang pekerjaan kepribadian atau karakter serta mood/emosi yang terjadi saat sedang berkomunikasi.
Salah satu bentuk cara menyatukan keinginan, cita-cita dan harapan adalah melalui komunikasi. Komunikasi verbal dan non verbal merupakan dua hal yang wajib bagi kedua belah pihak.
Membangun Standar Komunikasi Pasangan
Permasalahan akan terjadi jika standarisasi komunikasi tidak berjalan sesuai dengan gelombangnya. Hambatan-hambatan dalam berkomunikasi akan menimbulkan riak-riak dalam perjalanan menuju cita-cita tersebut. Maka hambatan tersebut haruslah dihindari, disebabkan komunikasi yang lancar merupakan poin utama dalam sebuah hubungan keluarga.
Pola yang terbentuk dari hasil komunikasi dengan pasangan otomatis akan mempengaruhi pada komunikasi dengan anak-anak dari pasangan tersebut. Komunikasi positif atau komunikasi negatif dari pasangan tersebut sangat menentukan pola pengasuhan terhadap anak-anak.
Benar seperti yang dikatakan oleh orang tua zaman dulu. Jika seorang anak, akan dilihat dari orang tuanya. Karakter anak akan mencerminkan apa yang telah orang tuanya berikan dan lakukan selama mengasuh dan mendidik anak-anaknya.
Indikator Keberhasilan Komunikasi
Sebagai indikator, bahwa komunikasi sangat mempengaruhi karakter seseorang dalam kehidupannya, terutama anak-anak dapat kita lihat dari beberapa hal.
Pertama, bahasa orang tua terhadap anak.
Bahasa yang seorang anak pakai dalam berkomunikasi meniru dari bahasa orang tua, baik itu ayah ke ibu, ibu ke ayah dan orang tua ke anak-anak. Bahasa bisa berupa kesantunan dan kesopanan dalam menyusun kata-kata saat berkomunikasi.
Seorang suami yang berkata lemah lembut terhadap istrinya akan terkesan oleh anak-anaknya, bahwa si ayah menyayangi si ibu. Tentunya si anak akan memahami bahwa dengan berkata-kata sopan dan santun merupakan bukti saling menghormati dan saling menyayangi.
Bahasa ini menghasilkan karakter berupa sikap sopan, hormat dan sayang terhadap orang lain. Bahasa ini juga menghasilkan sikap yang positif di luar lingkungan keluarganya; yang mana itu akan mempengaruhi penerimaan orang lain terhadap perilaku kita.
Demikian juga sebaliknya, jika bahasa yang suami pakai untuk istrinya adalah bahasa negatif; menggunakan kata-kata kasar dan bersifat merusak, maka bahasa ini akan menghasilkan karakter yang merusak juga bagi si anak.
Kedua, komunikasi dalam menerapkan disiplin bagi anggota keluarga.
Dalam hal ini seorang suami bertindak sebagai ”kepala sekolah” dan istri sebagai “guru” bagi anak-anak. Tentunya penerapan kurikulum pendidikan dan pengasuhan yang berlaku bagi anak-anak harus konsisten dan terdapat sinergitas antara “kepala sekolah” dan “guru”.
Peraturan yang berlaku pun, jika konsisten akan menghasilkan karakter anak untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri; mengakui dan melaksanakan tugasnya masing-masing. Sehingga peran dari masing-masing anggota keluarga dapat berjalan semestinya.
Jika komunikasi antara “kepala sekolah” dan “guru” tidak konsisten, maka akan menimbulkan indispliner bagi perilaku anak. Anak akan mencari “kemudahan” dari pihak yang tidak konsisten tersebut.
Ketiga, komunikasi dalam peneladanan.
Artinya suami dan istri sebagai pasangan telah mengetahui fungsi dan peranan mereka masing-masing. Baik itu sebagai pasangan maupun sebagai orang tua. Keteladanan disini tentunya berkaitan dengan poin pertama maupun kedua.
Keteladanan sangat memengaruhi karakter yang terbangun sejak usia dini. Anak usia dini merupakan spon yang mampu menyerap semua unsur komunikasi di sekitarnya tanpa saringan. Sehingga sangat diwajibkan bagi orang tua untuk menghasilkan komunikasi positif sehingga serapan yang diterima oleh anak-anak menjadi serapan positif juga.
Kita dapat melihat sejarah yang terjadi. Bahwa sebuah keluarga yang menghasilkan anak-anak berkarakter baik merupakan orang tua yang mempunyai bahasa; pendisiplinan dan keteladanan yang positif. Tentunya hal ini dihasilkan dari komunikasi orang sebagai sebuah pasangan.
Komunikasi positif tidak terlepas dari kepuasan dan penerimaan dari masing-masing pribadi baik itu sebagai suami atau istri. Suami atau istri yang selalu diberi kesempatan untuk berkomunikasi yang baik tentunya lebih menerima komunikasi yang dilakukan oleh orang lain kepada dirinya.
Meneladani Komunikasi Pasangan ala Rasulullah
Sebagai contoh, kita dapat membaca shirah nabawiyah. Banyak kisah-kisah bagaimana keluarga nabi dan rasul yang yang tentunya cara berkomunikasi dengan istri mereka dapat menjadi suri tauladan bagi kita sebagai keluarga.
Kita lihat saja, kisah Nabi Muhammad Saw, bagaimana cara berkomunikasi beliau dengan sang istri tercinta Ummu Khadijah. Saat Nabi pulang dari menerima wahyu pertama, beliau pulang ke rumah dengan kondisi tubuh bergetar hebat, Ummu Khadijah tetap memperlakukan beliau dengan lemah lembut tanpa memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang tentunya semakin membuat beliau panik.
Dan kita mengetahui bagaimana sikap dan karakter anak-anak Rasulullah Saw. Bagaimana karakter anak-anak beliau yang menjadi contoh teladan bagi kita semua. Bagaimana anak cucu beliau berperilaku seperti yang tertulis dalam sejarah Islam.
Tentunya hal ini tidak terlepas dari bentuk komunikasi antara Rasulullah sebagai suami dan Ummu Khadijah sebagai istri sehingga dapat menjadi karakter anak-anak mereka. Demikian pentingnya komunikasi positif sebagai pasangan dalam sebuah keluarga. Gelombang positif yang dialirkan dari komunikasi pasangan yaitu suami dan istri akan menghasilkan karakter anak yang positif. Karena hasil komunikasi ini menghasilkan peradaban sebuah bangsa yang berawal dari peradaban sebuah keluarga.

Bekerja sebagai ASN. Suka menulis karena ingin melepaskan kepenatan dalam pikiran yang bersiliweran dan berharap tulisan bermanfaat bagi orang lain.

Rifki Asmana
Mantap👍👍👍
Sangat bermanfaat, semoga pola komunikasi selama ini bisa lebih baik lagi berkat tulisan ini 👍