Siasat Suci dari Ruang Hati
Minggu kemarin, saya mendapatkan kabar menyedihkan. Sahabat saya seperjuangan mengalami penolakan lagi, setelah dia mengajak menikah seorang perempuan untuk yang kedua kalinya.
Bagaimana saya nggak sedih? Saya mengikuti proses PDKTnya—digarap secara lumayan serius—yang kurang lebih selama satu setengah tahun.
Berkali-kali saya menawarinya perempuan lain, tetapi dia tidak mau. Pada titik ini, saya mengerti bahwa dia amat mencintai perempuan itu.
Sehabis tragedi penolakan itu, kami bercerita semalaman suntuk di salah satu sudut kota Jakarta. Lalu, diputarnya soundtrack film Tenggelamnya Kapal Van Der wijck yang berjudul Teroesir. Tenggelamlah ia ke dalam palung kesedihan.
Mungkin laki-laki sok tabah bakal nyeletuk, “Kok bisa sih dia bersedih, lemah banget?!”
Et, tunggu dulu.
Menurut an-Nabhani, Keinginan memiliki seseorang untuk dijadikan istri/suami adalah manifestasi kecil dari Naluri Melestarikan Keturunan (Gharizah al-nau’).
Yang perlu dicatat adalah bahwa kegagalan dalam memenuhi kebutuhan “naluri” tidak akan menimbulkan kerusakan yang berarti (selama kita tidak menurutinya). Ia hanya menimbulkan kegelisahan (kesedihan).
Artinya, ini adalah hal yang alamiah dan wajar. Apabila di kemudian hari kebutuhan naluri itu terpenuhi, maka kegelisahan akan lenyap dengan sendirinya.
***
Berkaca dari kisah sahabat saya di atas, saya merasa berkewajiban menyampaikan kepada para pencinta. Seperti yang dikatakan oleh Erich Fromm “cinta itu ada seninya.” Tidak bisa dipahami dan digarap secara ugal-ugalan.
Maksudnya begini, bolehlah kita memiliki spirit yang berlebih dalam mencintai. Bolehlah kita memiliki selusin keyakinan diri. Tetapi itu tidaklah cukup.
Kalau sekadar bermodalkan semangat dan keyakinan yang ajeg tapitanpa perhitungan, kita bakal menemukan kegagalan yang menyedihkan. Lagi-lagi Erich Fromm mencatat: cinta butuh pengetahuan dan upaya.
Pengetahuan itu meliputi obyek dan falsafah cinta. Pengetahuan falsafah-cinta bisa kita dapat dengan membaca buku-buku yang membahasnya dari berbagai perspektif. Hal ini berfungsi untuk membawa kita pada cinta maknawi.
Sementara pengetahuan atas obyek, yaitu informasi tentang orang yang kita cintai hanya bisa kita dapat dari “mengintainya” secara cermat. Kedua poin ini mengonfirmasi pernyataan Paracelsus, “Dia yang tak tahu apa pun, tak mencintai apa pun.”
Selanjutnya hal ini dapat kita jadikan acuan dalam menentukan langkah yang harus kita ambil. Tetapi keberhasilannya tidak ditentukan mutlak oleh pengetahuan saja—harus ada upaya setelah itu. Upaya memiliki posisi penting dalam menentukan keberhasilan PDKT.
Upaya yang konsisten dan penuh perhitungan lambat laun bakal meruntuhkan tembok hati seseorang. Dan saya yakin Sodara juga pernah membuktikannya. Namun demikian, dalam konteks ini ada dua jenis “upaya”, yaitu upaya secara frontal dan upaya secara subtil.
Upaya frontal sudah sering dilakukan dan dibicarakan orang, misalnya, dengan memberikan perhatian dan menunjukkan pengorbanan secara terang-terangan kepada gebetan. Nah, upaya subtil ini yang jarang dibicarakan, apalagi dipraktikkan.
Tapi jujur saja, saya lebih senang dengan cara yang kedua. Meskipun, pasti kaliyan akan mengejek, “Siapa sih yang mau dicintai secara diam-diam— nggak gereget banget!”
***
Ketika membicarakan tentang jagat perjodohan, sebenarnya letak persoalannya bukan pada seberapa yakin dia jodohmu? Anda tidak bisa cuma mengandalkan pada keyakinan buta saja. Harus ada perhitungan yang cermat lagi senyap.
Sebagaimana tiap-tiap orang, saya pun pernah mengalami berada-dalam-cinta (standing in love). Pada saat saya jatuh cinta itu, saya mengetahui dengan jelas tiap kelemahan diri. Sampai-sampai saya membuat perhitungan. Untuk dia dapat mencintai saya saja mendekati taraf kemustahilan, apalagi sampai ke level pernikahan.
Tapi jangan lupa dengan satu narasi yang biasa dicomot oleh mahluk-mahluk kasmaran: Allah mampu membolakbalikkan hati sesiapa saja yang dikehendaki-Nya.
Cinta yang saya miliki amat kuat, tetapi saya tidak berani menetapkan keyakinan secara pasti bahwa dia jodohku. Saya cuma meyakinkan diri bahwa semua harus dimulai dari “pemantasan”. Secara fisik dan secara watak, saya dan dia nggak ada pantas-pantas sama sekali. Namun, lagi-lagi saya mengandalkan kerja-kerja Tuhan, berharap Tuhan “merekayasa” ketidakpantasan ini menjadi kepantasan.
Maka, sejak saya mulai jatuh cinta itu, saya “mengintainya” secara subtil—metode ini saya lakukan agar ia tidak buru-buru mengetahui bahwa saya amat mencintainya. Dengan mengumpulkan seluruh informasi tentang dirinya, pemantasan yang saya jalani dapat lebih tepat sasaran.
***
Sebenarnya bisa saja saya memakai metode “tembak 12 pas”, tapi dia akan sangat terkejut. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba menyatakan perasaan. Dia bakal tertawa geli! Kata ogah berpotensi terlontar dari mulutnya secara kilat.
Kalau saya mengajaknya berpacaran sebagai “pemanasan”, ini pun jauh dari prinsip yang saya pegang selama ini (walaupun sebenarnya belum tentu dia mau ha-ha-ha!).
Intinya, saya menolak cara-cara “ilegal”. Bukan bermaksud menyemai moral munafik. Tetapi, cinta yang baik diarahkan oleh akal budi. Dan saya tak ingin membuatnya menjadi bergerigi oleh pasir-pasir pseudo.
Plato dalam bukunya yang berjudul Symposium mencatat, “Dia yang terdidik dalam perkara-perkara cinta … dan memperhatikan hal-hal yang indah dengan benar dan sesuai aturan … secara naluriah akan bertindak seperti itu hingga perkara-perkara cinta itu berakhir.”
Saya ingin mencintainya secara baik, tanpa harus mengumbar dan meyakinkannya dengan berpanjang-panjang kata. Dan saya ingin memilikinya secara benar, tanpa harus melalui mekanisme “pemanasan” itu. Sebab, saya meyakini cara terbaik mendapatkan seorang perempuan adalah “dengan tidak berusaha mendapatkannya.”
Dan harus saya akui, bahwa semua ini adalah bagian dari “siasat suci”, inilah upaya yang saya pilih menuju pintu hatinya. Kedalaman perasaan ini hanya diketahui oleh saya dan Tuhan saja. Dan hanya mampu saya teriakkan melalui tulisan. Tetapi sejatinya perasaanku itu sedang menunggu momentum yang tepat untuk di-“ledakkan”. Kasarnya, saya sedang mengumpulkan kekuatan daya tawar di hadapannya nanti.
Meskipun, saya memahami dia itu jauh dari jangkauan tangan proletar sepertiku. Tetapi saya mencoba meyakinkan diri bahwa saya harus mencobanya. Apabila sampai pada waktunya, dan isi ruang hati ini “terbongkar”—lalu nasib baik tidak berpihak kepada saya. Saya tidak akan meronta-ronta, apalagi gantung diri!
Paling banter saya akan menghidupkan lagu Teroesir-Giring Nidji; untuk sedikit meninabobokkan kesedihan.
Aktivis Pendidikan, Mahasiswa Filsafat
