Tiga Fase dalam Pernikahan yang Akan Kamu Lalui

5 menit baca
Teks:
WhatsApp

Memiliki hubungan romantis yang langgeng dengan pasangan merupakan impian banyak orang. Apalagi jika hubungan dengan pasangan dapat berlanjut hingga ke jenjang pernikahan dan hanya maut yang bisa memisahkan; ialah sebuah relasi yang diidam-idamkan. Tak mengherankan jika perasaan cinta yang berbalut romantisme dalam hubungan akan mendorong keinginan kuat untuk segera melangsungkan akad nikah.

Pesatnya kemajuan teknologi menjadikan tren konten tentang romantisme pernikahan juga melejit. Ini menjadi tantangan tersendiri untuk kita sebagai pengguna media sosial dalam memaknai setiap konten yang kita saksikan. Dalam hal ini, khususnya konten yang berkaitan dengan pernikahan perlu kita sikapi bijaksana dan perenungan yang panjang.

Konten romantis tentang nikah muda misalnya ialah konten yang seringkali menampilkan gambaran pernikahan yang tidak utuh. Jika tidak hati-hati dalam memaknai apa yang terlihat secara sekilas dapat membuat kesalahpahaman yang berujung pada tindakan yang kurang tepat. Namun, gencarnya konten-konten semacam ini dan waktu akses media sosial yang cenderung cepat bisa mengalihkan fokus kita untuk tak memperhatikan pada makna yang sesungguhnya.

Benarkah Pernikahan Seperti yang Digambarkan di Media Sosial?

Jika kita menilik kembali konten yang viral tentang pernikahan di media sosial, ada dua gambaran yang ditampilkan. Pertama, apabila konten tersebut tentang nikah muda dan pengantin baru seringkali kesan yang didapatkan ialah hubungan yang romantis dan manis. Kedua, sisi lain yang ditampilkan media sosial tentang pernikahan yang sudah berjalan lama cenderung mengambil isu-isu perselingkuhan, perceraian, dan kehidupan pernikahan yang gagal.

Dua gambaran dalam konten ini menyasar warganet yang berbeda. Dari segi usia, konten nikah muda dan romantisme pengantin baru lebih banyak dinikmati oleh remaja dan pemuda. Tak heran jika merebaknya konten-konten sejenis ini mengakibatkan meningkatnya keinginan untuk segera menikah dan membuat euforia nikah muda semakin tinggi.

Sementara itu, konten perselingkuhan dan perceraian cenderung memantik perhatian warganet di rentang usia dewasa. Tak jarang, komentar pedas dan nyinyir menghiasi jagad maya karena viralnya kasus-kasus tersebut.

Apabila remaja dan pemuda-pemuda lebih banyak menyaksikan konten-konten nikah muda dan romantisme pengantin baru, ini dapat meningkatkan keinginan untuk melakukan hal yang sama. Sedangkan, gambaran pernikahan yang ada di media sosial ditampilkan hanya sekilas alias tidak menyeluruh.

Menikah bukan hanya berisi tentang hal-hal manis saja. Namun, jika remaja dan pemuda lebih banyak mengkonsumsi konten perselingkuhan dan perceraian bisa jadi ada ketakutan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Padahal, pernikahan tidak melulu berakhir dengan perceraian dan perselingkuhan.

Lalu, Bagaimana Gambaran Pernikahan yang Utuh Itu?

Bagi kamu yang belum menikah, gambaran kehidupan pernikahan mungkin masih terlihat samar-samar. Tak jarang keraguan dan ketakutan itu muncul karena belum mengalamihal tersebut. Jika melihat bagaimana media sosial menggambarkan dunia pernikahan, bisa kita lihat ada beberapa situasi yang menyenangkan dan menyakitkan.

Romantisme pernikahan membuat sebagian orang merasa ingin cepat-cepat menikah. Seakan pernikahan adalah dunia keindahan, dunia penuh rasa cinta, dan penuh kebahagiaan. Di sisi lain, konflik rumah tangga yang viral di media sosial juga mempengaruhi perasaan-perasaan banyak orang. Tak jarang menambah rasa cemas, takut, dan marah menyaksikan fenomena yang muncul. Lalu bagaimana sih sebenarnya kehidupan pernikahan itu? Lebih dominan mana romantis dan konflik dramatisnya?

Setidaknya dalam menjalani kehidupan pernikahan, ada tiga fase yang biasanya akan hadir. Apa saja fase-fase tersebut?

Pertama, fase awal yang biasanya terjadi dalam pernikahan ialah fase-fase romantis.

Keindahan malam pertama, pengalaman baru tinggal bersama, dan keinginan mewujudkan impian berdua begitu mengobarkan semangat baru. Fase ini ialah fase manis yang penuh kebahagiaan.

Biasanya di fase-fase tersebut pasangan saling mencurahkan isi hatinya, impiannya, dan harapannya. Selain itu, di tahap ini mulai memiliki ekspektasi terhadap pasangan yang tumbuh memenuhi pikiran dan perasaan.

Kedua, ialah fase konflik.

Tumbuhnya ekspektasi terhadap pasangan kemudian dijawab oleh realita yang berbeda dapat menimbulkan konflik. Masing-masing individu memiliki harapan yang berbeda terhadap pasangannya.

Sedangkan, tidak kita pungkiri bahwa harapan tersebut tidak semuanya terwujud. Tak jarang apa yang terjadi dalam fase pacaran berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam pernikahan.

Sangat mungkin watak, kebiasaan, dan perlakuan pasangan mengalami perbedaan di waktu pacaran dan setelah menikah. Perubahan inilah yang kemudian dapat memicu terjadinya gesekan, perbedaan pendapat, dan masalah.

Ketiga, fase kompromi dan penyesuaian diri.

Setelah mengetahui bahwa ada harapan-harapan yang belum bisa dipenuhi oleh pasangan, lalu apa yang akan dilakukan? Apakah seseorang akan menyerah dan mengambil langkah perceraian? Atau sebaliknya, berupaya bertahan dengan menjalani proses adaptasi terhadap pasangan?

Sebagian besar memilih berkompromi dan bertahan, namun tak jarang ada juga yang mengambil keputusan untuk berpisah.

Tahap-tahap di atas umumnya terjadi pada pernikahan. Setiap hubungan baru yang dibangun pasti memiliki harapan agar selalu dapat berjalan beriringan dan mengarungi hidup berdua selamanya. Namun, dalam perjalanannya akan ada hal-hal yang tidak sesuai harapan. Seperti pepatah yang mengatakan bahwa tidak ada gading yang tak retak, tidak ada manusia yang sempurna. 

Begitu pun pasangan yang bersamamu, begitupun dirimu sendiri. Ada beberapa hal yang memang tidak mudah untuk dipenuhi. Pilihan untuk tetap bertahan atau berpisah adalah pilihan yang risikonya kamu akan tanggung di kemudian hari.

Maka, idealnya pasangan itu saling melengkapi. Menikah berarti siap menjalin fase-fase tersebut. Tidak ada pernikahan yang berjalan romantis terus menerus. Pasti ada perbedaan pendapat, gesekan, dan konflik. Namun, apakah dengan adanya konflik tersebut kamu siap dan mau berkompromi?

Sebelum menikah, pahami dulu tiga fase yang akan kamu lalui ini. Apakah kamu siap dengan konsekuensinya? Satu langkah maju setelah menikah, kamu tidak bisa mundur lagi. Jadi, pahami dulu dan jangan buru-buru.

Bagikan:
Penulis 1 Tulisan

Nur Khakiki

Nur Khakiki, alumni S1 Psikologi UIN Walisongo Semarang. Saya memiliki minat pada kajian-kajian psikologi, keluarga, pernikahan, dan sastra. Saat ini saya bekerja sebagai penulis lepas dan Peer Counselor di salah satu komunitas kesehatan mental

1 thought on “Tiga Fase dalam Pernikahan yang Akan Kamu Lalui”

  1. Sangat baik untuk memberikan wawasan bagi pasangan yang akan menikah atau masih ingin mencoba. Mungkin alangkah baiknya bisa di Jurnalkan atau dibukukan dengan bahasa yang renyah dan kekinian

    Reply

Leave a Comment