f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
atta

Mediasi Keintiman: Menonton Atta dan Aurelia di Layar YouTube

Internet Selebrities dan Kapitalisasi Keintiman

Sabtu 13 Maret 2021 lalu acara lamaran pasangan Atta Halilintar dan Aurel Hermasnyah disiarkan salah satu televisi swasta di Indonesia. Kemudian pada tanggal 3 April 2021 akad nikah mereka juga disiarkan secara Live di stasiun TV yang sama. Berbagai macam kritik dan diskusi publik telah dilayangkan oleh organisasi masyarakat yang peduli dengan isu penyiaran untuk menyoroti peristiwa ini.

Seperti yang diketahui Atta Halilintar adalah content creator YouTube terkenal di Indonesia dengan 26,8 juta subscriber (pelanggan). Bahkan sejak tahun 2019 di Asia Tenggara Atta selalu menduduki peringkat pertama sebagai YouTuber terkaya dan terpopuler. Memulai memproduksi konten video di platform YouTube sejak tahun 2014, Atta telah memiliki jumlah koleksi video lebih dari 150 tayangan. Keseluruhan video apabila ditotal telah ditonton lebih dari 3 Milyar kali.

Apabila dilihat dari data yang dilansir dari website social blade rata-rata setiap video-video Atta Halilintar telah ditonton minimal 10 juta kali. Angka-angka fantastis ini tentu mendatangkan berbagai keuntungan finansial. Bahkan keuntungan itu kemudian Atta olah kembali untuk dijadikan beragam konten give away (memberi hadiah) kepada para pengikutnya. Tidak jarang ia membuat konten belanja barang-barang mewah untuk dipamerkan kembali di akun YouTube miliknya.

Pada tahun 2020 popularitas Atta semakin meningkat tajam karena berhasil memikat Aurelie Hermansyah; seorang putri dari artis terkenal Indonesia yang juga aktif sebagai influencer di sosial media Instagram dan YouTube. Hubungan dua anak muda ini kemudian tidak pernah berhenti ditampilkan dalam vlog (video blog) keseharian mereka. Dari sejak proses menyatakan cinta, berkencan berdua, saling memberi kado-kado indah, hingga prosesi seputar persiapan pernikahan; menjadi isi cerita yang nampaknya juga banyak disukai oleh penonton Indonesia. Tidak jarang pula aksi-aksi keintiman mereka juga menjadi viral, dan digaungkan kembali dalam akun gosip di sosial media dan televisi.  

Baca Juga  Fenomena “Fajar Sad Boy” : Menyoal Patah Hati dalam Islam
YouTube dan Self-Entrepreneurship

Dalam istilah kajian selebritis, Atta dapat disebut sebagai micro-celebrities. Sedangkan Aurelie bisa dikategorikan sebagai Internet-celebrities, karena posisinya yang sudah dikenal khalayak luas melalui televisi, sebelum ia beralih ke sosial media. Apapun sebutan mereka berdua sekarang, yang jelas perubahan platform digital memberi pengaruh yang besar kepada individu untuk berstrategi di dunia selebritis.

Dunia digital pada kenyataanya memberikan peluang yang lebih besar kepada individu dan kelompok untuk berpartisipasi membuat konten agar menjadi viral. Bahkan konten-konten mereka diambil dan digunakan oleh siaran televisi. Kondisi ini tentu tidak pernah terbayangkan akan terjadi di beberapa tahun yang lalu.

Seperti yang sudah pernah saya tulis di artikel sebelumnya, micro-celebrities adalah status popularitas yang diperoleh oleh individu karena aktif membuat konten di social media. Untuk menjadi terkenal, baik seorang micro-celebrities dan internet-celebrities tidak boleh berhenti membuat konten keseharian yang menceritakan aktivitas mereka di ruang publik.

Menurut Crystal Abidin (2018) selebritas mikro dan selebritas internet semacam Atta dan Aurelie ini, perlu mempertahankan kehadiran mereka di depan kamera; menggunakan praktik keintiman yang seakan sepele namun justru menarik keingintahuan penonton.

***

Seorang micro-celebrities perlu terus menerus berbagi preferensi pribadi mereka; termasuk mode, makanan, produk kecantikan, produk kulit, dan aktivitas rekreasi, yang semuanya menawarkan cara untuk memelihara rasa kebersamaan dan menjaga kedekatan dengan penonton. Sense of everydayness (rasa keseharian dan kepekaan) penting bagi selebriti internet untuk mempromosikan personal branding mereka.

Dalam konteks ini selebritis Internet adalah orang-orang yang menjual kepribadian dan citra diri untuk aktif dijadikan komoditas. Pundi-pundi kapital sekaligus ketenaran tidak jarang, mendorong banyak kaum muda yang berlomba-lomba menjadi populer di sosial media; dengan berbagai cara bahkan dengan cara yang tidak lazim. Dengan kata lain, apabila dulu kaum muda bersusah payah menjadi entrepreneurship dengan melibatkan karya-karya individu untuk dikompetisikan, era hari ini ternyata berubah. Digital media manjadikan kompetisi tidak lagi soal karya dan kepentingan publik,;namun beralih pada komoditas atas diri sendiri atau yang biasa disebut self-entrepreneurship.

***

Self-entrepreneurship menjadi hal yang seakan lazim saat kesempatan makin terbuka. Digital media nyatanya juga menjadikan industri keintiman semakin sering dijajakan oleh para selebrities tradisional, yang sebelumnya anti membuka cerita pribadi mereka kepada publik. Lihat saja banyaknya selebritis Indonesia yang sejak awal Pandemic-19 mulai merintis tayangan vlog mereka di YouTube.

Baca Juga  Membuka Pendidikan Darurat di Masa Pandemi

Hadirnya platform media sosial yang menukarkan attention audience sebagai attention economy; membuat self-entrepreneurship menjadi salah satu cara menarik perhatian karena dapat menghasilkan monetise (menghasilkan uang) secara langsung. Tidak dapat dibendung nyatanya cerita-cerita keintiman seperti Atta-Aurelie ingin memiliki 15 anak, pamer lamaran mewah. Bahkan proses Aurelie memeriksakan alat reproduksinya ke dokter kandungan agar segera mendapatkan momongan setelah menikah nanti menjadi hal yang tidak tabu untuk ditampilkan.

Upaya-upaya seperti ini sekali lagi dilakukan untuk memelihara kedekatan, keakraban termasuk imajinasi menjadi orang yang “biasa” sekaligus berbeda” dengan yang lain. Realitas ini semakin meneguhkan individu-individu yang bekerja di depan layar sosial media seperti ini melibatkan kerja emosional yang substansial.

Sebagaimana Marwick (2013) mengkarakterisasi kerja mikro-selebriti selalu menggunakan pengaruh emosional saat menampilkan diri sendiri dan berinteraksi dengan orang lain atau biasa disebut “emotional labour”. Pekerjaan seperti ini bukannya tanpa resiko, kepopuleran seseorang di ruang internet nyatanya juga memiliki konsekuensi kelelahan mental; karena perilaku dan tingkah laku para influencer ini juga akan di selalu dinilai, diamati dan dikonsumsi oleh publik yang luas. Bagaimanapun menjadi populer melalui eksploitasi cerita-cerita persoalan pribadi bukanlah pilihan yang ideal untuk mendulang kesuksesan.

Bagikan
Post a Comment