Komunikasi Kesetaraan pada Pasangan
Komunikasi sangat penting dalam membina hubungan harmonis dengan pasangan. Samsuriyanto (2021: 59) dalam buku Teori Komunikasi; Membangun Literasi, Menganalisis Situasi menjelaskan tentang teori dialektika relasional; yang menegaskan bahwa adanya ketegangan dalam menjalin hubungan.
Dengan demikian, peran komunikasi sangat menentukan dalam proses menciptakan keluarga yang harmonis; yaitu dengan menciptakan relasi pasangan yang setara.
Komunikasi dengan kesetaraan penting untuk dilakukan, agar kebahagiaan pasangan suami istri bisa tercapai. Prosesnya, haruslah dengan komunikasi yang lembut dan penuh senyum.
Samsuriyanto (2020: 114) dalam buku Dakwah Lembut, Umat Menyambut menyebutkan bahwa senyum bertujuan untuk membahagiakan, menghormati dan memuliakan orang lain terutama pasangan kita.
Urusan Rumah Tangga
Dalam urusan rumah tangga, banyak pekerjaan yang dapat dilakukan bersama, antara suami dan istri. Misalnya mengasuh anak, mencuci pakaian dan piring, menyapu dan mengepel lantai rumah serta pekerjaan lainnya.
Sedangkan perihal mengasuh anakpun, pasangan suami istri dapat berdiskusi tentang model pendidikan dan pengasuhan anak.
Pengasuhan anak tidak hanya tugas istri, namun juga tanggung jawab suami. Walaupun sebenarnya menurut Nashir bin Sulaiman al-Umar, (1995: 67) dalam buku Kendala-kendala Menuju Rumah Tangga Bahagia; kepemimpinan tetap diserahkan kepada suami, sebagai ketentuan Allah Swt yang telah ditetapkan kepada hambaNya.
Mencuci pakaian dan piring bisa dibagi dan diskusikan dengan pasangan. Bisa jadi mencuci pakaian adalah tugas suami, sementara mencuci piring adalah tugas istri. Di sisi lain, menyapu dan membersihkan rumah adalah tanggung jawab suami, sementara masak adalah tugas istri.
Dengan demikian, ada komunikasi kesetaraan yang terbangun dalam urusan rumah tangga. Walaupun kebanyakan keluarga beranggapan bahwa tugas rumah tangga menjadi tugas istri, sementara suami tidak membantu karena alasan telah mencari nafkah.
Bayangkan betapa susah dan lelah bagi seorang istri yang mengerjakaan urusan rumah tangga sendirian, tanpa bantuan seorang suami. Ditambah mengasuh anak secara mandiri.
Suami tentu harus peka, bahwa untuk membentuk keluarga bahagia dan harmonis harus diperjuangkan bersama. Istri melakukan komunikasi yang lembut kepada suami saat meminta bantuan dalam urusan rumah tangga. Selain itu, istri juga menyadari bahwa pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab istri.
Pekerjaan dan Pengembangan
Setiap suami harus memberikan nafkah kepada keluarganya. Namun, seorang istri yang bekerja baik di dalam maupun di luar rumah diperbolehkan jika dalam rangka membantu suami untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tentu, harus dilaksanakan dengan izin suaminya.
Seorang istri tidak boleh memaksa diri mempertahankan pekerjaan, jika suami melarang dengan alasan logis (Anshari Thayib, 1994: 67). Saat memohon izin, istri tentu menyampaikan dengan pilihan kata yang santun, wajah penuh senyum dan nada yang lembut kepada suami. Istri tentu juga menyampaikan dengan alasan baik dan argumentasi logis terkait pentingnya pekerjaan yang akan dilakukan oleh istri.
Suami yang baik tentu melakukan komunikasi kesetaraan dengan istri terkait dengan pekerjaan dan pengembangan diri. Suami bijak akan menginzinkan istri bekerja. Apalagi jika profesinya tersebut berhubungan erat dengan jurusan si istri saat kuliah.
Misalnya, istri yang lulus dari kuliah kebidanan, maka ia bisa berprofesi sebagai bidan di klinik, rumah bersalin atau rumah sakit. Sehingga mengharuskan si istri keluar rumah. Namun jika suami khawatir, maka bisa membantu istri untuk membuka praktek mandiri bidan di rumah, mulai dari mengurus surat tanda registrasi bidan, dan lain-lain.
Suami tentu juga membolehkan istri untuk mengembangkan diri, baik dari segi spiritual maupun sosial. Mengikuti majelis taklim adalah cara terbaik untuk meningkatkan wawasan keagamaan dan motivasi spirtual.
Di sisi lain, istri juga diizinkan untuk mengikuti arisan sebagai wadah di masyarakat dari segi sosial. Istri bijaksana tentu juga mendukung hobby dan keterampilan yang suami sukai, selama tidak bertentengan dengan syariat agama.
Suami juga mendukung istri untuk memperoleh pendidikan atau pelatihan lanjutan untuk meningkatkan wawasan. Misal, istri berkeinginan untuk melanjutkan studi magister atau mengikuti pelatihan.
Namun di sisi lain, suami tentu mencermati sebelum mengizinkan apalagi mendukung istri meningkatkan keilmuan tersebut. Seorang istri juga harus mendorong suami untuk melanjutkan pendidikan kepada level yang lebih tinggi.
Hubungan Seksual dan Kebahagiaan
Hubungan seksual menjadi halal karena pernikahan. Komunikasi kesetaraan juga penting dalam urusan hubungan seksual. Suami bijaksana akan membuat istri bahagia ketika berhubungan badan, artinya tidak mementingkan kesenangan pribadi. Sebab menurut penelitian, orgasme wanita lebih lama dari pada laki-laki. Istri juga dapat berdandan dengan penampilan yang cantik dan menawan ketika akan berhubungan, agar terciptanya hubungan yang saling memuaskan.
Saifuddin Mujtabah dan M. Yusuf Ridlwan (2010: 35) dalam buku Nikmatnya Seks Islami; menegaskan bahwa guna merasakan orgasme bersama baik suami dan istri harus memahami fisiologis senggama.
Hal inilah yang membuat keduanya mengutip Master dan Johnson, yang terkenal dengan penelitan seksual eksperimentalnya yang membagi hubungan seksual ke dalam empat fase, yaitu: fase kebangkitan atau masa perangsangan; fase peningkatan rangsangan atau masa meningkatkan nafsu; fase orgasme atau masa pengeluaran sperma; dan fase resolusi atau masa peredaan.
Dalam konteks kebahagiaan, suami tentu juga mengajak rekreasi istri agar kehidupan lebih segar dan senang. Rekreasinya tentu dengan persiapan yang baik, terutama dana.
Bisa jadi dengan kebahagiaan yang sang istri peroleh, dapat berdampak positif terhadap karir suami dan keberlangsungan rumah tangga. Istri yang bahagia tentu menyambut dengan senyum dan pelukan kepada suami yang pulang dari bekerja. Suami juga bahagia dan semangat dalam bekerja, sehingga karir bisa meningkat.
Suami dan istri perlu memiliki sifat tulus dalam mencintai dan membangun rumah tangga. Komunikasi kesetaraan menjadi perlu agar aspirasi yang dikehendaki tercapai dan terjadi keseimbangan dalam keluarga. Sebab secara dasar, membentuk rumah tangga adalah tanggung jawab bersama, antara suami dan istri.
khatib Jumat di Sidoarjo
