f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dinar dan dirham

Rasisme dalam Perspektif Al-Qur’an

Rasisme diartikan sebagai suatu kepercayaan atau doktrin bahwa perbedaan-perbedaan inheren yang terdapat pada berbagai ras menentukan pencapaian budaya atau individu. Biasanya melibatkan ide bahwa rasnya sendiri yang paling superior dan berhak memerintah ras lainnya.

Dalam pengertian lain disebut; suatu kebijakan, sistem pemerintah dan sebagainya yang dikembangkan dan didasarkan pada doktrin seperti itu; diskriminasi. Rasisme dapat pula ditafsirkan sebagai perasaan benci atau tidak toleran terhadap ras lain. Orang yang melakukan perbuatan rasisme tersebut disebut sebagai seorang yang rasis.

Rasisme merupakan perbuatan yang tidak terpuji, tidak berbudaya, dan tidak beradab yang harus dikikis sampai habis. Dalam konteks NKRI, rasisme sangat tidak sesuai dengan sila kedua pancasila yang berbunyi “kemanusian yang adil dan bearadab”.

Rasisme Masih Eksis  

Rasisme dewasa ini ternyata belum juga berakhir. Masih segar dalam ingatan kita ketika terjadi dugaan kasus rasisme di Minnepolis, Amerika Serikat. Polisi berkulit putih bernama Derek Chauvin menindih dengan keras leher George Floyd seorang warga AS keturunan Afrika (berkulit hitam) menggunakan salah satu lutut kakinya selama hampir 9 menit.

Beberapa kali ia sempat berteriak aku tidak bisa bernapas namun tidak dihiraukan oleh polisi tersebut. Akhirnya membuat Floyd tidak bisa bergerak lagi lalu meninggal dunia.

Kasusnya bermula ketika polisi menangkap George Floyd yang diduga menggunakan uang palsu untuk bertransaksi jual beli beli rokok. Kematian tragis Floyd membakar emosi massa baik yang berkulit hitam maupun yang berkulit putih.

Di sosial media hashtag #blacklivesmatter menjadi tranding topic di berbagai negara. Di Amerika unjuk rasa secara besar-besaran yang diwarnai kerusuhan di berbagai kota selama berhari-hari. Seperti di kota-kota Minneapolis, Washington, New York dan California.

Rasisme Memicu Kemarahan Massa

Massa dalam jumlah besar melancarkan demonstrasi. Terjadi pembakaran dan kerusuhan, massa melempari polisi dengan batu dan secara anarkis memecah kaca toko-toko dan menjarah barang-barang yang ada di dalamnya. Melihat kejadian tersebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump naik pitam. Sampai-sampai ingin menurunkan 10.000 tentara untuk mengamankan Washington D.C sekaligus menghentikan gelombong demonstrasi antirasisme yang sangat brutal ini.  Walaupun pada akhirnya keinginan Trump tersebut tidak terlaksana karena ditentang oleh Menteri Pertahanan AS Mark Esper, Jaksa Agung Bill Barr dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Mark Milley.

Aksi memprotes rasialisme dan kematian Floyd kemudian melebar ke berbagai negara, Kanada, Inggris, Spanyol, Belanda, Jerman dan Belgia. Ribuan orang menggelar aksi yang sama di Brasil, Afrika Selatan, Australia hingga sampai ke benua Asia, Hongkong, Korea Selatan, Jepang dan sejumlah negara lainnya.

Allah Melarang Perbuatan Rasial

Sudah sejek 1500 tahun yang lalu Allah telah  melarang dan  memperingatkan manusia untuk tidak bertindak rasial. Di dalam (Q.S Al-Hujurat:11) Allah berfirman:  “Wahai orang-orang yang beriman. Janganlah suatu kaum mengolok-ngolok kaum yang lain karena boleh jadi mereka (kaum yang diperolok-olok) itulebih baik dari mereka (yang mengolok-ngolok) dan jangan pula perempuan-perempuan megolok-ngolok perempuan lain karena boleh jadi perempuan yang diperolok-olok itu lebih baik dari perempuan yang mengolok-ngolok. Janganlah kamu saling mencela dan janganlah memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang (buruk) fasik setelah beriman, dan barang siapa yang tidak bertobat maka mereka itu termasuk orang-orang yang zalim.”

Melalui ayat tersebut Tuhan melarang perbuatan merendahkan, melecahkan, mengolok-ngolok, menghina dan mengejek individu atau kelompok. Hal itu sesuai kata Al-qur’an, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada yang mengolok-ngolok. Klaim superioritas ras adalah perbuatan tidak etis, tidak bermoral dan tidak terpuji. Rasisme sangat tercela dan harus dikecam karena sangat bertentangan dengan fitrah manusia.

Saling Mengenal dan Memahami Perbedaan

Dalam ayat lain Allah juga berfirman; “Wahai Manusia, sesungguhya Aku menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah, ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal (Q.S Al-Hujurat:13).

Dalam ayat tersebut Allah menggunakan kata (wahai manusia) bukan kata (wahai orang-orang yang beriman) yang bermakna Allah menyeru kepada seluruh umat manusia, baik ia orang yang bertuhan (teis) maupun orang yang tidak bertuhan sekalipun (ateis) untuk saling mengenal dan saling memahami perbedaan.

Sudah menjadi kodrat dan iradat-Nya, Tuhan menciptakan manusia bermacam-macam. Perbedaan warna kulit dan etnis harus kita terima sebagai sosok identitas untuk saling menghargai, bukan untuk saling mencaci dan memusuhi. Di hadapan Tuhan semua manusia atau kelompok manusia (ras, etnis, suku atau bangsa) adalah sama.

Kedudukan dan derajat manusia tidak berbeda di sisi Tuhan. Kemulian seorang manusia tidak dapat diukur dan ditentukan melalui asal usul, keturunan, ras, etnis atau bangsanya. Kemuliaan dilihat dari derajat dan kualitas ketakwaan kepada-Nya. Dalam pandangan lebih luas rasisme dalam segala ekspresi, bentuk, dan manifestasinya harus dijauhkan dan tidak dilakukan dalam pergaulan antar etnis, antar bangsa, dan antar manusia.

Bagikan
Post a Comment