Membangun Ketahanan Ekonomi Womenpreneur di Masa Pandemi
Istilah womenpreneur seringkali terdengar baik di ruang publik maupun dalam aktivitas diskusi dan lainnya. Womenpreneur merupakan perempuan yang bergerak maupun dalam islilah sekarang bergeliat di bidang usaha atau pelaku usaha perempuan. Realitas menguatkan bahwa perempuan menjadi pilar penggerak perekonomian bangsa berangkat dari aktivitas kegiatan ekonomi kreatif dari industri rumah tangga.
***
Sebuah data dari Bekraf , Bank Indonesia, 2018 menggambarkan bagaimana sektor UMKM paling banyak dilakukan oleh pelaku usaha perempuan sejumlah 60% dari total pelaku usaha. Dengan 9,1% nya memberikan kontribusi terhadap PDB (Produk Domestik Bruto). Meskipun secara keterampilan/ bidang usaha yang digeliatkan; masih di bawah pelaku usaha laki-laki seperti yang bergerak di sektor interior design, design produk maupun craft. Namun untuk sektor fashion masih menjadi primadona bagi pelaku usaha perempuan.
Sebuah capaian yang dikuatkan perempuan dalam menegaskan aktivitas usahanya. Selain hal tersebut sejumlah data lain menegaskan bahwa berdasar Indeks Pengusaha Perempuan peringkat dunia yang diperoleh dari mastercard index of women entrepreneurs tahun 2018 menyebutkan bahwa berdasar knowledge assets and financial pelaku usaha perempuan berada di posisi ke 13. Selain itu menempati posisi ke 30 terkait entrepreneurial condition sebelum Malaysia. Inilah realitas yang terus menempa pelaku usaha perempuan dalam berbenah dan berkontribusi melalui kegiatan usaha.
Upaya dalam Membangun Ketahanan Ekonomi bagi Pelaku Usaha Perempuan
Ada tiga hal yang perlu kita benahi dalam membangun ketahanan ekonomi bagi pelaku usaha perempuan (womenpreneur) . Pertama, terkait infrastruktur / sarana prasarana serta upaya yang digeliatkan menjadi sasaran nyata bagi pelaku usaha perempuan. Hal pendukung berupa sarana dan prasarana yang ada akan memotivasi perempuan dalam melakukan hal-hal kreatif; produktif yang berawal dari diri perempuan itu sendiri terhadap lingkungan terkecil bernama keluarga.
Sebagai contoh, upaya peningkatan literasi akan aktivitas ekonomi dapat dimulai dari keluarga melalui edukasi berwirausaha. Seperti mengenalkan anggota keluarga dalam pengelolaan uang yang baik dan benar, yang memantik upaya produktif untuk belajar menjadi wirausaha. Kondisi pandemi saat ini, pelaku usaha perempuan tidak lagi bermain secara perseorangan dalam membangun branding. Ada upaya adanya komunitas e-commerce ataupun komunitas usaha lainnya yang mampu memperjuangkan pelaku usaha perempuan sehingga akses semakin luas dan memberi warna.
Kedua, terkait membangun Sumber Daya Manusia atau kompetensi pelaku usaha perempuan di mana kesiapan perubahan terhadap kondisi saat ini senantiasa menguat melalui pendampingan pelaku usaha. Upaya ini dilakukan melalui kegiatan yang dapat dikerjakan dengan bekerjasama atau membangun jejaring dengan Lembaga. Seperti dengan sejumlah Lembaga keuangan yang memberikan ragam tawaran kerjasama pelatihan dan pengembangan kompetensi pelaku usaha perempuan melalui aktivitas program yang sudah berjalan dr Lembaga baik secara kontinu maupun insidental.
Ketiga, terkait dengan regulasi atau aturan yang menguatkan terciptanya ketahanan ekonomi pelaku usaha perempuan. Regulasi yang berpihak pada kontribusi pelaku usaha perempuan akan mendorong pembanguan ketahanan ekonomi di masa pandemi. Alur kebijakan tentang program bantuan; misalnya lembaga mampu memberikan bantuan sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan usaha dengan sasaran yang tepat.
Strategi Menyerang
Sebenarnya masih banyak upaya strategi yang dapat diperjuangkan oleh pelaku usaha perempuan seperti dengan hadirnya strategi menyerang. Apa itu strategi Menyerang? Kalau upaya bertahan di masa Pandemi ini belum mampu menjawab pertanyaan yang menjadi masalah bagi sejumlah pelaku usaha, maka strategi Menyerang baik darat maupun udara sangat menjadi referensi bagi pelaku usaha.
Strategi menyerang lewat darat misalnya dapat diupayakan dengan gencar melakukan upaya kerjasama secara langsung dengan pihak pemasaran yang memiliki kompetensi sehingga membantu pelaku usaha perempuan dalam display produk dan lainnya. Berikutnya strategi menyerang lewat udara di mana upaya promosi dan branding dilakukan melalui media online yang secara kontinu dilakukan dan ditampilkan; sehingga hello effect / kesan mendalam akan membangun komunikasi antara pelaku usaha perempuan dengan pihak manapun yang berkompeten supaya terjalin.
Perempuan menjadi kekuatan ekonomi yang memberi kontribusi untuk pembangunan. Di mana berdasar Indeks Pemberdayaan Gender( IDG) Indonesia tahun 2018 menyebutkan bahwa sekitar 36,70 % pendapatan dari perempuan mengalami peningkatan dari 71,74% menjadi 72, 10 % . Artinya, kontribusi perempuan melalui kegiatan produktifnya terus meningkat meskipun masih di bawah laki-laki. Namun capaian untuk selalu meningkatkan kesadaran dalam ketahanan ekonomi sangat mendapat apresiasi.
***
Untuk itu memastikan pelaku usaha perempuan mendapatkan akses ekonomi, memiliki pengetahuan- keterampilan sekaligus memiliki peluang untuk membangun ketahanan ekonomi di masa pandemi ini menjadi tugas bersama yang harus diperjuangkan. Dengan demikian perlunya penguatan jejaring baik lembaga maupun komunitas harus mendapat perhatian; sehingga prosedur birokrasi yang selama ini rumit mampu teratasi dalam pelaku usaha mengakses pasar.
Dengan mengintegrasikan kekuatan baik pelaku usaha perempuan dengan embaga terkait ketahanan ekonomi sehingga mampu menjaga stabilitas kebijakan terkait ekonomi maupun kesehatan yang menjadi perhatian bersama anak bangsa bahkan dunia di masa pandemi. Semoga..

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Mahasiswa Program Doktoral Universitas Airlangga Surabaya
