f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perkawinan

Lembaga Perkawinan, Orang tua, dan Anak Perspektif Perkawinan (Analisis Norma Hukum Keluarga Islam)

Berbicara perkawinan tentu tidak akan terlepas dari jenis manusia. Hakikat jenis manusia di muka bumi ini yang ditetapkan Allah SWT hanyalah laki-laki dan perempuan (ar-Rijal wa an-Nisa). Dalam Q.S an-Nisa ayat 1 Allah berfirman “Hanya Allah SWT yang mampu memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak”.

Namun bilamana ada jenis manusia selain laki-laki dan perempuan, sesungguhnya yang demikian itu adalah suatu penyakit, penyimpangan, dan laknat Allah SWT. Untuk menjamin keberlangsungan hidup manusia, Allah SWT memberikan karunia kasih sayang antara laki-laki dan perempuan.  Sehingga menyebabkan antara keduanya rela hati untuk hidup bersama secara baik (ma`ruf).

Dalam hadisnya nabi Muhammad SAW menerangkan bahwa hanya dengan izin Allah SWT, baik laki-laki dan perempuan ditetapkan telah memiliki fungsi dan peran masing-masing untuk saling melengkapi. Oleh karena itu lazimnya ketergantungan akan pasangan tersebut agar supaya kehidupan dunia ini lestari dan bahagia.

Muamalah Laki-Laki dan Perempuan

Dalam menjalani kehidupan, hubungan perilaku antara laki-laki dan perempuan itu dapat dibagi pada dua. Pertama, aspek pra-dewasa maksudnya waktu ini adalah saat dimana antara laki-laki dan perempuan sedang berada di tengah fase kehidupannya.

Sehingga masing-masingnya tengah mencari jati diri. Pada masa inilah pengawasan orang tua dibutuhkan. Agar fungsi control terhadap perilaku-perilaku menyimpang seperti, pergaulan bebas; pemakaian narkoba; putus sekolah; terguncang keimanan; dll.

Bilamana masa ini dapat dilalui dengan baik, seorang anak dimungkinkan dapat menatap masa depan yang lebih baik. Sebaliknya, ketika anak pada masa pra-dewasa ini terjebak pada hal-hal negatif, dapat diduga masa depannya terganggu.

Kedua, aspek dewasa (mampu bertanggungjawab terhadap diri sendiri) maksudnya adalah tahapan kehidupan seseorang yang sering diistilahkan oleh Islam sebagai baligh/berakal.

Hubungan perilaku antara laki-laki dan perempuan itu dapat dianalogikan seperti buah timun (perempuan) dan durian (laki-laki), maksudnya dimanapun posisi perempuan terhadap laki-laki akan membuat luka, rusak, bahkan hancur. Oleh karenanya, perempuan itu mesti sadar akan dirinya, kemudian orang tua yang memiliki anak perempuan harus menjaga amanah tersebut dengan rasa tanggung jawab. Di samping itu seorang laki-laki dalam pandangan Islam mesti bersikap bijaksana, maksudnya seorang laki-laki tidak boleh menjadi perilaku penghancur (destrucktion), karena perlu diingat suatu saat nanti seorang perempuan akan hadir dikehidupannya.

Aspek Hukum Laki-Laki dan Perempuan

Pelembagaan ikatan dalam suatu perkawinan adalah visi Islam untuk memulai kehidupan yang sejahtera, kaya akan norma, batasan, dan hukum sebagai pedoman menapaki kehidupan yang aman.  Sehingga interaksi dan hubungan antar individu di dalamnya mendapat porsi yang sesuai.

Sejatinya perkawinan menghendaki komitmen yang jelas dan terukur antar masing-masing pihak. Tiada lain agar perwujudan estafet amal dalam bentuk saling mengasihi, melengkapi, dan melahirkan seorang anak sebagai aset berlangsungnya amal dapat tercapai.

Peluang dari hubungan anak dalam berumah tangga menjadi menarik bilamana ditinjau dari nilai-nilai Islam. Karena Islam dengan tegas menyatakan bahwa bonus dari perkawinan dengan segala aspek di dalamnya adalah amal yang diganjar pahala oleh Allah SWT.

Anak adalah perwujudan dari orangtua, pendidikan, rumah tangga, dan lingkungannya. Perilakunya akan dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. Di samping itu hal ini juga linier, berhubungan langsung dengan keadaan suatu negara (state).

Kebisingan yang Tak Mengenakkan

Isu-isu kenakalan remaja, aborsi, pergaulan bebas, dll masih saja menjadi hal yang bising tak mengenakkan. Apalagi, dengan kultur sosial masyarakat muslim di Indonesia. Faktor-faktor tersebut dapat disederhanakan pada dua optik, pertama kualitas perkawinan, maksudnya perkawinan yang dilatarbelakangi oleh hal-hal yang dipicu perilaku menyimpang berpotensi diikuti generasi selanjutnya.

Dalam hal ini seperti nikah sirri (diam-diam) atau perselingkuhan, hamil diluar nikah, perjodohan yang miskin kaidah-kaidah Islam, dan pernikahan dini. Namun sebaliknya bilamana kualitas perkawinan yang sehat dan kuat dengan nilai dan proses yang kaya akan tuntunan Islam. Menjadi vitamin berlangsungnya kehidupan rumah tangga yang sehat dan kuat pula, inilah yang didambakan.

Kedua pertanggungjawaban yang sempurna, maksudnya dalam frame rumah tangga, setiap individu mesti sadar dan menyadari posisi, serta kontribusinya masing-masing. Hal ini menjadi keniscayaan bilamana tidak dibekali dengan kematangan jasmani dan rohani yang baik.

Manifestasi kemampuan jasmani ialah pada nilai paras (fisik). Sedangkan rohani ialah fikiran, perasaan, dan tanggungjawab yang bersumber dari hati (qolbu) yang suci.

Tumbuh dan kembang anak ditengah badai kehidupan yang akan dilaluinya, harus direncanakan, dipersiapkan, dan dipastikan oleh setiap orang tua. Hal ini dimulai dari status hukum anak, siapnya rumah sebagai sekolah, control yang disiplin, hingga mematangkan jati diri anak.

Agar kedepan, si anak mampu menjadi pemimpin bagi dirinya secara mandiri, terutama dapat membedakan yang hak (benar) dan bathil (salah). Sikap intervensi yang proporsional inilah kunci keberhasilan ayah dan ibu terhadap anaknya.

Menyucikan Keturunan dengan Menikah

Menikah ada tuntunan Allah SWT, umat Islam harus mendalami makna menikah bagi Islam yang dalam serta menyeluruh. Menikah bukan sekedar bersatunya laki-laki dan perempuan dewasa Akan tetapi sebagai dasar pengembangan syi`ar, nilai, dan awal terbentuknya lingkungan masyarakat yang sejahtera. Dengan menikah nasab (keturunan) menjadi jelas (hifzu an-nasab).

Salah satu rekomendasi yang relevan, yaitu dengan merujuk kembali ajaran Islam. Mulai dari bimbingan pra-nikah kepada setiap pemuda/pemudi untuk menyeleksi calon pasangannya. Memastikan satu-satunya legalitas hubungan tersebut melalui prosesi perkawinan, dan mendo’akan setiap pasangan dengan lafaz sakinah, mawaddah, serta rahmah.

Oleh karena itu, perilaku menyimpang akibat pemahaman yang sempit, semata disetir nafsu, dan keadaan sosial yang jauh dari cerahnya ajaran Islam.  Hal tersebut merupakan faktor yang terang benderang saat ini. Melalui paham nilai yang ada dalam hukum keluarga Islam yang paripurna ini (tauhid, tanggung jawab, dan amal) mesti dipahami oleh setiap mukallaf.

“Hidup secukupnya, berbuat baik sebanyak-banyaknya”
-Hanif Aidhil Alwana-

Editor : Vika

Bagikan
Post a Comment