f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
broken home

Broken Home: Efek dalam Asmara

Broken Home adalah kondisi keluarga tidak utuh atau penuh konflik. Biasanya karena adanya perceraian, ketidaklengkapan salah satu orang tua atau keduanya, atau masalah keluarga lainnya. Pengalaman masa kecil dalam keluarga yang tidak harmonis dapat memengaruhi cara seseorang menjalani hubungan asmara saat dewasa. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas efek broken home dalam asmara.

Dampak Psikologis dari Broken Home

Anak yang tumbuh dari keluarga broken home memiliki dampak emosional. Dampak itu dapat berupa rasa tidak aman, ketidakpercayaan, dan trauma masa kecil. Penelitian menunjukkan bahwa kehilangan figur orang tua di usia dini, terutama ibu, memiliki dampak signifikan pada perkembangan emosional anak laki-laki. Studi dalam Journal of Marriage and Family Therapy menyebutkan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa sosok ibu berisiko mengalami masalah dalam membangun kepercayaan dan kedekatan emosional saat dewasa. Mereka cenderung orang sekitarnya akan meninggalkannya, takut/ sulit berkomitmen, dan cenderung menghindari hubungan yang terlalu dekat.

Sedangkan pada perempuan, penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang tumbuh tanpa ayah cenderung mengalami “Father Absence Syndrome”. Hal ini yang dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk menjalin hubungan yang stabil dan sehat. Dalam Journal of Family Issues menunjukkan bahwa anak perempuan yang kehilangan sosok ayah lebih besar berpotensi gelisah dalam hubungan. Juga ketergantungan emosional, dan rendahnya harga diri. Mereka juga lebih cenderung terlibat dalam hubungan dengan pasangan bermasalah, karena ketidaktahuannya bagaimana sosok pria yang ideal seharusnya. Oleh karena itu banyak perempuan yang mencari kasih sayang pria dari pasangan, meskipun seringkali pasangan yang ia dapatkan justru toxic. Pasangan yang bermasalah dan manipulatif, sedangkan perempuan sudah merasa ketergantungan dan berpikir “kalau bukan dia, siapa lagi yang bisa menerimaku?”. Hal itu membuat sulit keluar dari hubungan yang tidak sehat.

Masalah Kepercayaan

Anak dari keluarga broken home menyaksikan orang tua bertengkar dan meninggalkannya. Pengalaman ini dapat merusak rasa secure mereka dan membuat mereka sulit mempercayai orang lain, termasuk pasangan. Mereka mungkin merasa bahwa tidak bisa mengandalkan cinta. Hal itu karena orang-orang yang paling dekat dan cintai, seperti orang tua justru meninggalkan dan mengecewakan mereka Akibatnya, mereka cenderung lebih curiga dan waspada dalam menjalin hubungan. Mereka mungkin kesulitan membuka diri secara emosional, takut ditinggalkan, atau bahkan menciptakan jarak emosional. Hal itu sebenarnya cara mereka untuk melindungi diri dari rasa sakit. Ada istilah “meninggalkan sebelum ditinggalkan”, dapat mewakili mereka. Hal ini bisa menjadi sumber konflik dalam hubungan karena pasangan mungkin merasa tidak diberi kepercayaan.

Baca Juga  Cegah Perceraian, Wujudkan Keluarga Impian
Ketakutan Akan Komitmen

Ketika anak broken home melihat ketidakstabilan dalam hubungan orang tua mereka, mereka menjadi takut akan komitmen. Mereka mungkin melihat komitmen sebagai sesuatu yang rentan terhadap kehancuran suatu hubungan. Sehingga takut untuk terikat secara serius dalam hubungan. Trauma ditinggalkan atau tidak diurus oleh orang tua juga membuat mereka yakin bahwa komitmen adalah hal yang berisiko. Takut akan komitmen ini sering membuat mereka menghindari hubungan jangka panjang atau serius. Mungkin hal ini juga yang menyebabkan ramainya fenomena HTS atau hubungan tanpa status, di mana seseorang ingin merasakan sensasi pacaran tanpa ada status yang menbgikat sehingga masih bisa “bebas”. Mereka mungkin menolak pembicaraan tentang masa depan, menghindari hubungan eksklusif, atau mundur ketika hubungan mulai menuju ke arah yang lebih serius. Meskipun mungkin memiliki perasaan yang kuat terhadap pasangan, tapi mereka takut jika pasangan akan meninggalkan dan mereka terluka lagi. Hal itu bisa menjadi penghalang besar bagi mereka untuk berkomitmen.

Ketergantungan Emosional

Beberapa anak broken home, yang terbiasa hidup dalam lingkungan dengan kebutuhan emosional kurang, dapat membuat mereke cenderung abai dalam hubungan. Mereka tidak tahu bagaimana perhatian orang tua dan bahasa cinta dalam keluarga. Mereka terbiasa mandiri secara emosional dan mungkin saja secara fisik karena harus mengatasi rasa kehilangan atau pengabaian dari orang tua. Sehingga saat ada masalah, mereka cenderung memendamnya dan menyelesaikannya sendiri. Dalam hubungan asmara, mereka mungkin cenderung tidak responsif atau bahkan mengabaikan kebutuhan emosional pasangan karena tidak mau terlibat terlalu dalam. Hal ini yang menjadi fenomena yang sedang marak sekarang. Yaitu istilah “exicted dan cinta sendiri”. Di saat satu pihak merasa antusias dan memandang suatu hal penting, sementara itu pihak lain menganngapnya sepele atau remeh.

Baca Juga  Membangun Visi Misi Keluarga di Tengah Pandemi (1)

Di sisi lain, beberapa anak broken home mungkin sangat membutuhkan validasi dan perhatian dari pasangan, sebagai pengganti kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari orang tua. Ini juga yang menyebabkan maraknya istilah mothering pasangan. Dalam satu kasus, terdapat seorang anak lelaki yang ditinggal mati ibunya, sementara ayahnya yang masih hidup membangun keluarga dan tidak menjadi sosok ayah bagi anaknya. Sehingga lelaki tersebut mencari sosok ibu dan juga ayahnya dari pasangan. Sementara mothering adalah tindakan yang dapat melelahkan bagi pasangan. Hal ini menciptakan pola hubungan yang tidak sehat, di mana mereka selalu membutuhkan perhatian, jaminan, dan rasa aman dari pasangan untuk merasa dicintai dan berharga.

Pengabaian

Mengabaikan pasangan membuat hubungan menjadi dingin dan tidak intim, sementara ketergantungan emosional yang berlebihan bisa melelahkan bagi pasangan. Ketergantungan ini seringkali menyebabkan pasangan merasa tertekan atau terbebani, sementara pengabaian dapat menciptakan jarak emosional yang berbahaya. Terlebih bagi pasangan yang memiliki rasa empati yang tinggi. Tidak jarang, memiliki pasangan broken home membuat seseorang merasa bertanggung jawab untuk “menyembuhkan” pasangan, yang seharusnya hal itu bukan ranahnya. Sehingga meskipun merasa tidak cocok, sulit untuk meninggalkannya karena adanya rasa kasihan. Yang mana empati ini jugalah yang sering dijadikan seseorang sebagai senjata untuk “attach” pasangan untuk mencari perhatian dan tidak meninggalkannya.

Mengatasi Dampak Broken Home dalam Asmara

Seseorang yang berasal dari keluarga broken home bisa mendapatkan manfaat dari konseling dan terapi psikologis untuk mengatasi trauma masa lalu dan memperbaiki pola hubungan yang tidak sehat. Saat ini banyak lembaga yang mendukung kesehatan mental masyarakat. Dan banyak di antaranya yang gratis atau tidak berbayar. Selain itu, perlu untuk mengembangkan kesadaran diri tentang pengaruh latar belakang keluarga terhadap perilaku dalam hubungan dapat membantu membuat perubahan yang positif. Seringkali korban dari broken home berpikir bahwa mereka akan berperilaku dan bernasib sama seperti orang tuanya. Hal itu juga merupakan hasil stigma masyarakat. Seperti jika anak korban KDRT, masyarakat menganggap anaknya akan melakukan KDRT juga ke depannya. Hal itu lah yang secara tidak sadar sering masyarakat dan juga anak korban broken home aminkan. Dan komunikasi yang baik dengan pasangan mengenai masalah masa lalu dan cara memengaruhinya dalam hubungan adalah kunci untuk menciptakan hubungan yang sehat. Oleh karena itu, penting untukjujur dan terbuka dengan pasangan.

Baca Juga  Menikah Menggapai Sakinah atau Sikkinah
Dampak Positif

Anak-anak yang berasal dari keluarga broken home dapat menjadikan duka mereka untuk mengembangkan sejumlah keterampilan dan nilai positif. Seperti melatih kemandirian, problem solving, sikap pantang menyerah, jiwa pejuang dan lainnya. Meskipun banyak rintangan yang mereka hadapi dalam hidup, mereka sering kali belajar untuk berempati, dan beradaptasi. Pengalaman hidup yang sulit dapat memotivasi mereka untuk sukses dan memberikan perspektif yang lebih luas tentang kehidupan, sehingga mereka berusaha keras dalam pendidikan atau karier untuk membuktikan diri mereka.

Dengan memahami efek broken home dalam asmara, kita dapat lebih peka terhadap tantangan yang seseorang hadapi dalam menjalin hubungan. Penting untuk melihat sudut pandang orang lain terutama pasangan akag bisa memahami dan tahu bagaimana harus bertindak. Penting juga untuk memberikan dukungan dan pemahaman kepada mereka agar dapat mengatasi trauma masa lalu dan membangun hubungan yang sehat di masa depan. Melalui kesadaran dan komunikasi yang baik, individu dapat mengubah pengalaman sulit menjadi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang baik secara umum atau asmara.

Penulis: Wimbi Nur

Bagikan
Post a Comment