f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
hijrah

Terminologi Hijrah Kini Mengalami Kemarau Pemaknaan

Di setiap pengalaman hidup, ada suatu masa di mana sebagian orang yang mendalami teks-teks keagamaan di periode awal mereka bertransformasi dari suatu keadaan menuju pada titik sublimasi dalam proses spiritualnya. Transformasi yang dimaksud berupa perubahan pola pikir dan cara pandang keagamaan. Dari bentuk ketidaktahuan menjadi tahu, dari bertindak secara impulsif menjadi lebih kritis dan luas cara pandangnya. 

Namun demikian, ada pula yang mengambil bentuk hanya sekedar berganti kostum dan berubahnya penampilan. Lip service dengan segala terminologi keagamaan kerap menjadi pemanis dan simbol perubahan. Kita juga sering berhadapan dengan perubahan tata laku dalam bersosial media. Dari postingan yang sarat sensasi menjadi postingan dakwah dan pesan-pesan kebaikan.

Akan tetapi, hal yang saya himpun di atas bisa jadi merupakan ikhtiar baik tiap orang dalam berhijrah secara substansial. Namun, hal yang menjadi keriuhan alam pikir saya tentang bagaimana sebenarnya kita bersikap dalam memandang fenomena hijrah kini dan seterusnya. Di mana kata hijrah dalam arus kehidupan alam maya memiliki makna peyoratif dan cenderung underestimated.

***

Hijrah pada dasarnya merupakan istilah yang populer dalam banyak riwayat yang mengasosiasikan kata tersebut dalam suatu fase penting dalam kehidupan seseorang mengenai perubahan diri dan jiwanya. Sebagaimana hijrah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama sahabat yang melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah. Ada dua makna penting dari perjalanan rombongan Nabi. Yang pertama adalah hijrah sebagai perjalanan atau perpindahan. Kemudian makna kedua adalah migrasi dari suatu kondisi nir-spiritualitas dan intelektualitas menuju terangnya akal dan keimanan. 

Selanjutnya, Daoud S. Casewith (1998) mempublikasikan artikel jurnal dalam The Muslim World yang membahas tentang “Hijrah as history and metaphor: A survey of Qur’anic and Hadith source”. Doud membagi hijrah dalam dua hal yaitu hijrah sebagai perjalanan sejarah dan hijrah sebagai sebuah metafora. Sebagai sejarah, hijrah dipandang sebagai bagian dari peristiwa dalam sejarah peradaban Islam. Kemudian, hijrah yang kedua, Daoud menyebutnya sebagai metafora yang memiliki ruang interpretasi dan kontestasi pemaknaan. 

Baca Juga  Canggihnya Otak Manusia dan Memori yang Kita Simpan

Secara genuine, pada dasarnya hijrah merupakan istilah elit dalam kehidupan keagamaan kita yang merupakan suatu keniscayaan hidup yang acap kali terombang-ambing dalam lautan ketidakpastian arah hidup. Namun dalam perkembangannya term hijrah mengalami penyempitan makna. Hijrah kini dalam persepsi publik Indonesia kerap kali mengarah pada komunitas tertentu atau sekelompok pemuda yang berpenampilan agamis. Jadi, bila merujuk pada arti hijrah secara metafora, maka pada dasarnya tiap manusia memiliki otoritas dalam mendefinisikan pengamalan hidup dari apa yang kemudian disebut sebagai hijrah.

***

Kontestasi pemaknaan dari kata hijrah secara kiasan. Saya mengambil bentuk dari perubahan seseorang di mana hijrah bagi tiap orang ketika dia berada satu tingkat lebih baik dari sebelumnya. Dengan ikhtiar perbaikan baik secara spiritual maupun dalam bentuk intelektual. Tidak kemudian hanya sekedar dalam satu corong persepsi perubahan tampilan luar.

Hal inilah, bagi saya persepsi penilaian sebagian masyarakat cenderung bias simbol dari realitas kehidupan orang. Simbol-simbol kesalehan memang menjadi persepsi awal dalam mengatribusi tiap orang dengan kata hijrah. Sebagai contoh, dalam keterangan beberapa penyidik dalam wawancara wacthdoc documentary. Di dalamnya mengungkapkan bahwa isu Taliban dalam tubuh KPK seringkali dihubung-koneksikan pada ciri fisik tertentu. Seperti jenggotan, celana cingkrang, dan lain sebagainya. Hal inilah yang kemudian besar kemungkinan atribut kelompok Taliban melekat pada kelompok yang berciri fisik demikian. Berdasarkan keterangan salah satu penyidik yang tidak lolos tes wawasan kebangsaan.

Pengalaman atribut kesalehan yang saya alami ketika bermula dengan tumbuhnya ciri fisik jenggotan, celana mulai di atas mata kaki, berkostum baju koko, bacaan buku tema keislaman, rajin mengikuti pengajian, dan tiba suatu masa di mana saya mulai akrab dengan sapaan ‘Ustadz’. Hmm… iya, saya mendapat sapaan ustadz. Kemelekatan kata ustadz kerap kali dalam alam realitas dari circle pertemanan seolah membenamkan kedirian kita dalam partisi keilmuan.

Baca Juga  Menutup Stigma Tabu Masyarakat terhadap Pendidikan Seksual
***

Atribut keagamaan yang melekat seakan ada kekuatan psikologis komunal dalam menempatkan kepribadian kita dalam homogenitas keilmuan. Memang, filsuf di awal abad ke-20 mencoba mengkurasikan cabang ilmu ke dalam demarkasi ilmu pengetahuan. Akan tetapi, keilmuan yang kita miliki tidak kemudian membatasi diri pada satu cabang dan disiplin keilmuan.

Persoalan hijrah memang dalam banyak pemberitaan cenderung diposisikan sebagai kalangan masyarakat agamis yang bermigrasi dari kondisi sekuler menjadi lebih menonjolkan ekspresi keagamaan secara simbolik. Padahal, kekayaan literal tentang makna dari suatu kata ‘hijrah’ itu menyasar kepada siapapun yang bermigrasi dari suatu keadaan ke keadaan lain yang lebih baik dari sebelumnya.

Persepsi sebagian publik Indonesia yang beragama, memang cenderung menitikberatkan pada versi perubahan penampilan dan segala bentuk atribut kesalehan lainnya. Parsialitas pemaknaan tentang hijrah pada dasarnya menciptakan semacam ketertutupan pada interdisiplin keilmuan. Seakan-akan ketika ber-hijrah pemenuhan kebutuhan ilmu tertempuh secara totalitas hanya lewat teks-teks keagamaan.

***

Kita harus mengambil pelajaran di antara sebab-sebab kekalahan kekaisaran Ottoman yang cenderung mempertahankan status quo di tengah derasnya perkembangan sains dan teknologi di daratan Eropa. Penemuan demi penemuan mewarnai era pencerahan masyarakat Eropa yang hingga kemudian mengembangkan teknologi persenjataan di tengah ketertinggalan persenjataan Kekaisaran Ottoman di masanya. Peradaban suatu bangsa akan jauh tertinggal bila tidak memiliki kerangka hijrah progresif berdasarkan tuntutan dalam konteks realitas zaman.

Pada akhirnya, secara akumulatif saya ingin mengatakan bahwa hijrah pada hakikatnya mengandung makna daya kreativitas, daya nalar dan intelektualitas yang berkembang secara integratif dalam alam spiritual manusia. Hijrah tidak terjebak pada parsialitas dan pemaknaan simbolik.

Akan tetapi perjalanan tiap orang hijrah bila ia bergerak maju satu tingkat lebih baik dari sebelumnya. Lebih luas cara Ia memandang hidup, lebih baik wawasan intelektualnya, dan lebih meningkatkan empati kemanusiaannya. Serta ke semua aspek yang saya sebutkan di atas berjalan seiring-sejalan dengan ekspresi keagamaan dari apa yang penulis sebut sebagai hijrah progresif.

Bagikan
Post a Comment