Kenapa Anak Harus Mempelajari Pelajaran yang Tidak Mereka Sukai?
“Bapak harap kalian bisa serius dalam mengikuti pelajaran di sekolah, sehingga kalian bisa mendapat ilmu yang bermanfaat dan menjadi orang sukses.” Kata Pak Bayu, Kepala Sekolah SD Negeri Sukakamu. Sementara bagi Roni, salah satu murid di sana, definisi ilmu bermanfaat masih belum jelas.
Roni ingin bertanya, “Apa itu ilmu yang bermanfaat?” Tapi urung. Dia pikir tinggal ikuti saja apa kata Pak Kepala Sekolah. Roni pun tumbuh sebagai anak yang berprestasi di bidang akademis, punya nilai tinggi di setiap mata pelajaran, dan sering memenangkan berbagai perlombaan. Seperti itu bertahun-tahun sampai dia lulus SMA.
***
Sejak SMA juga dia punya hobi menulis. Menulis puisi, cerpen, syair, esai bahkan novel. Dia menekuni hobinya. Mengikuti berbagai kelas menulis online dan seminar-seminar yang diadakan penulis ternama (tentu sebelum masa pandemi). Roni mengirim karya-karyanya pada media dan penerbit. Dia mendapat penghasilan yang cukup besar dari situ. Roni menjadi orang sukses seperti yang dikatakan Pak Kepala Sekolah.
Tapi kemudian Roni terpikir sesuatu. Tentang definisi ilmu bermanfaat yang dulu tidak jadi ditanyakannya. Apakah semua pelajaran sekolah yang serius sekali dia hafal adalah ilmu yang bermanfaat? Semua rangking dan kejuaraan yang dia menangkan adalah ilmu yang bermanfaat? Nyatanya yang membawanya sukses bukan MTK yang dia hafal mati-matian rumusnya, bukan juga sains, biologi, IPS maupun PPKN dan pelajaran lainnya. Yang membuatnya sukses adalah menulis.
Kenyataannya dalam kehidupan nyata dia tidak pernah ditanya tentang pelajaran-pelajaran di kelas dulu. Menulis novel tidak harus pintar MTK. Menulis novel tidak mewajibkan pintar IPA kecuali memang dia mau menulis cerita bergenre sciene fiction. Yang ada setelah lulus dari sekolah, semua pelajaran itu hanya menjadi masa lalu yang tidak lagi penting baginya.
Lalu apa yang didapat dari semua pelajaran yang dulu memeras tenaga dan pikirannya itu? Rangking? Nilai bagus di ijazah? Piala-piala? Piagam? Pujian? Lalu mau diapakan hal-hal itu? Dijual pun tak laku.
Roni masih beruntung. Sebagai anak yang gila belajar, dia sempat mempunyai hobi, satu passion yang bisa dia kembangkan, satu bakat yang dia cintai. Namun, banyak Roni-Roni lain yang terlalu sibuk mengejar nilai, sampai tak punya banyak waktu untuk mengasah bakat utamanya sebagai manusia, yang katanya punya bagian masing-masing dalam kemampuan bertahan hidup.
Roni-Roni yang ketika baru lulus, baru juga dia terkejut dengan kenyataan sulitnya mencari penghidupan; yang dalam prosesnya tidak benar-benar membutuhkan pelajaran-pelajaran yang dulu mati-matian dia pelajari di sekolah. Roni-Roni yang tercengang ketika teman-temannya yang bodoh dalam akademis lebih sukses dalam kehidupan nyata.
***
“Apa definisi ilmu yang bermanfaat? Bagaimana agar murid mudah menangkap pengertiannya kemudian mudah mendapat dan menggunakannya?”
Akan muncul banyak sekali jawaban atas pertanyaan “Apa itu ilmu yang bermanfaat?” seperti : “Ilmu yang digunakan untuk menolong orang lain.”, “Yang bisa membawa kepada kesuksesan.”, atau sesimpel “Yang bisa menghasilkan uang.” Tentu saya tidak membantah pendapat-pendapat itu, tetapi di tulisan ini saya ingin mengemukakan satu definisi baru soal ilmu yang bermanfaat.
Ilmu yang bermanfaat adalah ‘kita belajar hal yang kita sukai’. Tentu saja maksud suka di sini bukan kemudian kita memaksa murid menyukai suatu pelajaran, tapi benar-benar murid itu sendiri yang memutuskan. Dasarnya simpel. Orang yang mempelajari hal yang dia sukai akan lebih cepat memahami, semakin cepat orang memahami sesuatu semakin cepat pula dia menjadi ahli di bidang itu, orang yang ahli di bidangnya akan lebih banyak memberi manfaat di bidang tersebut, dan tentu saja kepakaran adalah hal yang mahal.
Kemudian jika ada pertanyaan sebaliknya. “Apa itu ilmu yang tidak bermanfaat?” Saya akan menjawab, “Mempelajari hal yang tidak kita suka.” Kenapa pula orang yang tidak suka pelajaran bahasa asing harus belajar bahasa asing? Antara dia tidak akan paham, atau mungkin paham kemudian tidak digunakan karena dia tidak punya minat di bidang tersebut. Dari sini Anda bisa menyimpulkan sendiri, apakah belajar mati-matian di semua pelajaran di sekolah termasuk jalan menuju ilmu yang bermanfaat?
Sayangnya fenomena “mempelajari apa yang tidak kita sukai” masih menjadi tren di generasi saat ini. Entah apa tujuan orang tua maupun guru-guru yang memaksa anak didik untuk mengejar nilai di pelajaran yang kurang dia mengerti, yang sulit dan tidak dia sukai? Terberkatilah Deddy Corbuzier yang pernah bilang, “Daripada mengursuskan MTK anak yang kurang nilai MTKnya untuk mengejar ketertinggalan dari temannya, bukankah lebih baik mengursuskan seni jika anak itu suka dan berbakat di bidang seni?”
***
Daripada mengejar orang lain di bidang yang sudah pasti kita tertinggal, bukankah lebih baik kita melesat meninggalkan orang lain di bidang yang kita kuasai? Akal sehat saya menangis melihat ini.
Tare Zameen Par, salah satu film yang dibintangi Amir Khan menggambarkan situasi itu dengan begitu baik. Bagaimana Ishaan, seorang anak yang Jenius di bidang seni tapi sangat bodoh dalam logika dan ilmu hitung di-judge oleh lingkungannya bahwa dia adalah anak yang idiot. Orang tua maupun guru-gurunya memaksa dia untuk membuat kemajuan nilai di bidang yang dia benci. Sampai suatu saat karena sudah berusaha melawan dan tetap tak bisa mengubah keadaan, -well, apa yang bisa dilakukan seorang anak kecil?- dia depresi. Dia mengalami keterbelakangan mental akut. Takut untuk berbicara dengan siapa pun.
Cerita ini memang mempunyai akhir yang baik, saat kemudian datang guru yang memahaminya dan mengangkat kembali mentalnya dengan berbagai cara. Tapi bukankah banyak anak yang senasib dengan Ishaan namun tidaak bisa punya akhir yang baik seperti Ishaan? Anak-anak yang dipaksa belajar dengan tekun hanya untuk bingung setelah lulus mau apa. Berapa banyak dari mereka yang akhirnya bisa mempelajari apa yang mereka suka saja? Berapa banyak dari mereka yang kemudian beruntung bertemu dengan guru yang bisa memahami bahwa mereka luar biasa? Lebih banyak mana antara mereka dengan anak-anak yang terus terjebak untuk mempelajari pelajaran sambil menganggap belajar itu beban?
“Apa itu ilmu yang bermanfaat? Kenapa murid tidak diberi keluasan untuk fokus bersungguh-sungguh mempelajari apa yang mereka suka saja? Alih-alih memaksa murid menyukai suatu pelajaran, kenapa bukan kita saja yang mengajarkan apa yang sebenarnya disukai murid itu?”
Betapa menyesalnya Roni-Roni di luar sana yang suka menulis tapi tidak punya kesempatan mengembangkan bakatnya. Yang banyak gagasan-gagasannya namun tidak pernah punya kesempatan untuk tertuang dan dibaca orang banyak. Betapa banyak karya cemerlang yang terkubur sebelum sempat dilahirkan.
