f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
self-love

Self-love Ala Sufi

Sejak kesadaran akan pentingnya kesehatan mental menjadi topik yang kian banyak diperbincangkan oleh masyarakat, istilah self-love begitu populer digaungkan di media sosial. Self-love merupakan frase yang memiliki arti mencintai diri sendiri, tetapi bukan berarti memenuhi diri dengan segala keinginan, apalagi jika kemudian abai sama sekali dengan lingkungan sekitar.

Self-love adalah bagaimana kita memperlakukan dan menerima diri sendiri dengan baik dan apa adanya, hingga membuat kita lebih percaya diri dan produktif dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Dengan kata lain self-love erat kaitannya dengan kebahagiaan.

Self-Love dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an, dikatakan bahwa kebahagiaan sejati bagi seorang hamba adalah ketika ia mampu memandang wajah-Nya atau berjumpa dengan-Nya. Seperti firman Allah dalam QS. Al-Qiyamah ayat 22-23: “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.”

Pertemuan dengan Allah bisa terwujud hanya jika hati manusia terbebas dari kepentingan duniawi. Tersebab, dunia yang selalu dirindukan oleh nafs itu bukanlah sesuatu yang membahagiakan: ia hanyalah kebahagiaan semu dan tidak lebih hanya sekadar permainan belaka.

Setiap manusia yang menginginkan perjumpaan itu haruslah mengerjakan amal salih: “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya“. (QS. Al-Kahfi: 110). Sedangkan amal salih hanya muncul dari akhlak yang baik.

Oleh karena itu, setiap hamba harus memperhatikan dan mencermati sifat-sifat maupun akhlaknya dan berusaha memperbaikinya satu persatu.

Jenis-Jenis Nafsu

Untuk mencapai derajat keterbebasan dari dunia, orang harus menempuh ujian berat pendisiplinan diri (riyaadhah). Sebab jiwa (nafs), jika tidak dibebaskan akan terus menerus memerintahkan kepada kejahatan” (ammaarah bii al-suu’). Jiwa adalah tempat tersembunyi dan berubah-ubah dari hawaa, kondisi hasrat, dan syahwah, hasrat itu sendiri.

Keinginan-keinganan ini sangat beragam dan tak ada habisnya, yang dapat menjauhkan manusia dari Allah. Semua sifat ini harus dibersihkan dari hati dan digantikan oleh sifat-sifat yang terpuji.

Jika orang beriman menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah “jiwa yang selalu memerintahkan kejahatan” akan dapat ditaklukan dan bersamaan dengan berlalunya waktu menjadi semakin lemah.

Baca Juga  Membijaksanakan (Persepsi) Cantik

Dengan menggeser posisinya yang dominan di dalam hati, ia akan melapangkan jalan bagi “jiwa yang menyalahkan dirinya sendiri” (al-nafs al-lawwaamah), yang cenderung mengandung arti kesadaran aktif yang dijangkiti oleh rasa bersalah dan penyesalan setiap kali perintah Allah dilanggar dan ketika jiwa yang lebih rendah menang dalam pertempuran kecil melawan pikiran rasional. Setalah banyak menjalani usaha batin, nafs muthma’innah, “jiwa yang tenang”, akan keluar sebagai pemenang.

Ketiga kondisi jiwa ini tidak dapat dianggap sebagai tahap-tahap yang berbeda, tetapi sebagai beberapa aspek atau potensi yang berbeda di dalam jiwa, yang hadir secara terus menerus, kadang-kadang sebagiannya tenggelam dan sebagian lainnya aktif.

Maka dari itu, ketika kita malas, galau, kecewa atau marah, sebisa mungkin berusaha untuk melawannya, bukan malah memperturutkannya. Karena sifat-sifat tersebut anologinya tidak seperti jajan di dalam kaleng, yang jika kita keluarkan semuanya maka, kaleng tersebut akan kosong.

Sifat-sifat tercela tersebut ibaratnya lebih seperti sumber mata air, yang jika kita gali, semakin kuat ia memancar.  Kekuatan-relatif aspek-aspek itu bergantung pada beberapa faktor, salah satu diantaranya adalah pendisiplinan-diri.

Empat Pengendalian Nafsu dalam Perspektif Sufistik

Di dalam buku, “Metode Menaklukan Jiwa” hasil terjemahan dari buku, “Disciplining the Soul: Breaking the Two Desire”, Imam al-Ghaazali—seorang tokoh luar biasa yang mengarang kitab Ihyaa’ Uluum Al-Diin—menjelaskan terdapat empat metode yang bisa ditempuh seseorang untuk mendisiplinkan diri. Yakni hidup menyendiri, tidak banyak bicara, berpuasa dan tidak tidur di malam hari.

Hidup Menyendiri

Hidup menyendiri (‘uzlah)—bahkan sekalipun dilakukan pada saat-saat tertentu saja—dapat mengendalikan penempuh jalan itu dari godaan duniawi. Meskipun kurang cukup bukti bahwa para sufi awal sering hidup menyepi layaknya seorang pertapa, banyak yang berusaha “mengembara bersama Tuhan mereka” di gurun-gurun, pulau-pulau atau gunung-gunung, dan setelah itu mereka kembali untuk mengajar.

Baca Juga  Self Love Jangan Niat Saja, Action!

Penyendirian yang dianjurkan Al-Ghazaali, dalam keterkaitannya dengan mengingat Allah (dzikr), dan perenungan (fikr), dimaksudkan agar dijalankan dalam jangka waktu pendek. Kehidupan yang sepenuhnya menyendiri—meskipun telah dijalankan oleh segelintir orang—tidak mungkin berkembang di atas lahan agama yang sifat sosialnya begitu menonjol seperti Islam.

Rujukan acap dilakukan kepada penyendirian Nabi setiap tahun di sebuah gunung di luar Mekah, yang setelah melakukan sekian lama, beliau menerima wahyu Allah Swt.

Tidak Banyak Bicara

Metode pendisiplinan diri yang kedua adalah tidak banyak bicara (shamt). Lidah meskipun berbobot ringan adalah benda yang berbahaya, sebab bukankah Nabi telah bersabda, “Barang siapa menjaga lidahnya, dia akan diselamatkan?” Banyak kejahatan manusia seperti memfitnah, mencerca, menjilat, berbohong dan mengutuk terjadi lantaran ucapan yang kurang dipertimbangkan.

Akan tetapi, apabila nafs bisa membanggakan diri melalui ucapan, sebenarnya ia pun bisa dipuaskan dengan cara tidak mengucapkan kata-kata. Inilah yang harus dijaga. Sebab menahan kata-kata bisa saja tidak lebih dari sekadar cara untuk meyakinkan orang lain mengenai kesalehan maupun keberanian orang itu sendiri; demikian pula sikap malas berbicara ketika menyaksikan kejahatan sama saja dengan menjadi setan bisu. Kunci itu memang harus dicari di dalam hati.

Berpuasa

Selanjutnya, manfaat religius dari menahan lapar—atau setidak-tidaknya puasa—telah diakui sejak masa-masa paling awal dalam Islam. Sebab berpuasa (shaum, shiyaam) merupakan kewajiban utama pada agama ini.

Berpuasa mengharuskan seseorang untuk menahan diri dari makanan, minuman dan hubungan seks sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Bukan hanya ibadah yang bisa mendatangkan pahala dari Allah, melainkan juga sarana yang layak untuk penyucian diri.

Menurut sebuah hadis, “Kesabaran merupakan sebagian dari iman, dan berpuasa adalah sebagian dari kesabaran.” Namun, menahan rasa lapar dan berpuasa bukanlah tujuan akhir, atau semata-mata hanya merupakan perbuatan yang menyusahkan diri tanpa faedah. Ketika fisik melemah dan kebiasaan bergantung pada dunia semakin berkurang, maka nafs pun ditaklukkan, alam gaib menjadi lebih dekat dari jangkauan.

Ketika beribadah kepada Allah menjadi semakin sempurna, rasa lapar menjadi sebuah teknik yang semakin berkurang makna pentingnya. Sahl al-Tustarii sendiri, yang upayanya dalam berpantang telah tercatat dalam sejarah, pada akhirnya mampu makan “tanpa batas tertentu, atau jangka waktu tertentu.”—sebab nafs-nya telah sepenuhnya ditaklukkan.

Baca Juga  Perundungan Sesama Anak Kecil yang Dianggap Masalah Sepele, Kenapa?
Tidak Tidur di Malam Hari

Bagian paling akhir dari keempat teknik yang populer untuk mengendalikan nafs yakni tidak tidur di malam hari (sahr). Imam al-Ghazali menyinggung bahwa, “tidur bisa mengeraskan dan mematikan hati kecuali jika seseorang tidur hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhannya, yang tengah berupaya menyibak tabir Yang Mahagaib”. Tidur berlebihan berarti menghabiskan waktu dengan sia-sia.

*

Keempat prinsip jalan spiritul tersebut, dalam suatu pegertian, bersifat mementingkan diri sendiri, karena memang ditujukan untuk memperbaiki jiwa individu.

Pendisiplinan diri tidak untuk memberangus sama sekali syahwat, amarah, dan rasa cinta dunia. Melainkan mengembalikannya pada keseimbangan—berada di titik tengah antara keadaan yang berlebihan dan kekurangan.

Karena jika nafsu makan hilang, manusia akan mati; jika nafsu melakukan hubungan seks lenyap, manusia akan punah; dan jika rasa marah hilang sama sekali, manusia tidak akan mampu mempertahankan dirinya dari bahaya yang mengancam nyawanya.

Akhlak mulia mengungkapkan dirinya dalam dua nilai kebajikan fundamental; sikap rendah hati dan mendahulukan kepentingan orang lain. Akhlak adalah sikap moderat dan bukannya dua ujung ekstrem. Tampak pada kenyataan bahwa kemurahan hati adalah akhlak yang dipuji oleh agama dan ia berada pada titik pertengahan antara dua ujung ekstrem, yaitu sikap kikir dan boros.

Atau keberanian yang berada di antara sifat pengecut dan ceroboh, serta keserdehanaan yang ada di antara ambisi dan sikap masa bodoh. Seperti itulah keadaan seluruh akhlak yang lain.

Maka, metode pendisiplinan diri ini adalah bagian integral dari self-love; karena akhlak yang buruk melukai fitrah manusia yang dapat mengahalanginya untuk berjumpa dengan Allah Swt.

Bagikan
Comments
Post a Comment