Rabi’ah Al-Adawiyah, Teori Cinta Ilahi dan Konsepnya dalam Tasawuf (1)
Rabi’ah Al-Adawiyah, perempuan yang selama hidupnya tidak pernah menikah, dianggap mempunyai saham besar dalam memperkenalkan cinta Allah ke dalam mistisisme Islam. Hal ini dikatakan karena sejak Rabi’ahlah cinta kepada Allah mulai ditekankan dalam ajaran tasawuf. Sebagian besar para sufi menjadikan cinta sebagai ajaran pokok dalam tawasuf. Cinta adalah jalan sufi atau keadaan rohani yang tinggi dan yang penting dalam hubungan manusia dengan tuhan. Para sufi mutakhir (suri-filosof) sangat didominasi oleh perasaan cinta terhadap ilahi, yang mereka ungkapkan dalam puisi maupun prosa secara filosofis.
Cinta inilah yang mengantarkan mereka kepada penyaksian dalam kesatuan secara intuitif, seperti yang kita ketahui bersama ‘Umar ibn al-Farid adalah sufi Arab yang paling menonjol. Sedangkan Jalaluddin Rumi dipandang sebagai “penyair cinta” yang paling menonjol dalam khazanah sufi Persia.
Dalam Islam, ajaran cinta kepada Allah bukan suatu hal yang baru, karena sejak baginda Rasulullah memang telah mengajarkan ajaran cinta tersebut. Dalam dunia Tasawuf pun sejak masa awal asketisisme (zuhud), cikal bakal Tasawuf, cinta merupakan salah satu langkah yang harus ditempuh oleh seorang zahid.
Tetapi dalam beberapa pendapat, kepada Rabi’ahlah dirujukkan kata pemakaian kata cinta dalam kalangan para sufi. Sejak Rabi’ah, cinta kepada Allah menjadi perbincangan utama kaum sufi. Karena sebelumnya, yang menjadi perbincangan utama mereka adalah khauf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan).
Beliau Hasan Al-Basri telah merintis aliran asketisme dalam islam berdasarkan rasa takut dan harap, dan Rabi’ah merintis jalan cinta kepada Allah. Abu Al-Wafa’ al-Ghanami al-Tafthazani menyimpulkan bahwa Rabi’ah al-Awadiyah bukan hanya mempopulerkan kata cinta, tetapi dia pula yang pertama-tama menganalisis dan menguraikan pengertian cinta.
Margaret Smith menyatakan bahwa Rabi’ah mungkin yang pertama menekankan cinta sebagai doktrin dan menghubungkannya dengan doktrin kasyf, ia juga menyebutkan bahwa Rabi’ahlah yang pertama mengajarkan doktrin cinta kepada Tuhan tanpa pamrih, sebagai konsep yang baru dalam dunia Tawasuf yang sebagian para sufi mengabdi Karena takut akan neraka dan mengharap surga.
Faktor Timbulnya Cinta Ilahi
Untuk mengetahui apa yang melatarbelakangi Rabi’ah memunculkan teori cinta ilahi, kita perlu melihat beberapa pendapat tentang faktor-faktor yang menyebabkan munculnya kecenderungan zuhud dan tasawuf. Menurut Harun Nasution ada beberapa faktor ekstren yang mempengaruhi munculnya istilah sufisme dalam islam.
Pertama, pengaruh Kristen dengan paham menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri dalam biara-biara. Dalam literature arab memang terdapat tulisan tentang rahib-rahib yang mengasingkan diri di padang pasir arab. Dikatakan bahwa zahid dan sufi islam meninggalkan dunia, memilih hidup sederhana dan mengasingkan diri, adalah atas pengaruh cara hidup rahib-rahib Kristen pada saat itu.
Kedua, filsafat mistik phytagoras yng berpendapat bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing. Badan jasmani jasmani merupakan penjara bagi roh. Kesenangan roh sebenarnya berada di alam samawi, dan untuk memperoleh hidup senang di alam samawi, manusia harus membersihkan roh dengan meninggalkan hidup materi (zuhud) dan berkontemplasi.
Ketiga, filsafat emanasi Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar dari zat Tuhan Yang Maha Esa. Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tetapi dengan masuknya ke alam materi, roh menjadi kotor, dan untuk dapat kembali ke tempat asalnya roh harus dibersihkan terlebih dahulu. Pensucian ini dilakukan dengan meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan.
Sedangkan faktor utama, menurut Al-Taftazani, faktor intern dalam islam, yaitu Al-Qur’an dan Sunnahnya serta kondisi sosio politik pada dua abad pertama hijriyah. Sebagaimana juga disebutkan oleh Barmawi Umari, sebab timbulnya tasawuf, yaitu dari keadaan jiwa manusia sendiri yang secara aktif memiliki rohani, yang rindu bertemu Tuhan. Beberapa paham dan ajaran tersebut dianggap oleh sebagian ahli Tasawuf, mempengaruhi timbul dan munculnya sufisme dalam Islam.
Sedangkan menurut Buya Hamka, beliau menyatakan bahwa tasawuf atau zuhud itu tumbuh sendiri, dari pengaruh membaca dan melagukan Qur’an dengan suara merdu, tafakkur, samadi, dan membaca beberapa hadist, mencontoh sahabat-sahabat utama dan pengaruh linkungan sekeliling.
Konsep Cinta dalam Tasawuf
Mengenai cinta kepada Allah, Al-Ghazali salah seorang filsuf muslim merumuskan beberapa sebab yang yang menimbulkannya:
Pertama, kecintaan manusia pada diri sendiri, kekekalan dan kelangenggan, dan kesempurnaan hidupnya. Orang yang mengenal dirinya dengan Allah dengan ma’rifah yang benar, ia akan mencintai Allah. Hal ini karena dia kenal bahwa hanya Allah yang dapat menuruti harapan kecintaan pada dirinya.
Kedua, kecintaan kepada yang berbuat baik kepadanya. Orang yang mengenal Allah dengan ma’rifah yang sesungguhnya, akan mencintai Allah, karena ia mengerti bahwa yang berbuat baik kepadanya adalah Allah ta’ala.
Ketiga, kecintaan kepada yang berbuat baik terhadap segala sesuatu. Kecintaan ini menghendaki kecintaan kepada Allah ta’ala karena Allah berbuat baik terhadap seluruh makhluk makhluk-Nya.
Keempat, kecintaan kepada setiap yang indah karena keindahan itu sendiri, bukan karena keuntungan lain yang dapat diperoleh daripadanya di belakang mengetahui keindahan. Orang yang mengenal Allah dengan ma’rifah yang sebenarnya, hatinya akan melihat bahwa Allah lah yang paling indah. Orang yang mengenal Allah dengan Ma’rifah yang sebenarnya, hatinya akan melihat bahwa Allah lah yang paling indah Keindahan-Nya.
Kelima, cinta yang timbul karena saling menyesuaikan. Seseorang yang mencintai orang lain cenderung karena kesesuaian. Orang yang berilmu lebih cenderung kepada orang yang berilmu juga. Anak kecil mengasihi anak kecil dan orang dewasa berkasih sayang dengan orang dewasa.
Burungpun mengasihi sesama jenisnya. Maka saling mengenal adalah saling menyesuaikan, manusia yang baik akan mempunyai sifat yang baik. Apabila dilihat secara batiniah manusia mempunyai kesesuaian dengan sifat Allah.
Hanya orang-orang yang berjalan menuju Allah saja yang dapat membuka rahasia kesesuaian tersebut. Kesesuian ini tidaklah kelihatan melainkan dengan membiasakan melakukan ibadah-ibadah kepada Allah.
Filsuf muslim Ibn Arabi juga menyatakan bahwa basis dan sebab semua cinta adalah keindahan. Tuhan mencintai makhluknya karena makhluk adalah keindahan yang diciptakan sendiri oleh Tuhan. Sedangkan manusia mencintai Tuhan karena melihat keindahan Tuhan. Tuhan Maha Indah dari segala sumber keindahan.
Teori Cinta Rabi’ah dan Konsep Baru dalam Tasawuf
Teori cinta yang dikemukakan oleh Rabi’ah muncul dikarenakan situasi dan kondisi hidup Rabi’ah yang dari kecil sudah hidup sendirian, tanpa kedua orang tua dan tanpa harta sedikitpun yang diwariskan oleh kedua orang tuanya kepadanya.
Yang dia rasakan pada saat itu hanya Allah lah yang mampu menolongnya dari segala keterpurukan, musibah dalam hidupnya. Dari pernyataan ini dapat kita ketahui bahwa timbulnya kecintaan Rabi’ah kepada Allah dikarenakan kecintaan kepada dirinya sendiri.
Semenjak Rabi’ah memilih jalan hidup zuhud dan bergaung di dunia para sufi, dari mereka beribadah kepada Allah karena takut neraka dan mengharap surga, menjadi beribadah karena kecintaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya cinta kepada-Nya.
Dari sikap dan teori yang demonstratif ini menunjukkan bahwa Rabi’ahlah yang mensosialisasikan teori cinta tanpa pamrih yang disebabkan oleh keprihatinannya terhadap tingkat ibadah yang dilakukan oleh para zahid dan sufi kala itu. Buya Hamka juga menyimpulkan bahwa habb (cinta) berawal dari perpaduan antara raja’ (penharapan) dan khauf (rasa takut).
Mahasiswa Univesitas Muhammadiyah Surakarta
