f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perintah salat

Memaknai Ulang Perintah Salat

Salat merupakan ibadah tertua. Dalam banyak riwayat, menunjukkan bahwasanya Nabi Muhammad Saw. bersama istri beliau, Siti Khadijah dan Imam Ali R.a. telah melakukan salat sebelum beliau dakwah terang-terangan. Itu artinya, sebelum Rasulullah ber-mi’raj, di mana menurut beberapa riwayat, Allah mewahyukan salat pada peristiwa tersebut.

Thomas Mc Elwain—salah satu peneliti Bibel—merasa yakin telah menemukan ayat-ayat dalam kitab nasrani petunjuk-petunjuk gerakan yang mirip dengan tata cara salat orang muslim (Bagir, 2021). Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda, “Tidak ada baiknya suatu agama yang tidak ada salatnya.” Hal tersebut mengindikasikan bagaimana pentingnya salat dalam kehidupan manusia secara umum.

Bagaimana Salat Kita Selama Ini?

Namun, faktanya salat yang harusnya menjadi sesuatu yang gamblang—banyak orang tahu bahwasanya itu adalah suatu kewajiban—justru mengandung banyak kekaburan. Seperti halnya kematian. Imam Ali R.a. pernah berkata, “Saya tidak pernah melihat sesuatu yang haqq tetapi dianggap bathil seperti halnya kematian.”

Jika, ada orang meninggal, kita seolah hanya mengantarnya saja, tanpa berpikir bahwasanya kita punya giliran juga suatu saat nanti. Banyak umat muslim yang mudah sekali meninggalkan rukun Islam yang satu ini. Atau kalaupun seorang muslim jalankan, hanya sekadarnya saja, sebatas dalam rangka menggugurkan kewajiban.

Al-Qur’an sendiri tidak kurang dari 234 ayat menyinggung tentangnya. Beberapa manfaat salat yang bisa kita temukan di dalam Al-Qur’an antara lain. Pertama, salat dapat mencegah dari perbuatan buruk, “Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).”  (QS. Al-‘Ankabut [29]: 45).

Kedua, sebagai sarana meminta pertolongan kepada Allah, “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 45). Ketiga, sebagai pelipur lara, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaa Haa [20]: 14).

Baca Juga  Benarkah Menikah Itu Ibadah Terpanjang dalam Hidup ?

Meski semua ibadah kepada Allah adalah baik, salat adalah ibadah yang terbaik. Demikian dinyatakan oleh Al-Qur’an, Hadis, ungkapan para ulama dan sufi (Bagir, 2021). Bahkan dalam QS. Al-Mudattsir [74]: 42-43 dikisahkan ada orang-orang yang dimasukkan ke dalam Saqar—suatu lembah di neraka Jahanam—karena tidak mengerjakan salat.

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat.”

Sementara itu, dengan tegas Rasulullah menyatakan, “Tidak ada pembeda antara orang mukmin dan orang kafir kecuali salat.” Di kesempatan lain, disabdakan pula oleh Rasulullah, “Salat adalah pilar agama dan yang paling diperhitungkan dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Jika baik salatnya, baiklah seluruh amalnya. Jika buruk salatnya, buruk pulalah amalnya yang selebihnya.”

Nah, kita mungkin bertanya-tanya jika salat sedemikian pentingnya, mengapa kita seolah-olah tak melihat banyak manfaat salat bagi orang-orang yang melakukannya? Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam—yang di dalamnya banyak orang melakukan salat—justru tertinggal dalam hal-hal yang baik dan sebaliknya menjadi pelopor hal-hal buruk, seperti korupsi, pencurian, tawuran, pencemaran lingkungan hidup, dan lain sebagainya.

Apa mungkin Allah Swt. keliru memberi porsi mengenai salat ini? Mumpung masih di bulan Syawwal, belum lama kita berpisah dengan Ramadan, ada baiknya kita menggali lagi bagaiamana sebenarnya salat itu.

Salat!

Secara bahasa, ‘salat’ bermakna doa. Sedangkan secara istilah, ‘salat’ bermakna doa yang disampaikan dengan tata cara tertentu. Dalam bahasa syariah, inilah yang disebut ash-shalawaat al-qaa’imah. Kata ‘salat’ juga memiliki akar kata yang sama dan hubungan makna dengan kata ‘shilah’, yang bermakna ‘hubungan’. Seperti misal, ‘shilah ar-rahmi’ bermakna ‘hubungan kasih-sayang’. Dalam kaitannya dengan ‘shilah’ ini, ‘salat’ bermakna hubungan manusia dengan Allah Swt.

Baca Juga  Bacaan Imam Salat Khas Pedesaan

Jika, kita mencermati perintah salat di dalam alquran, ada setidaknya dua istilah perintah salat. Ada yang memulainya dengan kata ‘aqiimuu’, misalnya ‘aqiimuu ash-shaalah’, dan ada pula yang tidak dimulai dengan ‘aqiimuu’, antara lain:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah [9]: 103)

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 56)

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.”  (QS. Al-Kautsar [108]: 2)

Pada ayat terakhir yang disebutkan, ada yang menafsirkan, laksanakan salat ‘Id, baru menyembelih kurban. Akan tetapi, sebagian ulama berpendapat lain. Sebab, jika Allah Swt. hendak memerintahkan salat dalam pengertian khusus, Allah Swt. menggunakan ungkapan “aqiimii shalaah”, sedangkan di ayat tersebut kalimatnya tidak demikian.

Menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam kitab tafsirnya, Al-Mishbah, kata ‘qaama’ menggambarkan terlaksananya sesuatu dengan sempurna. Sehingga ungkapan aqiimuu shalaah artinya melaksanakan salat secara sempurna: rukunnya, syaratnya, khusyuknya, sunnah-sunnahnya dan lain-lainnya. Demikianlah makna salat, bukan hanya sekadar mendirikan salat. Maka dari itu, Allah tidak mengatakan wailul lil muqiimiina shalaah, akan tetapi wailu lil mushalliin. Artinya banyak yang salat tetapi celaka, karena tidak yuqiimuu ash-shalaah.

Kita memerlukan pengajaran tentang salat yang benar, tata cara lahiriah salat yang sempurna, namun di sisi lain kita juga memerlukan  pembicaraan tentang makna batin dan spiritualitas salat, agar salat berfungsi sebagaimana mestinya: mencegah dari perbuatan mungkar, sebagai sara permintaan tolong kepada Allah Swt. dan sebagai pelipur lara.

Bagikan
Post a Comment