f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
disabilitas

We’re Perfect with Our Disabilities: Merajut Kesetaraan bagi Disabilitas

Tulisan ini bukan menguraikan seputar kajian disabilitas secara mendalam. Namun, penulis merasa bahwa penanganan kaum disabilitas perlu diiringi nilai yang berlaku pada masyarakat, salah satunya kesetaraan.

Diskriminasi terhadap kaum difabel terutama kaum disabilitas bukanlah hal yang jarang kita temui; bisa jadi karena rasa takut dan lain sebagainya padahal keberagaman hadir sebagai pelengkap agar sempurna. Sikap diskriminatif terhadap kaum disabilitas-difabel adalah sikap membedakan secara sengaja terhadap sesuatu yang berhubungan dengan keterbatasan fisik, mental, intelektual dan sensorik. Padahal bisa jadi mereka memiliki kemampuan yang lebih baik daripada kita.

Stigmatisasi dan diskriminasi terhadap kaum difabel-disabilitas harus hilang; semua manusia memiliki kebutuhan yang sama dari mulai pendidikan, ekonomi dan lain sebagainya bahkan kualitas hidup merekapun harus sama. Tidak ada yang membedakan antara kaum disabilitas dan kaum “normal”; contohnya kepada penyandang disabilitas sensori tuna netra, mereka tidak bisa melihat tapi tetap mereka membutuhkan pendidikan yang sama.

Namun kenyataannya masih banyak orang yang menomorduakan bahkan meremehkan kaum disabilitas-difabel.

Perbedaan difabel dan disable memiliki makna yang sedikit berbeda; difabel didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan dalam menjalankan aktivitas berbeda bila dibandingkan dengan orang-orang kebanyakan, serta belum tentu diartikan “cacat” atau disable. Sementara itu, disable didefinisikan sebagai seseorang yang belum mampu ‘survive’ dengan lingkungan sekitarnya sehingga menyebabkan disabilitas.

Memahami Ragam Jenis Disabilitas

Adapun disabilitas dibagi menjadi 4 yaitu yang pertama adalah :

Pertama, disabilitas fisik. Mengalami keterbatasan akibat gangguan fungsi tubuh, cacat dapat muncul sejak lahir atau akibat kecelakaan, penyakit atau efek samping dari pengunaan obat. Beberapa jenisnya antara lain lumpuh, kehilangan anggota tubuh akibat amputasi dan celebral palsy (lumpuh otak).

Kedua, disabilitas sensorik. Keterbatasan fungsi panca indera, yang termasuk disabilita ini antara lain  disabilitas wicara, rungu dan netra. Penanganan untuk disabilitas sensorik di antaranya adalah dengan mempelajari cara khusus berinteraksi dengan mereka; bisa dengan mengetahui jenis sentuhan dan nada bicara yang bisa kita gunakan untuk berkomunikasi.

Baca Juga  Biar Nggak Insecure, Ini Tipsnya!

Ketiga, disabilitas mental. Keterbatasan akibat gangguan pada pikiran atau otak. Disabilitas mental di antaranya bipolar, gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan mental lainnya. Mereka yang mengalaminya biasanya mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi, berpikir, mengambil keputusan dan mengutarakan isi pikiran mereka.

Penanganan yang bisa dilakukan kepada penyandang disabilitas mental adalah dengan tidak menempatkan mereka pada kondisi yang rentan menimbulkan stress atau tertekan. Selain itu, saat berinteraksi dengan mereka kita sebaiknya menggunakan penjelasan yang menyeluruh dan pemilihan kata yang mudah dimengerti.

Keempat, disabilitas intelektual. Disabilitas intelektual bisa ditandai dengan tingkat IQ (kecerdasan intelektual) di bawah standar rata-rata atau di bawah 70, kesulitan memproses informasi, dan keterbatasan dalam berkomunikasi, bersosialisasi, dan kepekaan terhadap lingkungan. Beberapa jenis disabilitas intelektual di antaranya, adalah down syndrome dan keterlambatan tumbuh kembang.

Penanganan diperlukan pada penyandang disabilitas intelektual di antaranya dengan memahami bahwa mereka butuh waktu, kesabaran dan perhatian yang lebih. Selanjutnya, usahakan agar lingkungan tidak menimbulkan stress atau tekanan bagi penyandang disabilitas. Karena lingkungan yang terlalu berisik atau ramai dapat menganggu konsentrasi mereka sehingga rentan menyebabkan stress.

Memahami berbagai ragam jenis disabilitas akan membuat kita lebih paham bagaimana cara agar kita mampu bersosialisasi dengan mereka, seperti kata banyak orang “beda penyakit beda obatnya”. Begitu juga dengan kaum disabilitas. Memahami gaya komunikasi ragam jenis penyandang disabilitas memudahkan kita untuk bisa lebih dekat dengan mereka.

Peran Pemerintah dalam Pemberdayaan

Program kebijakan pemerintah bagi penyandang disabilitas (penyandang cacat) cenderung berbasis belas kasihan (charity); sehingga kurang memberdayakan penyandang disabilitas untuk terlibat dalam berbagai masalah. Kurangnya sosialisasi peraturan perundang-undangan tentang penyandang disabilitas menyebabkan perlakuan pemangku kepentingan unsur pemerintah dan swasta yang kurang peduli.

Baca Juga  Cara Berdikari dengan Logika Ilahi

Pusat data dan indormasi departemen social pada tahun 2008 tercatat sebesar 74,4% penyandang disabilitas adalah pengangguran alias tidak bekerja, dan sebesar 25,6% penyandang disabilitas memiliki pekerjaan. Jenis pekerjaan yang kerap dijalani yakni petani, buruh dan jasa. Padahal, dalam pasal 53 ayat (1) UU Penyandang Disabilitas menyebutkan, pemerintah, pemerintah daerah, BUMN, wajib memperkerjakan paling sedikit 2% penyandang disabilitas dari jumlah pegawai, lalu pada ayat (2) disebutkan, mewajibkan perusahaan swasta untuk memperkerjakan paling sedikit 1% penyandang disabilitas dari jumlah pekerja.

Ada banyak faktor yang menyebabkan penyandang disabilitas tidak memiliki kesempatan untuk bekerja. Penyebab perusahaan tidak memperkerjakan penyandang disabilitas; karena perusahaan tidak memiliki informasi yang cukup mengenai bagaimana perusahaan dapat merekrut tenaga kerja penyandang disabilitas, khususnya yang memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Kebutuhan kaum difable di antaranya adalah dengan memberdayakan mereka atau memberi kesempatan bekerja, lalu adalah dengan menjadikan kaum difable sebagai konsumen berharga atau dengan memenuhi hak-hak mereka. Contohnya dengan menyediakan kebutuhan fasilitas publik dalam dua versi; yaitu versi yang diperlukan oleh orang pada umumnya dan versi yang dibutuhkan oleh orang difabel.

Selanjutnya adalah mengajarkan keberagaman pada anak sejak dini, pelajari apa kebiasaan para difabel dan meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan seikitar.

Kesetaraan Kaum Disabilitas di  Tengah Masyarakat

Peran masyarakat yang diperlukan bagi kaum disabilitas adalah dengan tidak mendiskriminasi mereka, dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk bersosialisasi dengan lingkungan.

Sebenarnya, bagi masyarakat awam yang tidak mengetahui mengenai disabilitas tidak harus bertindak gimana-gimana. Cukup hanya tidak mendiskriminasi kaum disabilitas-difabel, tidak menjauhi, mengasingkan, membedakan, mengejek atau bahkan menghina, karena pada sejatinya mereka sama dengan manusia pada umumnya.

Baca Juga  MAARIF Institute Gelar Diseminasi Publik dan Luncurkan Buku Kisah Inspiratif Pemimpin Pesantren

Mereka berhak untuk hidup layaknya manusia pada umumnya. Mereka berhak mengenyam pendidikan, mereka berhak memiliki kesempatan kerja bahkan mereka berhak memiliki kualitas taraf hidup yang tinggi, sebenarnya kita akan tetap hidup jika kita mendiskriminasi atau membedakan kaum disabilitas. Namun, untuk bisa mampu menjadi manusia yang memanusiakan sesama kita harus menerima keberagaman dengan tidak mendiskriminasi kaum disabilitas-difabel.

Hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah sikap diskriminatif kepada kaum disabilitas-difabel, kita bisa dengan perlahan dan bijak mengedukasi lingkungan sekitar ataupun orang terdekat bahwa di dunia ini banyak sekali keberagaman, tidak hanya keberagaman hewan melainkan juga manusia.

Ada yang memiliki bagian tubuh sempurna dan ada juga yang tidak, ada yang bisa mendengar, ada juga yang tidak bisa mendengar. Hidup akan lebih indah jika kita mau belajar untuk saling menerima dan mencintai keberagaman.

Kesetaraan dan kemerdekaan adalah hak setiap manusia, tidak menutupi bagi para penyandang disabilitas. Penerapan kesetaraan bagi kaum disabilitas bukan hanya sekedar mengetahui bahwa mereka ada di dunia ini, namun lebih dari itu. Kesetaraan adalah sebuah penerimaan dan kepedulian. Tidak membedakan, tidak mengejek, tidak mencela, dan tidak menganggap remeh.

Bisa jadi semua orang memiliki keterbatasan yang tidak mereka sadari, maka dari itu jadilah orang yang mampu menghargai dan mencintai keberagaman. Karena bisa jadi kemampuan yang mereka miliki belum tentu kamu miliki. a beautiful life will come true if you accept differences.

Bagikan
Comments
  • Edzard Kanza

    Masyaa Allah, sungguh banyak ilmu yg bisa di peroleh

    Agustus 17, 2021
Post a Comment