f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
milenial

Milenial dan Pendidikan Humanistik

Dahulu, teknologi informasi tidaklah memiliki dampak sebesar yang kita saksikan hari ini. Namun seiring berjalannya waktu, perkembangan zaman semakin pesat dengan banyaknya inovasi dan kecanggihan yang muncul. Perubahan ini tidak hanya terbatas pada perkembangan teknologi, tetapi juga sangat mempengaruhi kehidupan generasi muda.
Di masa lampau, generasi muda sering kali dianggap sebagai kaum yang kurang teratur dan kesulitan mengendalikan emosi. Tapi, pada zaman sekarang, mereka justru dianggap sebagai agen perubahan serta penggerak utama masyarakat.

Mengapa? Karena saat ini, mereka memiliki akses melimpah akan informasi dan kemudahan dalam komunikasi. Mereka mampu belajar kapan saja, di mana saja, dan mengikuti laju perkembangan teknologi digital dengan begitu mudah.
Lalu, apakah benar generasi muda layak menjadi agen perubahan bagi bangsa? Apakah sistem pendidikan saat ini sudah mampu membimbing mereka ke arah yang benar? Atau, mungkin, sistem ini belum cukup memadai untuk menuntun potensi luar biasa yang mereka miliki?

Kemajuan digital Vs Milenial

Dalam kegiatan Gerakan Subuh Mengaji di kanal Youtube TVMU Channel, Ustazah Isah Cahyani menguraikan bagaimana dinamika dunia modern telah memberi peran penting bagi Generasi Milenial. Menurutnya, generasi mereka yang berusia antara 18 hingga 38 tahun telah memegang peran utama dalam revolusi digital yang mengubah cara hidup, bekerja, dan berinteraksi.

Ustazah Isah menyoroti bahwa keberhasilan Generasi Milenial saat ini dapat didukung oleh empat prinsip kunci yang menjadi pilar kesuksesan bagi mereka. Pertama, mereka dianggap memiliki fondasi inovasi yang kuat. Mereka tak hanya memiliki ide-ide cemerlang, tetapi juga memiliki keberanian untuk mengubah ide menjadi tindakan nyata. Inovasi dan produktivitas terus mendorong langkah maju mereka. Di sisi lain, kemampuan mereka dalam ranah digital menjadi keunggulan tersendiri. Generasi ini mampu memanfaatkan potensi dari platform digital untuk mencapai tujuan mereka.

Baca Juga  Dua Sifat Penghambat Kesuksesan

Adapun ciri khas dari Generasi Milenial ini adalah semangat mereka yang tinggi dalam berwirausaha. Mereka miliki tingkat komitmen dan tekad yang tinggi dalam mencapai kesuksesan dalam karir dan usaha mereka. Tak hanya itu, kemampuan berkolaborasi mereka juga menjadi dasar kesuksesan. Mereka memahami bahwa kesuksesan bukan hanya hasil individu, tetapi juga hasil dari kerja keras dan kerja sama yang kuat di antara individu yang berbeda.

Dari berbagai kunci sukses untuk para generasi milenial, Ustazah Isah juga menggarisbawahi tantangan serius yang dihadapi oleh generasi ini. Ketergantungan pada teknologi, kecanduan gadget, paparan berlebihan terhadap game online, dan risiko lain seperti adiksi pornografi, cyber bullying, serta kejahatan daring lainnya. Semua hal tersebut menjadi ancaman nyata yang harus mereka hadapi.

Beliau menekankan bahwa Generasi Milenial sangat mudah terjerat dalam dunia maya karena rasa ingin tahu yang tinggi. Di sisi lain, mereka juga terkadang naif dan kurang berpengalaman. Oleh karena itu, Ustazah Isah menegaskan urgensi memberikan panduan, pendidikan, dan dukungan kepada generasi ini. Tujuannya adalah agar mereka dapat memanfaatkan teknologi digital dengan bijaksana dan tanggung jawab.

Pendidikan Humanistik Era Global

Pesan penting yang disampaikan oleh Ustazah Isah Cahyani adalah mengenai pentingnya menghadapi generasi milenial, terutama dengan menggunakan pendekatan teori humanistik. Teori ini memberikan landasan yang kuat untuk memahami dan membimbing individu dalam mengeksplorasi dan mengembangkan potensi mereka. Pendidikan humanistik menitikberatkan pada kebebasan individu untuk mengekspresikan diri, memberikan pijakan yang relevan dalam menghadapi generasi milenial.

Prof. Isah Cahyani menjelaskan peran teori humanistik dalam pendidikan bagi generasi milenial. Pertama, yang menjadi kunci utama adalah dengan memberikan perhatian dan motivasi kepada anak. Mendekati mereka secara intensif untuk memahami apakah mereka sedang mengalami masalah dalam hidupnya. Kedua, membantu mereka mengidentifikasi tujuan hidup, di mana seorang pendidik memiliki tanggung jawab sebagai pemandu yang membimbing mereka menuju arah yang benar sebelum menjadi pemimpin di masa depan. Ketiga, memahami karakteristik anak juga merupakan hal yang penting, di mana peran orang tua dan pendidik sebagai fasilitator yang memberikan dukungan sesuai dengan kebutuhan anak. Terakhir, mengorganisir dan menyediakan sumber belajar. Hal ini menjadi tindakan konkret untuk memastikan mereka memiliki semua yang diperlukan guna mengembangkan potensi mereka.

Baca Juga  Melihat dengan Mata, Mencintai dengan Hati

Dalam menghadapi tantangan dunia digital peran orang tua menjadi sangat penting. Mereka berusaha memahami karakteristik generasi milenial sebagai dasar untuk berdiskusi dan berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Orang tua seharusnya dapat berupaya menciptakan komunikasi yang efektif dan sesuai dengan perkembangan anak, menciptakan ruang diskusi yang nyaman dan bersinergi. Kesepakatan keluarga juga menjadi faktor penting dari adanya komunikasi dalam keluarga, sehingga dapat membantu mengelola waktu dan mengatur penggunaan alat teknologi digital. Dengan pendekatan ini, orang tua berperan aktif dalam membimbing anak-anak mereka menghadapi era digital dengan bijak dan seimbang.

Bimbingan Orang Tua dalam Pendidikan

Pendidikan humanis memberikan peran krusial kepada orang tua dalam membimbing anak-anaknya menghadapi tantangan era digital. Orang tua sebaiknya membangun fondasi pertahanan anak dengan nilai-nilai akhlak yang kokoh, menjadikan akhlak sebagai landasan utama dalam menghadapi dunia digital yang penuh dengan tantangan. Era digital memberikan ujian tersendiri, terutama dalam pengaruh media digital terhadap akhlak anak-anak.

Maka dari itu, Prof. Isah Cahyani mengajak orang tua untuk bersama-sama bergerak mengatasi fenomena ini dengan bijak dalam menghadapi kompleksitas dunia digital. Aktualisasi akhlak menjadi fokus utama untuk memperbaiki generasi saat ini. Adapun bentuk realisasi akhlak tersebut seperti mensyukuri nikmat Allah, merasa malu terhadap perbuatan dosa, melihat Allah sebagai tempat pengharapan, optimis terhadap pertolongan Allah, berhusnuzan kepada Allah, dan yakin terhadap janji-janji Allah.

Dengan pendekatan humanistik dan penerapan nilai-nilai keagamaan, Prof. Isah Cahyani menyampaikan bahwa melalui “Gerakan Subuh Mengaji,” kita dapat membentuk generasi yang kuat, berintegritas, dan mampu menghadapi dunia digital dengan bijak dan penuh akhlak.

Bagikan
Post a Comment