f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pranikah

Boleh Nikah Muda, Asal….

Oleh : Benni Setiawan

Nikah itu enak. Iya enak banget. Apalagi jika dilakukan di usia yang relatif muda. Muda itu berumur berapa? Ya setidaknya lebih sedikit dari aturan umum pemerintah. Pemerintah sudah menetapkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Perubahan Undang-Undang tentang Perkawinan ini, menjangkau batas usia untuk melakukan perkawinan, perbaikan norma menjangkau dengan menaikkan batas minimal umur perkawinan bagi perempuan. Dalam hal ini batas minimal umur perkawinan bagi perempuan dipersamakan dengan batas minimal umur perkawinan bagi laki-laki, yaitu 19 (sembilan belas) tahun.

Dengan kata lain, perkawinan hanya diizinkan apabila laki-laki dan perempuan sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun. Usia ideal perkawinan versi Undang-Undang Perkawinan yang terbit tahun 1974 adalah 21 tahun.

Itu standar minimal. Jangan ambil standar minimal. Naikan dikit, berapa, ya minimal laki-laki dan perempuan berusia 22 tahun. Usia lulus program S-1 lah. Itu minimal ya, sekali lagi jangan dijadikan patokan nikah harus berumur itu. Banyak pihak menyebut usia pernikahan ideal itu jika seorang perempuan berumur 21-24 tahun, dan laki-laki umur 25-30 tahun. Mengapa ideal? Ya saya kira umur itu cukup matang untuk hidup bersama. Kematangan itu dilihat dari apa?

Kematangan Psikologis

Pertama, kematangan psikologis. Kematangan ini penting, karena saat menikah Anda tidak hanya bergaul dengan istri/suami saja. Namun, Anda harus bisa “berdamai” dengan keluarga besar kedua belah pihak. Keluarga itu (big family) atau large family, yang terdiri dari kedua orang tua, anak-anaknya, paman dan bibinya, dan juga kakek-neneknya, dan saudara-saudara lain. Inilah keluarga, jadi Anda perlu “tahan” jika nanti ada suara daerah mereka. Suara itu sangat bersisik, bisa dalam bentuk nyinyir, bisa juga dalam bentuk yang lain. Pokoknya harus tahan deh. Kalau Anda masih sensitif dan kuping mudah panas berarti Anda belum matang secara umur. Anda belum siap untuk nikah. Hehe.

Kematangan psikologis ini tidak bisa ditutupi. Karena kalau ditutupi atau pura-pura matang bisa meledak. Ini berbahaya jika sudah membina mahligai rumah tangga. Eh rumah tangga itu artikel (small family, little family), terdiri dari suami, istri, dan anak. Kalau sekecil itu meledak, maka akan berujung pada cekcok dan akhirnya ada perceraian. Ingat cerai itu perkara yang amat dilarang oleh Allah. Perkara yang dibenci oleh Allah itu hanya dua, syirik dan cerai. Jadi dosa cerai itu 11/12 dengan dosa syirik. Tak diampuni, dan masuk neraka, haha.

Bagaimana cara mematangkan emosi dan psikologis. Tilik dulu masa kecil Anda, secure atau insecure. Kalau lupa atau gak tahu, sekarang Anda tipe mudah bergaul dan cuek, atau tidak mudah bergaul tapi easy going. Atau seperti apa diri Anda. Anda yang paling tahu.

Paling mudah lagi Anda matang dalam bersikap ikutlah berorganisasi. Organisasi apa saja. Di sana Anda akan berlatih bagaimana menata hati, ciiye menata hati. Pokoknya kalau Anda berorganisasi maka Anda sedang belajar memahami orang.

Uang itu Penting

Setelah matang secara psikologis, kedua yang ini tak kalah penting Anda harus punya penghasilan. Lho bukankah Allah akan mengkayakan orang yang menikah. Betul, saya yakin itu, tapi kalau Anda tidak punya skill, kemampuan, untuk menangkap rizki dari Allah itu berbahaya juga. Maka saya sepakat dengan lontaran Prof Muhadjir Effendy beberapa waktu lalu. Pasangan nikah harus punya penghasilan, harus punya tabungan, harus punya uang pokoknya.

Eh nikah itu gak murah lho. Ya kalau untuk beli mahar seperangkat alat salat itu mudah dan murah. Paling cuma 300 ribu, sangu dari orang tua sebulan kost di Jogja lah. Tapi, apakah Anda hanya cukup bersuami-istri dengan itu?

Rasulullah memberi mahar kepada Khodijah itu 100 ekor unta lho. Ya kalau sekarang kira kira 2 miliar lah (kalau dihitung dengan harga standar 20 juta per ekor). Ayo siapa yang mau ikuti sunnah Rasul? Memberi mahar sang dambaan hati dengan uang kira-kira 2 miliar.

Rasulullah sudah memberikan gambaran bahwa menikah itu butuh biaya. Biaya itu tidak sedikit. Apalagi lagi kalau pakai adat Jawa atau adat perkawinan Nusantara, habis banyak gaess. Uang atau biaya ini penting. Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Begitu kata anak- anak muda zaman sekarang.

Empat hal

Setelah dua hal di atas terpenuhi, maka Anda akan mempunyai mentalitas positif yang kuat. Nah mentalitas positif sebagai syarat ketiga butuh dua syarat di atas. Mentalitas positif juga bisa dibangun dengan Anda harus tahu calon suami/istri secara mendalam. Setidaknya diempat hal, kecantikannya, keturunan siapa, seberapa kaya dia, dan terakhir adalah agamanya.

Cantik atau ganteng mungkin bisa dilihat dengan indera. Namun, melihat tanpa indera itu juga penting. Cantiknya apakah karena dipoles setiap hari, ini yang perlu calon suami ketahui, karena perawatan kecantikan di salon berbiaya. Butuh uang bro ngajak istri ke salon, hehe.

Tapi yang paling penting dalam kecantikan itu adalah apakah dia selalu dapat memancarkan wajah gembira, dalam suka maupun sedih. Cantik dan ganteng itu pancaran jiwa yang tenang, teduh, dan tabah. Kecantikan yang dipoles akan mudah hilang termakan usia. Namun, ketenangan, keteduhan, dan ketabahan akan semakin kuat dimakan usia.

Terus, Anda perlu pastikan dia keturunan siapa. Keturunan (nasab) ini penting untuk dapat melihat riwayat penyakit, apakah darah merah atau darah biru, atau yang lain. Ini penting untuk tahu bagaimana kebiasaan masing-masing. Keturunan keraton/ningrat/atau mlarat atau apapun namanya, biasanya punya cara bergaul yang mungkin berbeda dengan warga kebanyakan. Demikian pula keturunan bisa untuk mendeteksi penyakit turunan. Ini saya tidak punya bacaan yang otoritatif. Nanti cari sendiri ya.

Selanjutnya hartanya, dia punya harta berapa rupiah. Kalau istri kaya misalnya, Anda harus bisa juga mempertahankan kekayaannya itu. Jika suami miskin, tidak punya banyak harta, bersiaplah untuk tirakat. Hidup sederhana dalam naungan ridho Allah swt. Hehe.

Terakhir agamanya, ini yang sangat penting. Agama itulah yang akan menjadi pelita dalam rumah tangga dan keluarga. Saat punya pemahaman agama yang baik, maka seseorang biasanya juga baik. Bukan baru belajar kemarin sore menganggap yang lain ahli bid’ah dan musyirikin, serta layak masuk neraka. Beragama itu artinya “menep” (teguh). Dengan itu dia bisa melihat banyak perbedaan dalam praktik beragama, sehinga tidak mudah kaget dan terpesona (kagetan dan ngumunan).

Pastikan juga dalam beragama Anda perlu yakin pilihan mazhab atau organisasinya. Kalau dia kader Muhammadiyah ya belajarlah jadi kader Persyarikatan juga. Biar imbang (sekufu). Tapi kalau beda ya yang penting Anda siap saja dengan dinamikanya.

Lha kok sulit menikah itu, banyak syaratnya? Gak juga kok, kalau Anda sudah yakin dengan syarat di atas segera menikah saja. Kalau belum yakin banyak-banyaklah berpuasa. Minta kepada Allah diberi pentunjuk jalan yang benar agar mendapat jodoh yang sholihah/sholih.

*Benni Setiawan, Dosen Ilmu Komunikasi FIS dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta, Anggota MPK PP Muhammadiyah, Peneliti Maarif Institute.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment