f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ramadan

Kiat Sederhana Menumbuhkan Sikap dan Suasana yang Sama Pasca Ramadan

Bulan Ramadan atau bulan puasa adalah bulan suci dan istimewa. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya sama dengan lebih dari seribu bulan, yaitu malam lailatul qadr. Bulan yang sangat dinanti kehadirannya oleh umat Islam, karena di dalam bulan itu pula semua amalan dilipatgandakan pahalanya.

Sebelum ada internet, kita belajar mengenal apa itu Ramadan, apa itu puasa dari para guru, ceramah-ceramah yang ada di televisi, radio, bahkan langsung dari ustaz atau kyai di masjid dan mushala.

Kini jaman sudah semakin maju. Kesempatan memperoleh ilmu terbuka luas. Tak hanya ilmu agama tapi juga ilmu-ilmu pengetahuan lain yang bisa kita pelajari dan berharap bisa menambah keimanan dengan ilmu tersebut.

Dua kali Ramadan telah kita lalui bersamaan dengan situasi pandemi. Selama pandemi, banyak peristiwa atau kejadian yang bisa kita ambil sebagai pelajaran yang sangat berharga. Misalnya tentang kebersihan badan dan lingkungan yang selama ini sedikit kita abaikan, padahal masalah kebersihan adalah hal yang sangat dianjurkan dalam agama.

Pelajaran lain yaitu tentang kehati-hatian kita dalam berhubungan dan bercengkerama dengan orang lain yang dikhawatirkan bisa menularkan kuman penyakit. Karena sebagai makhluk sosial, kita hidup bermasyarakat. Dan kuman itu sendiri tak mampu kita lihat dengan mata telanjang, maka kita dituntut untuk lebih berhati-hati demi keselamatan diri dan keselamatan orang lain. Prokes 5M masih kita jalankan hingga hari ini.

***

Bulan Ramadan identik dengan bulan untuk menempa diri. Selain menjalankan puasa wajib, amalan sunah yang menyertai juga kita kerjakan dengan penuh keimanan. Khususnya amalan-amalan baik yang dulunya malas dilakukan; dan kita berusaha sungguh-sungguh untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat.

Baca Juga  Ramadan dan Kesalehan Artifisial

Mulai dari membaca kitab suci Al-Qur’an atau tadarus, salat tarawih atau salat malam di bulan Ramadan, rajin bersedekah, hingga melakukan amalan-amalan sunah lainnya. Tak lupa kita tinggalkan hal-hal kecil tapi bisa merusak pahala kita, yakni berbohong, berkata kotor, marah-marah, berprasangka buruk, lisan yang menyakiti hati dan lain sebagainya.

Sesungguhnya amalan-amalan ringan di atas sudah biasa kita lakukan di bulan-bulan selain Ramadan. Tapi karena di bulan suci pahalanya dilipatgandakan, maka seakan berkompetisi, kita berlomba-lomba dalam kebaikan untuk menambah pundi-pundi pahala.

Semua kita jalankan dengan penuh kesadaran karena tidak ingin ibadah puasa yang sedang kita jalani ternodai oleh perbuatan-perbuatan yang bisa merusak kemurnian dan kekhusyukan ibadah itu sendiri.

Ramadan telah pergi. Tibalah saatnya kita bercermin dan meraba diri sendiri sejauh mana kaki ini melangkah. Meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat dan menjemput sesuatu yang sudah Allah persiapkan untuk bekal di hari nanti. Sudahkah kita ambil bagian dalam merebut kesempatan emas ini?

Seperti yang pernah kudengar dari ceramah seorang ustzd, bahwa keimanan seseorang bisa naik turun, menebal juga menipis. Banyak faktor yang mempengaruhi hal ini bisa terjadi. Orang lain tidak berhak menilai keimanan kita walaupun bisa menduga-duga lewat perbuatan yang mereka lihat. Namun kualitas iman di dada kita hanya kita sendiri dan Allah yang tahu.

***

Bagaimana agar kualitas keimanan kita tidak berkurang usai Ramadan? Dan bagaimana agar suasana dan atmosfir Ramadan masih menaungi hari-hari kita di bulan setelahnya? Kita sendirilah yang mampu menjawabnya. Sebab kita juga yang tahu setebal apa iman kita dan sejauh mana semangat kita, untuk mewujudkan aura Ramadan agar masih membersamai langkah-langkah kita ke depan.

Baca Juga  8 Persiapan Sebelum Puasa Ramadan

Tidak hanya niat yang terucap di bibir tapi diperlukan niat ingsun, nawaitu yang cukup serius. Yaitu dorongan kuat dari hati yang terdalam untuk memulai atau melanjutkan rutinitas positip di bulan Ramadan ke bulan-bulan berikutnya.

Keseriusan ini bergantung pada komitmen awal kita. Mau dilanjut dengan lebih serius atau standar saja. Kalau toh tak mampu menunjukkan peningkatan nilai ibadah, paling tidak semangat kita jangan sampai merosot atau berkurang.

Berbicara memang mudah, tapi coba lakukan sendiri! Oke. Ketika kita berkomitmen akan tetap dan terus rajin beribadah meski Ramadan telah berlalu, seharusnya kita punya rasa malu saat tak mampu melakukan itu. Malu pada komitmen yang telah kita ambil.

Sentuh dan raba dada secara perlahan, lalu katakan; “Bismillahirrahmanirrahim, aku harus mampu melakukan semua ini tanpa paksaan dari siapapun, karena yang menghendaki ini aku sendiri, demi memperbaiki kesalahan-kesalahanku di masa lalu. In Syaa Allah.”

Masing-masing dari kita tentu memiliki jurus jitu dalam memacu semangat diri sendiri untuk maju menuju sesuatu yang lebih baik. Meski harus disesuaikan dengan batas kesanggupan yang kita miliki, namun bukan berarti kita pasrah lantas berpikiran alon-alon waton kelakon dalam hal beribadah.

***

Yang semula ibadah-ibadah sunah di bulan Ramadan rajin kita lakukan, bulan berikutnya tetap kita lakukan. Misalnya, salat dhuha yang tak putus, baca Al-Qur’an tetap berlangsung dengan jadwal yang teratur, salat malamnya juga tak ketinggalan dan alarm yang tak berubah dari yang semula untuk bangun makan sahur kini bangun untuk tahajud.

Ibadah-ibadah ringan lainnya dan puasa sunah juga masih berlanjut. Seperti puasa senin kamis, puasa sunah Syawal, puasa Daud, puasa Yaumul Bidh dan masih banyak lagi

Baca Juga  Bisakah Menghitung Nikmat dari Allah?

Ada rasa sayang untuk meninggalkan hal-hal yang sudah rajin kita lakukan di bulan suci.

Berbagai upaya kita lakukan agar tetap semangat, tidak kendor untuk melaksanakan semua itu pada bulan-bulan berikutnya. Hal-hal ringan yang mengandung pahala bila tidak dimulai dari sekarang, apakah harus kita mulai di Ramadan tahun depan? Tidak kan?

Kiat sederhana untuk menumbuhkan sikap dan suasana Ramadan di bulan-bulan setelahnya adalah adanya rasa khawatir. Mengapa harus khawatir? Yah, kita harus punya rasa khawatir bahwa belum tentu kita bisa berjumpa lagi dengan Ramadan yang akan datang. Karena itu, mulai hari ini dan seterusnya, dalam hal beribadah dan bermuamalah, suasana Ramadan kita usahakan tetap hadir di tengah-tengah kita.

Bagikan
Post a Comment