f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kebosanan

Kebosanan Melanda Pelajar Indonesia

Istilah Adaptasi Kebiasaan Baru (ABK) paska new normal, digaungkan oleh pemerintah Indonesia saat ini. ABK menjadi respon dalam menghadapi kehidupan di tengah pandemi namun tetap dapat beraktivitas. Tentunya dengan protokol kesehatan. Ditambah lagi cuitan bapak Presiden yang mengumumkan agar bisa berdampingan dengan pandemi ini. Alhasil para pelajar harus mampu mengimbangi dengan belajar dari rumah, bahkan melawan kebosanan.

Seribu langkah percepatan penanganan Covid-19 dalam berbagai bidang telah dilakukan, baik dalam bidang kesehatan, sosial dan ekonomi. Malahan akhir-akhir ini pemerintahan Indonesia mengumumkan agar fokus pada satu aspek saja, yakni kesehatan. Lantas bagaimana dengan pendidikan? Tidak terasa ternyata sudah setengah tahun lebih Indonesia menerapkan belajar di rumah saja. Jika ditanya tentang jalannya pembelajaran online, pasti sangat beragam jawabannya. Apalagi jika bertanya ke seluruh pelajar di Indonesia tanpa terkecuali.

Terhambat Prosedural Ketat

Sebenarnya sekolah sudah bisa melangsungkan pembelajaran secara offline. Yakni bagi mereka yang berada pada zona hijau, dan itupun harus melewati berbagai macam prosedural ketat. Sehingga banyak sekolah di zona hijau yang enggan melakukan langkah-langkah prosedural dan memilih tetap menerapkan pembelajaran daring.

Dengan hal tersebut, mengharuskan pelajar di seluruh Indonesia untuk bisa menerima kenyataan. Belajar sendirian dan merasakan kebosanan, bahkan bisa saja membuat kehidupan menjadi stagnan. Tetapi semua itu bisa saja terbantahkan, tergantung bagaimana kita memaknainya seperti apa.

Coba kita lihat pembelajaran online diseluruh penjuru negeri ini. Ada yang sudah merasa aman-aman saja, bahkan ada juga yang harus rela sekuat tenaga untuk membeli kuota. Jangankan kuota, bahkan hp saja ada yang tak punya. Lantas apakah pelajar yang mempunyai peralatan lengkap untuk pembelajaran online merasa bahagia? Jawbannya adalah tidak.

Kondisi Pelajar Indonesia

Dilansir dari UNICEF sebagai hasil survei kepada pelajar Indonesia selama pembelajaran online ini. Survei di laksanakan pada bulan Maret dan Juni 2020 lalu. Tanggapan yang diterima adalah lebih dari 4000 pelajar di 34 provinsi di Indonesia. UNICEF menyatakan bahwa 66% dari 6.000.000 pelajar dari berbagai jenjang pendidikan memberikan respon negatif. Yakni merasa tidak nyaman belajar di rumah selama pandemi ini. Ketidaknyamanan ini dilatarbelakangi oleh berbagai kendala, seperti infrastruktur teknologi, keadaan ekonomi, lingkungan sosial, bahkan psikologis.

Dari jumlah pelajar tersebut, 87% menyatakan ingin segera kembali belajar di sekolah. 38% dari responden menyatakan kekurangan bimbingan dari guru menjadikan kendala utama dalam melakukan pembelajaran. Belum lagi mereka yang berada di daerah terpencil. Apakah terbayang bagaimana sulitnya jika harus belajar di rumah? Akses internet saja susah, bahkan listrikpun juga masih menjadi kendala.

Munculnya Kebosanan

Selain daripada itu, ternyata ada masalah lain yang ikut menghampiri, yakni kebosanan. Jangka waktu yang sangat lama ini menyebabkan pelajar di Indonesia terlena akan kewajiban belajar. Sehingga memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru yang dianggap kurang produktif.

Ilmuan psikologi bernama John Eastwood dari Universitas York di Ontariao Kanada beserta kawan-kawannya pernah mendefinisikan makna kebosanan. Bahwasanya kobosanan adalah sebagai suatu keadaan yang monoton atau berulang dan tidak melakukan aktivitas yang dapat keluar dari keadaan tersebut. Apabila makna tentang kebosanan di atas dikorelasikan dengan aspek pendidikan akan menunjukkan pengertian yang berbeda. Yakni menjelaskan bahwa kebosanan adalah kombinasi dari kurangnya hormon kegembiraan dan adanya kondisi ketidakpuasan, frustasi atau tidak tertarik akan suatu hal, yang pada dasarnya semua disebabkan oleh kurangnya sesuatu yang dapat meghibur diri.

Dampak Serius dari Kebosanan

Kondisi ini akan dialami oleh semua tipe atau keadaan akademis anak, bahkan tidak memandang antara IQ tinggi ataupun rendah. Orang-orang dengan kapasistas kecerdasaan tergolong tinggi ternyata mudah terserang kebosanan, apalagi dengan kapsistas kecerdasan dibawahnya bukan? Mereka lebih sering menghabiskan waktu bermalas-malasan daripada kegiatan fisik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika, menyatakan bahwa orang dengan IQ tinggi akan merasa cepat bosan karena mereka merasa semua mudah dilakukan. Sehingga menjadikan mereka lebih memilih menghabiskan waktunya untuk terlibat dalam hal berpikir saja, daripada aktivitas berbau fisik.

Satu aspek yang telah disetujui oleh kebanyakan orang adalah bahwa kebosanan itu tidak menyenangkan. Dampak dari kebosanan bagi setiap pribadi akan berbeda-beda, tergantung bagaimana ia menerima dan meresponnya. Dari keadaan ini, seseorang yang mengalami kebosanan berlebihan dalam beberapa hal dan termotivasi untuk mengakhiri kebosanannya, bahkan dengan cara yang ekstrem. Apabila kebosanan dibiarkan begitu saja dan sampai berlarut-larut bisa menyebabkan depresi. Menurut beberapa pandangan, kebosanan dianggap sebagai situasi yang mengganggu dan berbahaya, sumber ketidakbahagiaan dan penderitaan, bisa menghambat perkembangan intelektual, kesehatan, interaksi sosial dan moral.

Dengan melihat keadaan pendidikan Indonesia saat ini, akan menjadi sangat rumit ketika tidak diimbangi dengan gerakan produktif dan sikap positif pelajar Indonesia. Misalnya saja penyakit malas belajar dan mudah merasa bosan, pasti akibatnya akan menjadi lebih buruk. Yang akan terjadi adalah kualitas pendidikan dan kapabilitas pelajar Indonesia akan menurun. Maka bisa dipastikan, bahwa Indonesia belum siap menyambut new normal dalam sektor pendidikan, lebih khusus bagi para pelajar.

Mengatasi Kebosanan dengan Self Control

Kebosanan sebenarnya pengaruh terbesarnya berasal dari internal diri setiap individu. Sehingga kunci untuk menghindari dari kebosanan adalah ada pada pengendalian diri (self control). Dengan kapabilitas kontrol diri yang tinggi dari setiap pelajar atau setiap orang akan sangat membantu dirinya agar tidak mengalami kebosanan. Karena orang yang bosan lebih cenderung mempunyai hasrat atau usaha untuk bersegera keluar dari lingkar kebosanan yang dialaminya.

Mengontrol diri adalah sebagai upaya menyesuaikan diri dengan cara menendalikan, mengatur dan mengarahkan perilaku baik secara fisik maupun psikologis sesuai dengan masing-masing usia dalam merespon sesuatu. Dan lingkungan (eksternal) hanya menjadi komplemennya saja, yang dimaksudkan adalah bentuk dukungan sosial. Dukungan sosial bisa datang dari orang tua, teman atau guru-guru. Seorang individu yang memiliki self control baik, tetapi tidak diimbangi dengan lingkungan yang baik pula maka fungsi dari self control menjadi tidak efektif.

Akhirnya, keduanya harus bersinergi dalam membangun dan mengarahkan individu kearah konsekuensi positif agar mampu mencapai tujuan yang diinginkan. Bisa kita bayangkan dan memastikan apa yang akan terjadi di Indonesia pada masa mendatang. Apabila generasi mudanya saja masih terlena dalam kebosanan, malas-malasan dalam belajar, bahkan tidak mempunyai kapasitas self control yang baik. Jadi bagaimana para pelajar Indonesia? Masih hanya ingin diam-diam saja dan rebahan tanpa memikirkan masa depan? Soo…let’s try to change together.

Bagikan
Post a Comment