Resiliensi: Kemampuan Adaptasi Setelah Mengalami Kesulitan
Tahun 2020 merupakan tahun reflektif dan tahun ujian bagi semua manusia. Karena di tahun ini, banyak kejadian dan permasalahan yang datang secara beruntun membutuhkan kesigapan setiap pribadi dalam mengelola dan beradaptasi di masa pandemi. Tidak hanya pada kondisi sosial saja seseorang beradaptasi, melainkan juga terhadap lingkungan dan diri sendiri.
Manusia dalam kehidupannya akan mengalami keadaan yang tidak nyaman atau tidak menyenangkan. Keadaan yang tidak menyenangkan biasanya berupa sesuatu yang berjalan, namun tidak sesuai dengan harapan yang telah dirancang dan diekspetasikan sebelumnya. Hal inilah yang kemudian menimbulkan tekanan tersendiri bagi manusia.
Dalam menghadapi sebuah kondisi kecewa, perlu adanya pertahanan diri untuk bangkit dan berdaptasi. Yaitu dengan mempertahankan kestabilan psikologis dalam menghadapi stress yang biasanya disebut dengan resiliensi.
Daya Lentur dalam Mengahadapi Kesulitan
Resiliensi secara umum mengarah pada pola adaptasi positif selama menghadapi kesulitan. Adalah ide yang mengacu pada kapasitas sistem yang dinamis untuk bertahan atau pulih dari gangguan.
Seumpama bunga yang indah harus dapat tumbuh di bebatuan yang berkarang dan jauh yang secara logika lokasi itu tidak subur dan tidak layak untuk dapat ditumbuhi oleh bunga. Manusia sekarang dituntut untuk dapat seperti perumpamaan tersebut, mampu beradaptasi pada segala kondisi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, dapat bangkit seperti kondisi sedia kala walaupun sebelumnya ada kesulitan yang menimpa.
Resiliensi setiap manusia adalah hal yang bisa dilatih. Berdasarkan perkembangan manusia, peran orang tua dan orang sekitar sangat penting untuk dapat membentuk pribadi yang resiliensi. Pada usia balita, orang tua berada di posisi depan yang semestinya dapat mencontohkan kepada anak. Kemudian di usia anak-anak posisi orang tua berada di samping karena pada kondisi ini anak sudah bisa diberitahu. Selanjutnya, pada saat remaja/dewasa, orang tua berada pada posisi belakang yang berarti mengontrol. Sehingga, peran lingkungan dan orang tua sangat berpengaruh untuk membentuk pribadi yang resiliensi dan tangguh.
Meningkatkan Resiliensi Individu
Meningkatkan resiliensi adalah tugas yang penting untuk memberikan pengalaman bagi manusia dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup. Juga resiliensi dapat mengembangkan keterampilan hidup seperti dalam hal berkomunikasi, kemampuan untuk realistis dalam menentukan rencana hidup, dan mampu mengambil langkah yang tepat bagi hidupnya.
Menurut Gortberg (1995) menyatakan bahwa ada tiga sumber resiliensi yaitu I am, I can dan I have. I am berisi mengenai resiliensi sikap, perasaan dan kepercayaan diri seseorang. Sesorang dapat membangun resiliensi dari dirinya sendiri seperti melalui kepercayaan diri, sikap empati, menghargai dan optimis. I can adalah kemampuan untuk dapat menganalisa masalah dan dapat menyelesaikannya. I have adalah sesuatu yang dipunyai untuk dapat mendukung resiliensi. Selain itu, lingkungan sangat berpengaruh penting dalam membentuk resiliensi pribadi.
Cara Menumbuhkan Resiliensi Manusia
Pertama, menentukan tujuan. Dalam kehidupan, kita harus mempunyai tujuan agar terpacu untuk lebih tertata dalam menghadapi hidup.
Kedua, menumbuhkan rasa percaya diri. Ketika mendapati seseorang dengan dengan kesulitan dalam mengerjakan sesuatu atau berbuat kesalahan terhadap sesuatu; sebaiknya tidak langsung disalahkan. Melainkan mengajaknya untuk berdiskusi sehingga dapat terbentuk evaluasi yang bisa membangun seseorang untuk percaya kepada kemampuannya.
Ketiga, support system. Hal ini berkaitan dengan lingkungan yang mendukung untuk terus mencari opsi baru agar dapat luwes Ketika menghadapi tekanan.
Keempat, belajar menerima perubahan. Setiap manusia harus dapat menerima kondisi yang berubah dari hidupnya. Menerapkan penerimaan terhadap perubahan akan membuat seseorang menjadi lebih mudah untuk beradaptasi pada segala hal yang pernah menimpanya dan terus mempunyai semangat untuk dapat menemukan kondisi yang normal kembali.
Sehingga dengan cara di atas, pribadi dengan resiliensi yang baik akan akan mampu untuk berbaur dengan lingkungan apapun yang akan dihadapinya; mengolah stress dengan baik dan mengambil keputusan dengan tepat.
Pada saat kondisi dibully sekalipun seseorang dengan pribadi daya juang atau resiliensi yang tinggi tidak akan mudah baperan dan dapat mengolah emosi serta memanfaatkannya dengan baik.
Tetap mantap menjalani kehidupan ya Rahmania.
Ingat janji Allah Swt, setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Latih dulu resiliennya 😊
Destita Mutiara memiliki keinginan menjadi pengamat media. Sesekali menulis. Bisa ditemui di Instagram dmutiaraa dan Twitter @D_Mutiaraa
