f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sepi

Sesekali Menepilah di Dalam Sepi

Kita tak dapat menghitung banyaknya langkah yang sudah terpijakkan. Ada sebagian langkah yang membuat kita jauh dari tujuan. Sebaliknya, ada langkah yang membuat kita dekat dengan tujuan. Menepi dalam sepi mendekatkan diri kepada sang Ilahi.

Kita tak dapat menghitung banyaknya keputusan-keputusan yang sudah menjadi pilihan. Ada keputusan yang kita sangka baik, tapi ternyata Allah tak rida sehingga kegagalan menjadi suatu keadaan yang akhirnya harus kita lalui. Ada keputusan yang kita sangka tidak baik, tapi ternyata di sanalah Allah rida sehingga sabar dan ikhlas menjadi ketetapan yang harus kita jalani.

***

Hari-hari yang kita lewati; saat belajar, bekerja, bermain, bersosialisasi, meraih impian, berumah tangga, dan segala keramaiannya akhirnya membawa diri ke dalam sepi. Kita berada di sebuah ruang, di dalamnya hanya ada diri kita seorang. Pernah merasakan hal demikian? Rasanya begitu sepi dan tiba-tiba air mata jatuh perlahan. Mengapa bisa demikian?

Barangkali kita sedang lelah. Kita Lelah berjuang menjadi sempurna. Tersenyum di hadapan banyak orang yang juga melelahkan, mereka juga lelah untuk terlihat baik-baik saja di hadapan rekan kerja. Menjadi penyempurna ekspektasi orang tua, itu juga pekerjaan yang melelahkan. Lelah mengubah harapan jadi kenyataan. Lelah berdamai dengan kecewa.

Ah pantas saja, sampai ada seseorang yang membuat buku Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini (NKSTHI). Sambat artinya mengeluh. Sambat ternyata bermanfaat untuk mengekspresikan kekacauan di dalam diri. Sebuah kondisi yang tidak baik-baik saja yang butuh obat pelipur, salah satunya dengan cara menyampaikan uneg-uneg (perasaan yang terpendam).

***

Setelah buku NKSTHI terbit, banyak orang meluapkan keluhan di media sosial. Keluhan-keluhan kecil dan ringan bahkan juga mereka luapkan, hingga tak jarang menjadi plesetan dan candaan. Mungkin memang cara orang bahagia demikian, tapi apakah itu bisa menyelesaikan masalah?  Bisa, sementara. Berikutnya kita akan menghadapi rasa sepi dan masalah tetap membayangi.

Baca Juga  Lima Langkah Menciptakan Keadaban Publik Menurut Haedar Nashir

Sebagai seorang muslim, mari sambat kepada Allah. Kita sampaikan perasaanyang terpendam. Segala sesuatu yang terpendam itu tidak mengenakkan. Apalagi kesedihan dan kekecewaan yang telah lama tertimbun. Keluarkan saja semua, Allah Maha Mendengar apapun yang kita ceritakan dan sembunyikan. Sambat kepada Allah ialah sebuah pengakuan diri bahwa manusia itu lemah, sedangkan Dia Mahakuasa, Maha Kuat. Mari pinta kelapangan hati dan kekuatan dariNya. Semoga Dia bisikkan petunjuk melalui keyakinan di hati kita.

Apakah sambat kepada Allah sudah bisa menyelesaikan masalah? Masalah mungkin belum selesai, tapi hati bisa jadi sudah lebih tenang dan damai insyaallah. Yakinlah, usaha kita mendekat kepada Allah akan dibalas dengan kasih dan sayangNya.

Lantas apa yang membuat kita tidak ingin dekat dengan Dia? Bukankah kita ini lemah? Cukuplah Allah yang menguatkan kita. Cukuplah Allah yang menjadi penolong kita. Menepilah di dalam sepi, berdiskusi bersama hati dan illahi. Kita pintakan kemudahan dan keberkahan untuk rencana-rencana kita. Hanya dengan kekuatan yang Ia titipkanlah kita mampu bangkit berdiri dan menemukan solusi.

Sementara tidak apa, jika mungkin sebelumnya kamu terlambat menyadari bahwa ada tempat paling sepi, tapi mampu memberi ketentraman hati. Setidaknya saat badai menerpa, kamu tidak benar-benar kesepian lantas pelan-pelan mati. Setidaknya saat badai menerpa, hanya air matamu yang jatuh bukan keimanan.

Di dalam buku “Sesekali Kita Butuh Sepi” karya Ikhsanudin aku juga belajar; membantu diriku sendiri. Beberapa hal yang disampaikan buku tersebut yaitu; Ambillah jeda untuk mengumpulkan lagi semangat, mengambil hikmah, dan menguatkan langkah. Hidup butuh sepi agar kita mampu mendengar lebih jelas apa kata hati.

***

Lain lagi dengan seorang rekan kerja pernah menyampaikan padaku, “Begitu melihat betapa damainya itu (sepi), bahkan Anda tidak ingin berurusan dengan orang lain.” Bukan bermaksud untuk tidak menerima bantuan orang lain, tapi memang diri lebih tenang dengan menyelesaikan masalah di atas kaki sendiri. Lagi pula tidak menutup kemungkinan suatu saat aku akan berbagi cerita tentang masalahku, tapi hanya kepada orang-orang tertentu yang akan memahami dan peduli. Sesekali hidup butuh sepi untuk tahu siapa yang sebenarnya selalu hadir dan menemani. Hidup perlu sepi untuk mengerti jika Dia selalu ada di sisi.

Baca Juga  Dari Siapa?

Benar bahwa hanya Dia (Allah) yang selalu ada di sisi. Bahkan keramaian yang dihitung dari banyaknya teman, aktivitas, dan waktu yang sudah terlampaui, bagiku tidak mampu mengatasi kerisauan hati. Apalagi teman yang sesungguhnya hanya bisa dihitung jari kiri, notifikasi media sosial sepi kecuali ramai soal pekerjaan menanti. Dunia ini melelahkan dan bisa membuat kita terasingkan.

Semua terasa lelah tanpa lillah. Hadiah-hadiah dari semesta telah banyak membuat terlena. Impian-impian fatamorgana melelahkan jiwa raga. Sesekali menepilah di dalam sepi dan temukan alasan terkuat mengapa kamu harus memulai lagi. Sebaik, seperfect apapun rencanamu nanti, libatkan Allah ya. Mau kan jadi manusia yang terus ditolong olehNya? Yuk jadi baik.

Editor : Siti Robikah

Bagikan
Post a Comment