f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan

Peran Perempuan dalam Perkembangan Hadis

Pembahasan mengenai perempuan tidak pernah hangus dalam dunia Islam, termasuk halnya dalam bidang kajian hadis. Islam memandang semua gender berhak berkontribusi dan berperan aktif dalam hal apapun, selama hal tersebut tidak menyimpang dari syariat.

Perempuan memiliki posisi penting dalam hal perkembangan hadis. Bahkan, Jalur periwayatan perawi perempuan kebanyakan berkembang melalui jalur kekeluargaan dan kekerabatan. Sehingga, ketersambungan riwayat hadis tetap terjaga dengan kuat hingga Nabi Muhammad SAW.

Dengan adanya kontribusi dari perempuan dalam periwayatan hadis, banyak bersebaran hadis – hadis tentang keluarga, poligami, dan permasalahan perempuan lainnya. Sedari awal, Islam memang tidak pernah memandang peran perempuan sebelah mata. Seperti halnya peran laki – laki, mereka memiliki kesempatan yang sama.

Kontribusi Perempuan dalam Bidang Hadis

Pada masa awal perkembangan hadis, salah satu tokoh perempuan yang banyak berkontribusi dalam bidang hadis adalah, Sayyidah Aisyah, istri Rasulullah. Aisyah merupakan perempuan intelektual yang sangat masyhur dalam Islam. Ia menguasai banyak bidang dalam ilmu pengetahuan. Akan tetapi, yang paling menonjol adalah pada bidang hadis.

Hal ini dapat diketahui dari pernyataan beberapa sahabat, bahwa ketika mereka mengalami kesulitan memahami sebuah hadis, maka mereka langsung menanyakannya kepada Aisyah. Selain itu, semenjak Nabi menikahi Aisyah, tempat tinggal mereka bersebelahan dengan Masjid Nabawi, di mana ketika itu Masjid Nabawi merupakan pusat penyebaran dan pengajaran hadis. Dengan demikian, pada saat pengajaran berlangsung, Aisyah bisa dengan leluasa menyimak dari dalam kamarnya.

Semasa hidupnya, Aisyah telah meriwayatkan hadis sebanyak 2210 hadis. Sebagian besar hadis-hadis Aisyah merupakan periwayatan langsung dari Rasulullah SAW. Selain itu, mayoritas hadis Aisyah merupakan hadis fi‘li, yaitu hadis yang menceritakan perbuatan-perbuatan Nabi, seperti tentang bagaimana beliau berwudhu, shalat, haji dan lain-lain.

Baca Juga  Kebangkitan Perempuan Berawal dari Kesadaran Akan Pentingnya Pendidikan

Hanya orang yang selalu bersama Nabi sajalah yang bisa meriwayatkan hadis-hadis semacam itu. Tanpa adanya peran Aisyah yang banyak meriwayatkan perbuatan Nabi, maka akan banyak perbuatan dan tindakan Nabi yang ikut terkubur bersama kewafatan beliau. Lebih dari itu, Aisyah juga memiliki keunggulan dalam hal al-infirād bi riwāyat al-ḥadīth. Artinya, Aisyah banyak meriwayatkan hadis-hadis tunggal yang tidak diriwayatkan oleh orang lain.

Dengan demikian, seandainya Aisyah tidak meriwayatkan hadis-hadis tersebut, maka akan banyak sekali koleksi hadis yang hilang dan tidak sampai ke generasi umat Islam berikutnya. Ada juga beberapa ulama’ perempuan yang tak kalah hebat dari Sayyidah Aisyah turut berkontribusi dalam bidang hadis.

Banyak para ulama’ yang menilai postif atas keikutsertaan kaum perempuan dalam bidang hadis. Bahkan, Dr Mohammad Akram Nadwi dalam bukunya “Al-Muhaddithat: The Women Scholars in Islam”  mengemukakan ada 8.000 perawi hadis perempuan yang berjasa dalam meriwayatkan hadis. Berikut ini adalah beberapa ulama’ hadis perempuan dengan kehebatannya:

1. Rubiyya binti Muawidh

Ia diakui keabshohannya, karena dekat dan cukup diperhatikan oleh Nabi Muhammad. Sehingga, ia sangat mengetahui sosok dan sifat Nabi. Ia juga sering mengunjungi Sayyidah Aisyah untuk menambah wawasan dan ilmu. Dari Aisyah, Ar-Rubayyi’ meriwayatkan sebanyak 21 hadis.  Bahkan, sejumlah tabi’in terkemuka juga meriwayatkan hadis darinya, seperti Khalid bin Dzakwan, Sulaiman bin Yasar, Abu Ubaidah bin Ammar bin Yasir, dan lainnya. Hadisnya juga banyak diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah.

2. Amrah binti Abdurrahman

Dalam at-Thabaqat, Imam Ibnu Ishaq al-Fazari menuliskan, “Amrah adalah perempuan yang sangat cerdas dan kuat hafalan. Ia memperoleh banyak sekali hadis dari Sayyidah Aisyah.” Ia adalah seorang ahli hadis yang terkemuka, terutama pada masa awal pembukuan hadis. Umar bin Abdul Aziz pernah menulis surat kepada Abu Bakar bin Muhammad yang mengatakan “Carilah hadis Rasulullah Saw,. atau sunnah terdahulu, atau hadis yang ada pada Amrah, kemudian tulislah. Sesungguhnya aku takut hilangnya ilmu dan wafatnya ahli ilmu.” Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya pengaruh Amrah dalam pembukuan hadis.

Baca Juga  Dari Tata Bahasa Indonesia hingga Mengulik Filosofi Kehidupan
3. Sayyidah Nafisah

Ia adalah salah satu perempuan yang menjadi guru dari seorang ulama’ besar, yaitu Imam Syafi’i. Imam Syafi’i banyak belajar dan mendapat hadis darinya. Sayyidah Nafisah juga masih dalam lingkaran keturunan Nabi. Sehingga, tidak meragukan lagi jika ada pengakuan bahwa ia menguasai tafsir dan hadis – hadis Rasulullah.

Tak cukup sampai di situ, dalam sebuah riset dengan judul “Peran Perempuan dalam Melestarikan Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Abad ke-4 sampai 14 H” dari tulisan Shafiyya Idris Fallati mengatakan bahwa salah satu ulama’ hadis perempuan itu berasal dari Indonesia, yaitu Syaikhah Fatimah binti Abd. Shamad al-Falimbani. Di dalam salah satu sanad hadis shahih Bukhari tercatat nama beliau di dalamnya. Beliau sangat masyhur di tanah suci Makkah, namun mengenai riwayat hidupnya masih cukup misteri, karena sedikitnya penemuan penelitian tentangnya.

Dengan adanya peran aktif perempuan dalam andil perkembangan hadis menjadi bukti kuat bahwa Islam tidak pernah membeda-bedakan genre dalam penyebaran ilmu. Hal tersebut semakin menguatkan akan pentingnya peran perempuan dalam suatu ilmu.

Selain itu, juga dapat membuktikan bahwa perempuan tidak “selemah” pandangan orang lain. Meskipun hanya segelintir tokoh yang berhasil menunjukkan kiprahnya, tetapi peran mereka sangat amat dibutuhkan dan penting. Tanpa adanya peran dari mereka, mungkin perkembangan hadis tak akan sampai pada masa kini dengan baik.

Editor: Afiruddin

Bagikan
Post a Comment