f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan pemimpin

Hikmah Menstruasi Pada Perempuan

Tulisan ini berawal dari percakapan saya bersama murid les. Ia mengajukan pertanyaan, “Miss, apa benar penghuni neraka kebanyakan perempuan? Kata guru agama di sekolah, perempuan banyak masuk neraka karena sering meninggalkan ibadah.” Dengan nada pelan, saya mulai menjelaskan dengan bahasa ringan agar bisa difahami anak-anak.

“Dalam ajaran Islam, jenis kelamin bukanlah penentu seseorang akan masuk surga atau neraka. Ukuran kemuliaan seseorang tergantung pada sikap dan amal perbuatannya. Bagi perempuan ada peristiwa yang mengharuskannya meninggalkan beberapa ibadah wajib dikarenakan menstruasi bulanan. Namun, jika seseorang baik itu laki-laki maupun perempuan dengan sengaja meninggalkan ibadah tanpa alasan yang jelas maka perbuatan tersebut tidak diperbolehkan,”  ucap saya.

Dalam kehidupan sehari-hari ada pengalaman perempuan yang tidak dialami oleh kaum laki-laki salah satunya menstruasi. Menstruasi merupakan pengalaman biologis yang diberikan Allah sebagai tanda sehat dan berfungsinya organ reproduksi perempuan. Adapun larangan-larangan ibadah bagi perempuan saat menstruasi bukan sebagai tolak ukur atau justifikasi bahwa perempuan sedikit agama atau ibadah.

Kisah Nabi s.a.w dengan Aisyah r.a

Pada masa Rasulullah SAW tepatnya saat Haji Wada’, Rasulullah menjumpai Aisyah r.a yang sedang menangis. Kemudian Rasulullah menanyakan sebab mengapa ia menangis. Lalu Aisyah menyampaikan bahwa ia telah mengalami haid (menstruasi). Peristiwa ini termaktub dalam Shahih al-Bukhari No 285. Dalam riwayat lain menyebutkan, Al Hakim dan Ibn al Munzir melalui jalur periwayatan dari Ibnu Abbas bahwa permulaan menstruasi terjadi pada Hawa setelah dikeluarkan dari surga (Asqalani: Terj. Fathul Baari Syarh Shahih al- Bukhari).

Beberapa dari masyarakat masih ada yang beranggapan bahwa perempuan saat menstruasi itu kotor dan najis. Dikucilkan melalui tabu menstruasi (menstrual taboo) dan mengkaitkan menstruasi dengan dosa-dosa turunan yang dilakukan Siti Hawa, padahal tidak ada dalil dari Al-Qur’an maupun hadist yang membicarakan peristiwa tersebut.

Anggapan dan kepercayaan masyarakat dengan segala mitos kenajisan tubuh perempuan masih kuat. Di Flores misalnya, perempuan yang sedang menstruasi tidak diijinkan untuk membuat kue karena akan menjadi tidak enak. Sama halnya di Lombok, perempuan yang sedang menstruasi tidak dibolehkan membuat tape ketan karena tapenya akan berubah warna menjadi merah (Angelina Yusridar M, Magdalene).

Menstruasi Bagi Perempuan

Jika sahabat Rahmania termasuk pecinta Bollywood pastikan untuk tidak melewatkan film yang berjudul Pad Man (2018). Film ini berangkat dari kisah nyata yang menceritakan tentang penolakan masyarakat terhadap pembalut karena dianggap tabu. Namun setelah menyadari manfaat dari pembalut, masyarakat tersebut menerima dengan baik. Tayangan ini sangat menarik sebagai informasi bagaimana memahami lebih jauh cara masyarakat bahkan masyarakat modern menyikapi peristiwa biologis perempuan.

Menstruasi dalam literatur Islam dikenal dengan istilah haidl. Kata haidl ini hanya digunakan dalam Al-Qur’an tidak akan kita temukan istilah ini dalam kitab teks agama lain. Dalam Al-Munjid fi al-Lughah kata haidl, tanpa menjelaskan asal-usul dan padanannya, dari kata hadla-hadlan yang memiliki arti keluarnya darah dengan jenis dan dalam waktu tertentu. (Nasaruddin Umar, Teologi Menstruasi: Antara Mitologi dan Kitab Suci)

Peristiwa haid ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 222 yang artinya “Mereka bertanya kepadamu tentang menstruasi. Katakanlah bahwa menstruasi adalah sesuatu yang bisa menimbulkan rasa sakit. Maka jauhilah istri-istri ketika menstruasi dan janganlah dekati mereka (berhubungan seksual) sampai mereka suci. Dan jika mereka telah suci, maka datangilah mereka (berhubungan seksual) dengan cara yang diperintahkan Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri.”

Kajian Fiqh tentang Perempuan

Beberapa kajian fiqh telah menjelaskan bahwa maksud “jauhilah istri-istri ketika menstruasi” bukan berarti menjauhi perempuannya namun menjauhi kontak fisik dari tempat keluarnya darah menstruasi (al-mahidh) sampai pada keadaan suci. Istilah “adza” yang artinya sesuatu yang mengganggu tetapi tidak buruk memberikan tuntunan kepada kita semua untuk bersikap empati pada rasa sakit yang bisa muncul saat menstruasi.

Sebagai misal saat PMS perempuan bisa mengalami beberapa keluhan seperti pusing, nyeri keram di perut bahkan tiba-tiba mudah sedih dan marah. Maka anjuran untuk berempati dengan kondisi perempuan sudah berlaku sejak dimulai PMS dengan tidak menambah rasa sakit yang muncul saat menstruasi.

Mempelajari pengalaman perempuan saat menstruasi sangat penting bagi kaum laki-laki karena peristiwa ini berkenaan dengan sistem reproduksi manusia. Selain itu pengalaman biologis perempuan sangat erat kaitannya dengan pengalaman fisik dan psikis sehingga membutuhkan support system dan kesiapan diri yang baik. Karena tidak sedikit lingkungan kita yang menghambat munculnya dukungan tersebut dan menganggap tabu untuk mendiskusikan pengalaman biologis perempuan.

Dalam kajian fiqh banyak sekali membahas tentang akhlak terkait penyikapan secara bertanggungjawab atas alat reproduksi perempuan dan laki-laki. Mempelajari fiqh itu penting dan kehadiran ilmu-ilmu syariat menjadi pedoman manusia dalam berislam. Namun perlu digaris bawahi bahwa tuntunan tersebut tidak berdiri sendiri atau sebagai acuan tunggal. Setidaknya harus dipertimbangkan aspek halalan (nalar bayani :teksual), tayyiban (nalar logika: burhani) dan ma’rufan yaitu nalar kepatutan secara sosial atau ‘irfani. (Nur Rofiah, Fiqih dan Pengalaman Perempuan)

Pandangan yang Salah tentang Menstruasi

Beberapa larangan bagi perempuan saat menstruasi seperti sholat, puasa dan thawaf) tidak diasumsikan karena perempuan itu najis dan kotor. Yang najis dan kotor itu darah yang dikeluarkan. Larangan untuk melakukan ibadah wajib atau ibadah munakahah (ibadah suami-istri), seyogianya sangat dikaitkan dengan kondisi tubuh perempuan yang membutuhkan istirahat.  Sebagai misal larangan shalat, sejumlah studi yang dilakukan ahli medis telah membuktikan bahwa gerakan shalat seperti ruku dan sujud berbahaya bagi perempuan karena akan meningkatkan peredaran darah ke rahim. Dan kebutuhan darah pada sel-sel rahim akan menyedot banyak darah sehingga bisa mengakibatkan perempuan mudah lelah, emosi naik turun dan rentan terkena anemia.

Begitupula dengan puasa dan ibadah lainnya. Semua larangan tersebut sebagai apresiasi Islam terhadap peran-peran reproduksi perempuan. Islam sama sekali tidak menistakan (menajiskan) keadaan tubuh perempuan yang sedang menstruasi bukan pula untuk mendiskriminasi atas keimanan perempuan. Islam justru sangat memperhatikan dan banyak mempertimbangkan kondisi perempuan saat menjalankan peran reproduksinya dengan memberikan keringanan-keringanan dalam ibadah agar perempuan tetap memperoleh kenyamanan dalam aktivitasnya.

Adapun terkait  larangan memasuki masjid bukan karena tubuh perempuan yang kotor dan najis namun lebih dikaitkan dengan darah menstruasi yang mungkin saja bisa mengotori masjid. Jika perempuan yang sedang menstruasi dapat memastikan darahnya tidak akan mengotori masjid maka perempuan tersebut diperbolehkan memasuki masjid. Sebagaimana Rasulullah SAW pernah meminta Aisyah r.a untuk mengambilkan pakaian beliau dari dalam masjid. Peristiwa ini terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari No 715.

Kondisi Alamiah

Menstruasi yang dialami perempuan merupakan kondisi alamiah yang diberikan Allah yang harus kita maknai sebagai penghargaan dan rukhsoh (dispensasi) bukan diskriminasi atau penistaan. Yang perlu kita perhatikan bersama adalah bahwa serangkaian pengalaman biologis yang dialami perempuan perlu diimbangi dengan kesadaran kesehatan melalui edukasi tentang kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi ini bukan hanya urusan perempuan semata. Isu kesehatan reproduksi merupakan isu kemanusiaan.

Dengan banyak membuka ruang pengetahuan terkait pengalaman biologis perempuan, harapannya akan semakin banyak pihak yang menyadari betapa pentingnya mempertimbangkan pengalaman dan kebutuhan perempuan dalam penetapan kebijakan yang ramah dan adil bagi masyarakat agar bisa menikmati dan merealisasikan hak asasinya secara penuh. (s)

Bagikan
Post a Comment