f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
saya otg

Ini Dia, Obat Penyakit Tak Percaya Diri Menulis

Saat menjadi pembicara acara Webinar of Communication Festival yang diadakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Darussalam (Unida), Gontor, Ponorogo (26/12/20) saya ditanya seorang peserta. “Pak, saya itu kalau mau menulis kok tidak percaya diri ya? Bagaimana cara menyikapinya? Juga tipsnya”. Acara yang juga menampilkan  pembicara dari alumni Pondok Modern Darussalam Gontor dan penulis buku Negeri Lima Menara,  Ahmad Fuadi, tersebut  berlangsung secara luring dan daring.

Tentu saya sangat antusias menjawabnya. Lebih antusias karena saya punya pengalaman dengan apa yang dialami oleh penanya – dan ini sangat mungkin para penulis pemula juga menghadapinya .  Sebagai pemula, merasa tidak percaya diri itu wajar.

Para penulis pemula cenderung malu jika tulisanya dibaca orang lain. Ada di antaranya yang menulis dengan sembunyi-sembunyi. Ada yang tetap  terus belajar. Bertanya sana sini. Mencari tahu sana sini. Tetapi tak sedikit yang akhirnya menyerah. Pilihannya cuma dua; lupakan menulis atau tetap menulis. Jika Anda tetap berniat menulis tulisan ini mungkin cocok untuk dijadikan pemicu.

Apakah  saat saya menjadi penulis pemula juga mengalami hal serupa? Pasti. Bahkan saat saya membaca buku kos “Wisma Kartika Putra”, Kentingan, Jebres  (1990) saja harus sembunyi-sembunyi. Takut dibilang sok intelek, sok pintar, sok hebat dan sok-sok yang lain. Saya juga banyak menghabiskan waktu membaca di perpustakaan pusat kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) pada sore hari, saat teman-teman saya istirahat.  Tapi setelah saya merenung saya berpikir, “Mereka yang komentar sinis itu jangan-jangan sedang meruntuhkan niat saya untuk bisa menulis?” Jadi dalam posisi ini saya pernah mengalami yang Anda rasakan, bukan?

Ini Saja

Lalu apa yang harus saya lakukan? Saya cuek saja. Mereka kan cuma bisa berkomentar, bahkan sinis. Dalam hal ini saya jadi ingat pesan seorang motivator bernama Andre Wongso, “Biarkan orang menghinamu. Tetapi kamu jangan sekali-kali menghina dirimu sendiri”.

Baca Juga  Menulis: Medium Dakwah, Terapi, dan Pengembangan Diri

Maksudnya, biar saja orang mau komentar apa saja, toh apa yang akan kita capai kita sendiri yang menentukan? Jadi kritik biarlah masuk ke dalam pikiran kita. Soal keputusan ada di tangan kita sendiri. Soal usulan, kita boleh mendengarkan masukan orang lain tetapi keputusan tetap ada di tangan kita sendiri, bukan?.

“Duh, saya kalau soal itu tidak mampu”. Ini contoh seseorang yang sedang menghina diri sendiri. Apakah Anda pernah mengalaminya juga? Misalnya, “Menulis kok sulit ya.  Kayaknya saya tidak mampu?” Ya kalau begini lupakan saja menulis dari pada nanti jadi jerawat karena terus dipikir. Itu artinya ia sudah menjadi orang yang punya mental lemah, dalam mencapai sesuatu.

Maka, saya wajib percaya diri waktu itu. Dengan semampunya saya menulis. Mungkin sudah “garis tangan”, tulisan pertama kali yang saya tulis dengan memakai mesin ketik  manual merek KOFA (saat membelinya saya masih duduk di bangku  SMP) dimuat harian Jawa Pos (Mei 1991). Tulisan berjudul “Peran Ganda Wanita”. Waktu itu dunia terasa mau runtuh. Bagaimana tidak? Saya yang masih ingusan, sering diejek, tidak percaya diri akhirnya bisa menembus harian prestisius dari Jawa Timur waktu itu. Seneng campur cemas.

***

Apa saya langsung percaya diri dengan ini? Saya malah takut. Takut banyak orang semakin  mengolok-olok saya.  Ya saya itu juga siapa? Banyak orang pintar. Minimal dalam mengolah wacana saat berbicara. Bicara meledak-ledak dengan teori ini dan itu. Tapi setelah saya simpulkan, jangan-jangan mereka hanya pandai berwacana tetapi tak pandai menulis. Ini yang memantapkan saya untuk percaya diri.

Tapi nanti dulu. Setelah tulisan saya dimuat itu, saya tidak mengabarkan ke orang lain. Ini penyakit saya waktu itu. Ya itu tadi malu sebagai penulis pemula. Hampir 1 bulan saya tidak cerita ke teman-teman. Hingga suatu saat banyak orang bertanya dan mencari siapa sosok penulis tersebut akhirnya rahasia terbongkar. Akhirnya saya diketahui sebagai orang yang menulis di harian tersebut. Saya menjadi agak kikuk bersikap.

Baca Juga  Self Love dari Filosofi Burung Elang

Banyak orang mengelukan saya, tetapi saya memahaminya karena beruntung Jawa Pos memuat tulisan saya.  Bagaimana tidak? Tulisannya jelas tidak runtut dan logis, tetapi dimuat. Ya  minimal kalau saya baca saat ini.  Mungkin untuk ukuran waktu itu seorang mahasiswa yang bisa dimuat di koran sudah prestise.

Saya lalu tidak bisa menghindar disebut sebagai penulis. Dari sini rasa percaya diri saya semakin tumbuh. Jadi, percaya diri tumbuh bisa kita perjuangan atau muncul karena dorongan situasi sekitar diri seseorang itu.

Apakah setelah itu tulisan-tulisan saya terus bisa dimuat media? Ya tidak. Berdasar dokumen dalam buku tulis (saya selalu mencatat setiap pengiriman naskah) pernah 20 kali berurutan media menolaknya. Bayangkan ya? Berurutan. Jadi kalau ada orang yang hanya ditolak media 5-10 kali bagi saya itu sangat kecil. Yang penting yakin dan tekun.

Pengalaman Lain

Ada pengalaman lain? Ada. Ini pengalaman saya dalam meruntuhkan ketidakpercayaan diri dalam menulis buku. Saya punya draft  buku yang kelak akan saya beri judul Pengantar Ilmu Komunikasi. Masih berupa draft. File naskah itu pernah hilang bersama laptop saya. Saya ketik ulang.  Jadi menyusunnya sangat lama. Dua energi harus saya salurkan. Mendadak saya lihat sudah ada banyak buku-buku sejenis. Agak lemas. Bahkan, karangan para guru besar, lagi. Bagaimana ini? Lalu bingung.

Di tengah kebingungan saya jadi ingat kasus tulisan saya yang dimuat Jawa Pos di atas. Pokoknya nekat. Lalu saya lihat buku-buku karya para guru besar tersebut. Ternyata isinya banyak yang ilmiah dan terlalu tekstual.

Lalu saya putuskan untuk mengambil sudut pandang lain. Buku saya bisa ilmiah tetapi juga populer. Banyak contoh. Ditulis dengan bahasa tutur. Mengalir seperti orang bercerita. Maka, saya kirim naskah draft buku saya yang ke-16 tersebut ke Rajawali Pers ,Jakarta. Saya beri judul Ilmu Komunikasi Ilmiah dan Populer. Ternyata mereka cepat menerbitkannya dan bahkan tak sampai 1 tahun sudah cetak ulang.

Baca Juga  Menulislah, Maka Anda Akan Masuk Surga

Dari situ saya juga belajar bahwa setiap tulisan itu punya pasar pembaca sendiri-sendiri, bukan? Jadi kenapa harus tidak percaya diri?  Penulis pemula juga punya pasar pembaca sendiri. Jadi, lebih baik percaya diri dari pada minder. Percaya diri akan terus membuat seseorang berkarya dan akan menjadi bijak dengan pengalaman lapangannya. Sementara minder membuat orang semakin nyungsep dan tak tahu apa yang akan diperbuat. Setuju?

Isoman hari ke-9 (1/1/21)

Bagikan
Comments
  • Setuju sekali, apapun buang terjadi harus percaya diri sambil meningkatkan pengetahuan dan senantiasa terus menulis

    Januari 5, 2021
Post a Comment