f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Necrophillia

Broken Home, Patah Hati Terberat Seorang Anak

Oleh : R. Fauzi Fuadi*

“Gorengan-gorengaaan. Ayo dibeli gorengannyaaa,” pekik seorang anak perempuan yang masih berusia 10 tahun itu. Tanpa cangung, ia menjajakan dagangannya dari kampung ke kampung hanya untuk membiayai kebutuhan hidup dan sekolahnya.

Anak itu bernama Dinda Eka Wati, diusianya yang masih belia, ia harus menanggung beban perceraian kedua orang tuanya. Usai bercerai, sang bapak lari dari tanggug jawab, tidak memberikan uang sepeser pun untuknya.

Ia tak ingat sejak kapan orang tuanya berpisah, yang diingatnya sedari kecil ia sudah ikut dengan neneknya sampai saat ini.

Karenanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia harus berjualan gorengan usai sekolah. Ini dilakoninya demi bisa melanjutkan hidup dan mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter.

Cerita tentang Dinda

Dilansir liputan6.com, setiap harinya Dinda menggunakan sepeda menyusuri jalanan kampung untuk berjualan. Tetapi sebelum itu, sejam sebelum berangkat, terlebih dulu ia membantu nenek di dapur untuk menyiapkan dagangannya. Setelahnya, ia baru berangkat pukul 13.00 hingga 17.00. Jika dagangan tak kunjung habis, ia menjajakannya hingga tengah kota Magetan yang jaraknya sekitar 5km dari rumah.

Dalam sehari ia bisa membawa pulang 80-100 ribu, tergantung ludes tidaknya gorengan yang ia bawa sejumlah 100 biji setiap harinya. Hasilnya bisa ia gunakan untuk membiayai sekolah dan kehidupan sehari-harinya bersama nenek.

Kisah Dinda dalam mengarungi samudera kehidupan yang cukup pelik itu merupakan satu dari sekian banyak kasus broken home yang harus dihadapi anak. Masih banyak lagi anak di luar sana yang mengalami kemunduran psikis dan mental karena orang tuanya berpisah, bahkan menanggung sendiri beban hidupnya, tanpa keluarga yang menjadikannya tempat pulang.

Perkara dalam Rumah Tangga

Anak akan merasa sangat terpukul jika mengetahui kedua orang tuanya menginginkan untuk berpisah, ia akan merasakan bahwa tak ada bedanya sebuah perceraian dengan kematian. Ia akan merasa ada sesuatu yang tak utuh lagi.

Baca Juga  Media Sebagai Pembangun Kesetaraan Gender

Keterpurukan, kecemasan, tidak percaya diri, hingga perundungan di sekolah pun tak terelakkan.

Pada dasarnya, semua keluarga adalah family goals. Tak mungkin jika sebuah bahtera rumah tangga tak ada percekcokan di dalamnya. Namun kembali lagi kepada opini kita masing-masing, yaitu bijak tidaknya seseorang dalam menanggapi masalah yang ada. Rumah tangga yang harmonis justru bukan tanpa masalah, namun bagaimana cara menyikapi masalah itu yang menjadi pembuktian tingkat kedewasaan seseorang.

Permasalahan yang terjadi pada sebuah keluarga merupakan hal yang lumrah adanya. Ada banyak sekali masalah yang timbul dalam keluarga seperti perselingkuhan, masalah ekonomi, kurang pandainya suami atau istri dalam menjalankan peran, komunikasi, perbedaan persepsi, dan masih banyak lagi masalah yang akan timbul jika tidak segera ditemukan jalan keluarnya.

Jika masih tidak menemui titik temu, maka sangat boleh jadi sebuah hubungan pernikahan akan terjadi perpecahan yang berujung perceraian. Jika demikian halnya, maka yang terkena imbasnya tak lain adalah anak.

Hal inilah yang kemudian dapat memicu masalah besar pada anak yang menjadi korban dan sangat boleh jadi anak akan dirundung oleh teman sebayanya di sekolah.

Sinergi Sekolah dan Keluarga dalam Mencegah Perundungan Anak

Bagi anak-anak korban perundungan karena broken home, mereka lebih berisiko mengalami masalah kesehatan mental yang berlanjut hingga ia beranjak dewasa. Bukan tak mungkin jika suatu saat mereka akan mengalami depresi dan tekanan mental yang membuatnya semakin terasingkan, melakukan upaya kekerasan yang lebih besar sebagai bentuk balas dendam, hingga mencoba hal-hal baru yang dapat merusak dirinya sendiri.

Karenanya, sekolah sebagai tempat pendidikan dan memonitor perkembangan anak juga harus tegas dalam menerapkan aturan. Sekolah juga wajib memberikan pemahaman tentang dampak perundungan bagi korban. Jika semua warga sekolah bisa memahami hal tersebut, maka sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan bagi murid.

Baca Juga  Salah Tanggap Mengenai Ibu sebagai Sekolah Pertama bagi Anaknya

Begitu pula dengan peran keluarga, ia harus menjadi supporting system bagi anak atas perundungan yang terjadi di lingkungan masyarakat maupun sekolah. Kedekatan dan keharmonisan antara orang tua dan anak sangat vital untuk mendeteksi perkembangan perilaku anak sehari-hari.

Sejatinya broken home bukanlah aib yang harus disimpan rapat-rapat kerahasiaannya. Tidak perlu malu, sebab setiap keluarga pasti punya dinamikanya masing-masing. Jalani dengan penuh yakin. (s)

*) R. Fauzi Fuadi adalah Jurnalis lepas, pembina khusus jurnalistik di Ponpes Karangasem Paciran

Bagikan
Post tags:
Post a Comment