f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
makna syukur

Memahami Makna Syukur dari Bapak Pengantar Paket

Sore itu, setelah hujan deras mengguyur Kota Surabaya, saya baru menyadari adanya notifikasi dari sebuah e-commerce di gawai.  Tertulis bahwa paket yang berisi ciput hijab sudah sampai di kos sejak siang tadi. Saya turun dan menyusuri tempat biasa paket diletakkan. Namun, hasilnya nihil. Akhirnya, saya memutuskan untuk bertanya pada seorang ibu yang berjualan soto di depan sebuah penginapan samping kos untuk memastikan apakah ada paket salah alamat atau ada kurir yang telah mengantar paket saat siang tadi. Ibu itu menjawab tidak ada dan saya pun mulai sedikit khawatir karena sebagai anak kos tentunya sepeser uang adalah suatu hal yang berharga.

Gerimis dan semilir angin yang dingin masih terasa, tiba-tiba datang seorang pengendara motor yang berhenti tepat di depan kos. Pengendara motor itu ternyata adalah seorang pria yang sudah berumur dengan rambut basah terkena air hujan dan mantel yang juga basah kuyup.

“Mbak, apa sedang menunggu paket ya? Maaf ya mbak tadi saya baru memotret paketnya dulu di depan sini dan mengirimkan pesan di aplikasi. Lalu saya mengantarkan paketnya ke tempat-tempat yang pakai Cash On Delivery dahulu, kata teman saya didahulukan (Cash On Delivery) saja karena lebih berisiko dan harus bertemu yang bersangkutan untuk pembayaran.”

Bapak itu juga bercerita kalau dahulu pernah ada pengalaman bahwa ia pernah tertipu alamat palsu. Tak lama setelah itu, bapak tersebut menitipkan kunci motornya kepada saya dan mengantarkan paket ke penginapan di sebelah kos. Saya tertegun, bagaimana bisa bapak itu menitipkan kunci motornya, padahal motornya saja tepat di hadapan saya. Azan Magrib sudah terdengar, saya masih menunggu bapak itu hingga beliau keluar dari penginapan tersebut. “Terima kasih ya, mbak. Saya mau pamit pulang.” “Nggih, matur suwun, Pak. Hati-hati.”

Baca Juga  Jagalah Orang Tuamu, Mereka Adalah Pintu Surga yang Paling Tengah

Saya menaiki tangga menuju kamar dan merenungi sikap dan tindakan bapak tadi. Bapak itu benar-benar telah mengajarkan saya banyak hal. Di usianya yang sudah tua, bapak itu masih harus menghadapi terik matahari yang menyengat di Kota Surabaya atau derasnya hujan disertai dingin yang menusuk. Ia harus bekerja demi mencukupi kebutuhan rumah tangga dan rasa lapar di perut anak-anaknya yang menunggu di rumah. Tentunya bapak itu masih harus pulang dengan jarak yang cukup jauh dari rumahnya setelah mengantar paket-paket itu. Waktunya pun pasti tidak menentu, bisa saja jauh lebih larut dari azan Magrib barusan. Saya sangat menghargai jerih payah bapak tadi yang rela bekerja di usia senja dengan cara yang halal dan baik, di mana saat ini masih ada orang-orang yang memilih cara mudah, namun tidak berkah.

Bertemu dengan bapak tadi mengajarkan saya tentang arti syukur. Sering kali, kita sebagai manusia tak menyadari adanya nikmat sehat dan sempat. Nikmat sehat yang mana kita masih Tuhan berikan kesehatan agar dapat menebarkan kebaikan dan memenuhi kewajiban kita, baik menjadi seorang hamba dan manusia. Kesehatan adalah sesuatu yang sering kita lupakan kehadirannya, namun akan kita ingat ketika kita sudah merasakan sakit. Kesehatan ialah hal yang utama, di mana kita akan merasakan nikmat-nikmat yang lain apabila nikmat sehat sudah kita capai. Setelah mensyukuri adanya nikmat sehat, kita juga harus menjaga nikmat sehat yang telah diberikan oleh Tuhan. Menjaga nikmat sehat bisa kita lakukan dengan cara berolahraga secara rutin, menjaga pola makan, dan istirahat yang cukup.

Selain nikmat sehat, nikmat sempat juga harus selalu kita syukuri. Bapak tadi masih memenuhi kewajibannya di usia yang sudah menua demi mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Selagi masih ada waktu, kita harus memberikan hal yang terbaik untuk orang-orang yang telah berjasa di kehidupan kita. Orang tua telah berjuang untuk membesarkan kita dan berharap agar masa depan anak-anaknya jauh lebih baik. Sebaliknya, sebagai anak tentunya kita harus menghormati orang tua dan berusaha melakukan yang terbaik untuk membanggakan kedua orang tua kita.

Baca Juga  Menjadi Pemimpin Perempuan di Masa Covid-19

Bapak tadi juga mengajarkan saya sebuah pernyataan bahwa seluruh harta kekayaan adalah titipan dari Tuhan. Beliau menitipkan kunci motor beserta motornya kepada saya, seseorang yang baru saja ia kenal. Beliau terlihat sangat memercayai saya dengan tersenyum hangat saat menitipkan kuncinya tadi. Saya tersadar. Mengapa saya harus mencemaskan sebuah paket ciput jilbab tadi? Toh, nantinya apabila paket itu memang ditakdirkan menjadi milik saya, ia pasti akan datang juga. Paket tadi pun akhirnya memang ditakdirkan datang bersama bapak tadi dan malah memberikan pelajaran berharga kepada saya tentang berbagai hal.

Banyak manusia yang masih bersikap sombong atas segala harta kekayaan, jabatan, rumah, kendaraan, dan lain hal yang sifatnya duniawi. Apakah itu semua memang benar-benar milik kita seutuhnya? Tentu saja tidak! Tuhan dapat dengan mudah mengambil semua kekayaan yang sudah kita kumpulkan sejak lama. Semua harta yang kita miliki saat ini sifatnya hanya sementara. Pada hakikatnya, harta dan kekayaan tidak selalu diiringi dengan rasa kebahagiaan. Bahagia adalah sederhana. Dengan kita mensyukuri apa yang sudah dianugerahkan oleh Tuhan dan bagaimana cara kita untuk mensyukuri segala bentuk nikmat itu sendiri. Terima kasih, Pak atas pertemuan singkat hari itu. Pelajaran tentang paket syukur ini akan selalu saya ingat dalam benak.

Bagikan
Post a Comment