Seorang Gadis dan Ketakutan Ibunya Saat Dia Sedang Solo Traveling
“Menjadi anak perempuan apalagi di posisi anak pertama, berarti harus siap belajar menjadi dewasa bersama Sang Ibu”. Setidaknya, seperti itulah hasil parafrase dari secuil kutipan pada judul Drama Ibu dan Putrinya dalam buku “Cinta Untuk Perempuan Yang Tidak Sempurna” yang pernah kubaca dari karya Mbak Najeela Shihab.
Rasanya, ketika membaca buku tersebut, aku serasa menyusun kembali serpihan-serpihan puzzle kenangan bersamanya, siapa lagi kalau bukan bersama Ibuku. Bersama Ibu, seorang perempuan hebat yang telah melahirkanku dan menemani di setiap detik pertumbuhanku, membersamaiku dalam belajar melihat dunia dan selalu memberikan semangat agar pantang menyerah untuk menaklukkannya.
Aku sadar, sangat sadar sekali. Bahwasanya Ibuku bukan sosok Ibu yang sempurna, yang beliau lakukan pun banyak sekali kurangnya, toh sebelumnya beliau belum pernah berperan menjadi Ibu. Kita sama-sama belajar memainkan peran kita masing-masing. Beliau sebagai Ibu dan aku sebagai anak.
Kisah ini dimulai semenjak aku sangat suka bepergian atau jalan-jalan, istilah sekarang yakni traveling. Dalam Al-Qur’an pun, jalan-jalan ini juga dianjurkan loh seperti dalam Q.S. Al-Mulk ayat 15, yang artinya “Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. Dalam Q.S. An-Naml ayat 69, yang artinya “Katakanlah (Muhammad), “Berjalanlah kamu di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa” dan beberapa ayat lainnya. Tentunya, jalan-jalan yang dimaksud dalam ayat di atas tidak hanya sekadar jalan-jalan saja; tetapi harus disertai dengan niat berbagi manfaat dan mengambil pelajaran di setiap perjalanan tersebut.
Sungguh, butuh bertahun-tahun lamanya untukku menyakinkan Ibuku bahwa anaknya baik-baik saja saat melakukan traveling. Apalagi obsesiku yang akhir-akhir ini lebih memilih untuk solo traveling, yakni bepergian secara sendiri dibandingkan bersama-sama rombongan.
Dengan Solo Traveling aku banyak menemukan hal baru. Seperti halnya, belajar tentang self management, yakni kemampuan pada diri untuk memprioritaskan tujuan, memutuskan apa yang harus dilakukan dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan tindakan yang diperlukan untuk diri sendiri.
Di saat bepergian sendiri, otomatis aku dipaksa belajar untuk mengobrol dengan orang lain saat di kendaraan ataupun di stasiun, seperti bertanya hal basa-basi misalnya, ataupun meminta tolong orang untuk mengambil foto diriku sejenak; sebaliknya aku pun menawarkan untuk mengambilkan foto bagi orang tersebut atau keluarganya. Aku pun lebih banyak meluangkan waktu untuk mengenal diriku sendiri ketika Solo Traveling. Belajar merenung serta memaafkan pada apa-apa yang sudah terjadi dan terlewati.
Awalnya, aku rasa hal seperti itu sangat sulit dan menakutkan. Namun, setelah ku jalani, semuanya tak semenakutkan itu. Aku menikmati waktu sendiriku, aku bertanggungjawab penuh terhadap kepercayaan-kepercayaan Ibuku untuk menjaga diri baik-baik. Berkabar, saat sudah bertemu temanku, saat sudah sampai di tujuan, saat sudah menyelesaikan makan, dan lain-lain yang bisa mengobati kekhawatiran beliau.
Kemudian, setiap selesai bepergian, aku selalu menyempatkan bercerita terkait hal-hal yang aku dapatkan dan jumpai saat traveling. Saat aku ditolong orang lain di kereta, saat aku tiba di stasiun dan sudah dijemput oleh temanku; saat aku mengunjungi beberapa tempat entah itu gunung, pantai, museum, dan lain sebagainya . Aku pun banyak belajar tentang apapun di sana,.
Akhirnya aku sadar. Kuncinya, cuma tekad, nekat, dan niatkan untuk beribadah kepada Allah Swt. saja sih ketika traveling tuh. Ibu yang berat hati memberikan restu dari sejak aku SMP hingga menapaki dunia setelah perkuliahan.
Pelan-pelan, kemudian beliau mulai terbiasa berteman dengan kenekatanku. Cerita-ceritaku yang kadang beliau tanggapi dengan cuek dan seperlunya saja itu pun kini mulai sedikit-sedikit membuka kepercayaan beliau terhadapku. Lagi-lagi, kita harus berusaha saling belajar untuk tetap bisa berusaha memahami dan menghargai satu sama lain.
Sebagai anak, sangat mungkin bahwa aku belum bisa memahami secara utuh psikologi Ibu. Butuh observasi yang begitu panjang, mungkin seumur hidup. Ibu sebagai orang tua pastinya memiliki pemikiran atau pandangan yang berbeda dalam mengekspresikan rasa cintanya. Ibu yang terkungkung oleh sebuah tanggung jawab dan perspektif orang lain terhadapnya.
Hal ini kemudian bersinggungan dengan aku, seorang anak yang berjuang untuk mendapat keputusan dan keinginan yang bebas. Mungkin beliau merasa tidak rela saja ketika melihat sang anak ini berbeda perilakunya dengan dirinya di masa lalu di umur yang sama.
Seorang gadis yang sedang menikmati indahnya mencari ilmu Allah dan luasnya pergaulan; sedangkan Sang Ibu yang mulai merasa bahwa semakin ke sini ia lantas semakin kesepian ditinggalkan oleh anak-anaknya. Apapun yang Ibu lakukan, aku yakin, itulah bentuk cinta yang bisa beliau tunjukkan terhadap anak-anaknya; terutama untuk anak gadis sulungnya ini. Aku sayang Ibuku.
Mahasiswi STIQSI Al-Islah Lamongan yang suka menulis dan traveling. Instagram @neviaika
