f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
stigma negatif

Stigma Negatif : “Pembunuh” Tanpa Menyentuh

Masyarakat Indonesia saat ini sedang digemparkan oleh maraknya kasus pelecehan seksual. Salah satu kasus yang paling tragis dan belum terlalu lama terjadi adalah kasus pelecehan seksual yang dialami oleh seorang mahasiswi dari Mojokerto, NW. Dia ditemukan tewas bunuh diri di dekat pusara ayahnya karena menegak racun dari botol minuman. Menurut berita yang sudah tersebar, pelaku pelecehan seksual tersebut dilakukan oleh seorang oknum polisi berinisial RB.

Namun, dari semua rentetan kasus yang terjadi, ada satu hal yang membuat penulis merasa sangat gusar, yaitu perlakuan paman NW yang menghina NW hingga mengancamnya. Akibat perbuatan pamannya,  NW semakin tertekan dan depresi hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Padahal, seperti yang kita tahu bahwa NW adalah korban pelecehan seksual, namun mengapa masih ada yang memiliki stigma negatif terhadap korban pelecehan seksual? Social sickness seperti inilah yang perlu dihilangkan dari masyarakat.

Memilih Mati Tanda Lemahnya Iman?

Bila kita berkaca dari kasus yang NW alami, mungkin sebagian dari kita ada yang berkomentar bahwa tindakan bunuh diri tersebut terjadi karena lemahnya iman NW. Menurut penulis, pernyataan tersebut bisa benar, tapi bisa juga salah kaprah. Memang benar bahwa orang yang memiliki kekuatan iman akan menyerahkan seluruh kehidupannya kepada Allah. Namun, apakah orang yang memiliki iman tidak akan terbesit pikiran untuk memilih mati?

          فَأَجَآءَهَا ٱلْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ قَالَتْ يَٰلَيْتَنِى مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا(سورة مريم : ٢٣)

Mengenai ayat ke 23 surah Maryam di atas, Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz mengatakan : rasa sakit akan melahirkan anak memaksa Maryam untuk bersandar kepada pohon kurma dan berkata “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, sebab malu dan takut atas cacian orang-orang. Sehingga aku  menjadi orang yang tidak berarti dan dilupakan”.

Baca Juga  Pelecehan Seksual di Pesantren: Menodai Citra Ilmu

Benar, kita tidak sedang salah membaca. Siti Maryam, seorang perempuan pilihan Allah yang derajatnya dilebihkan atas seluruh perempuan yang ada di dunia ternyata pernah memilih dan meminta untuk mati. Apakah kita berani mengatakan bahwa iman Siti Maryam lemah? Jelas tidak. Lalu apa yang membuat perempuan sekelas Siti Maryam saja hendak memilih untuk mati? Tidak lain dan tidak bukan adalah stigma sosial/stigma negatif masyarakat. Siti Maryam takut akan cacian dan hinaan masyarakat mengenai kelahiran nabi Isa yang tak berbapak. Dari sini kita akan tahu betapa mengerikannya dampak dari stigma negatif.

*

Bila kita melihat kisah Siti Maryam tadi, kita tidak bisa mendakwakan bahwa tindakan bunuh diri yang NW lakukan semata-mata karena faktor lemahnya iman. Stigma sosial lah yang menjadi biang dari tindakan bunuh diri NW. Masyarakat masih saja sibuk menyalahkan suaranya, pakaiannya, kelakuannya dan masih banyak lagi. Penulis pikir tindakan tersebut sama tidak manusiawinya dengan tindakan pelaku kekerasan seksual atau bahkan bisa jadi lebih tidak manusiawi. Apakah pantas menyiksa orang yang sudah tersiksa?

Baik, kita sepakat bahwa tampilan korban, baik suara, pakaian, kelakuan dan lain-lain dapat menjadi faktor pemicu kekerasan seksual–meskipun tidak selamanya demikian. Namun, apakah dengan menghina dan mencaci korban karena hal tersebut akan memecahkan permasalah yang ia alami? Tidak, hal ini justru memunculkan berbagai permasalahan baru yang lebih mematikan, salah satunya adalah bunuh diri.

Melihat Korban Sebagai Korban

Hingga dewasa ini, masyarakat masih menganggap bahwa korban kekerasan seksual itu sama seperti pelaku pelecehan seksual. Mereka juga menganggap korban kekerasan seksual sebagai makhluk hina yang seharusnya enyah saja dari dunia ini. Inilah yang menjadi faktor para korban enggan untuk speak up atas apa yang telah menimpanya. Satu lagi keadilan tehalang karena stigma negatif. Lalu sikap apa yang semestinya kita lakukan terhadap korban?

Baca Juga  Menolak Stigma Negatif “Telat”

فَنَادَىٰهَا مِن تَحْتِهَآ أَلَّا تَحْزَنِى قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا(سورة مريم : ٢٤)

Dr. Quraish Shihab di dalam Tafsir Al-Mishbah mengatakan bahwa Maryam kemudian diseru oleh malaikat dari tempat yang rendah di bawahnya, “Janganlah kamu bersedih hati karena kesendirian, tidak ada makanan dan minuman serta karena gunjingan orang. Sesungguhnya Allah telah menjadikan anak sungai di dekatmu”.

Allah mengutus malaikat untuk menghibur Siti Maryam dan menjadi pendengar bagi semua keluhannya. Lantas itulah hal yang membuat Siti Maryam bangun dari apa yang sedang ia alami. Inilah yang seharusnya kita lakukan terhadap korban pelecehan seksual. Cobalah menjadi seorang pendengar yang baik. Penulis sangat yakin bahwa Allah bukan hanya menciptakan pendengaran pada telinga kita, tapi juga pada hati kita. Hati kita punya pendengaran yang lebih tajam dan peka dari pada daun telinga. Sayangnya sedikit sekali orang yang mau membukanya. Padahal bila kita mau membukanya, lidah kita akan tergerak untuk memberi semangat bukan laknat.

Mencela Bukan Solusi Tapi Polusi

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا وَائِلٍ يُحَدِّثُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ تَابَعَهُ غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ (رواه البخاري : 5584)

“Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Manshur dia berkata; saya mendengar Abu Wa`il bercerita dari Abdullah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mencela orang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran.” Hal ini diperkuat juga oleh riwayat Ghundar dari Syu’bah.” (HR Bukhari : No. 5584)

Berdasarkan hadis di atas, Rasululah sudah melarang kita untuk mencela seseorang, karena perbuatan tersebut adalah suatu kefasikan. Karena jelas bahwa mencela seseorang adalah tindakan yang sangat buruk dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Belum tentu orang yang kita cela lebih buruk dari kita, bisa jadi kita yang lebih buruk darinya. Apalagi bila kita mencela seseorang karena dosanya, hal ini malah menjerumuskan kita pada kesombongan, seakan-akan kita terbebas dan kebal dari perbuatan dosa. Padahal kita juga berpotensi melakukan perbuatan dosa tersebut.

Baca Juga  Penilaian Perempuan dan Kasus Pelecehan di Depok

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرَاً أَو لِيَصْمُتْ (رواه البخاري ومسلم).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam saja…” (HR. Bukhary & Muslim) Berdasar hadits yang dikutip dari Arba’in Nawawi padahadits ke-15 di atas, menunjukkan bahwa keimanan seseorang sangat terkait dengan kehidupan sehari-hari termasuk bagaimana ia berbicara. Terlalu berlebihan dalam berbicara saja tidak baik apalagi mencela. Maka apa yang seharusnya kita lakukan sebagai orang yang mengaku beriman?

Bagikan
Post a Comment