f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
standar

Salahkah Aku jika Tidak Memenuhi ‘Standar’ Itu?

Isu mengenai perempuan selalu hangat menjadi perbincangan, apalagi dengan budaya di Indonesia yang masih patriarki. Perempuan seolah-olah dituntut untuk menjadi manusia sempurna, yang hakikatnya kesempurnaan itu tidak mungkin dapat dicapai oleh manusia. Pada tulisan ini, penulis ingin membahas fenomena isu perempuan yang berkembang di masyarakat, yaitu tuntutan peran dan fisik pada seorang perempuan.

Sejak kecil mayoritas anak perempuan sudah dituntut untuk mempelajari banyak hal di luar pembelajaran akademik. Yang katanya itu akan lebih berguna untuk kehidupannya di masa depan, melebihi kegunaan pembelajaran di sekolah. Seperti contoh, hampir setiap anak perempuan kecil yang duduk di bangku kelas 5 atau 6 Sekolah Dasar sudah mulai diajari oleh ibunya bagaimana cara menyapu, mengepel, mencuci piring, dan berbagai pekerjaan domestik lainnya. Hal tersebut dilakukan dengan dalih untuk persiapan di masa depan agar dapat menjadi seorang “ibu dan istri yang baik”. Seakan-akan peran “ibu dan istri yang baik” sudah memiliki standar tersendiri bagi masyarakat. Selain itu, ketika mulai beranjak remaja hingga dewasa perempuan juga diharuskan untuk mengikuti standar bagaimana seharusnya seorang perempuan berpenampilan dan bersolek. Perempuan seperti dituntut untuk “menjadi cantik” namun cantik dalam versi masyarakat, bukan cantik dalam versi dirinya sendiri.

Dua contoh di atas membuat kaum perempuan tidak bebas menjadi dirinya sendiri dan berusaha mengikuti tuntutan masyarakat tersebut tanpa mempertimbangkan kenyamanan, keinginan, dan kesehatan mental dirinya. Karena perempuan  yang dapat memenuhi standar tersebut seakan mendapatkan self esteem–nya. Sedangkan perempuan yang tidak mengikuti standar tersebut seolah memiliki self esteem yang lebih rendah dibandingkan dengan perempuan yang mengikuti tuntutan masyarakat tersebut.

Maka dari itu dibuatnya tulisan ini untuk memberikan kesadaran dan motivasi kepada kaum perempuan bahwa self esteem seorang perempuan tidak ditentukan oleh pemenuhan dirinya terhadap berbagai standar masyarakat. Melainkan perempuan dapat memiliki self esteem-nya menurut standarnya sendiri. Perempuan juga bisa menjadi cantik menurut versinya sendiri tanpa harus menjadi orang lain. Apalagi hingga mengorbankan kenyamanan, keinginan dan kesehatan mentalnya.

Baca Juga  Ketahui Bersama Memori pada Otak Manusia
Mitos “Kewajiban” Seorang Perempuan

Isu mengenai peran seorang perempuan selalu menjadi pembahasan yang menarik. Pasalnya masih banyak sekali masyarakat yang menganggap bahwa perempuan memiliki peran yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Namun faktanya perempuan terlalu banyak menanggung peran. Contohnya dalam rumah tangga, perempuan harus pintar-pintar membagi perannya, menjadi istri dan juga ibu, dengan masing-masing tugas yang banyak dan berat. Menjadi seorang istri dalam perspektif masyarakat, seorang perempuan harus mengerjakan segala pekerjaan domestik. Mulai dari memasak, membersihkan rumah, mencuci baju dan sebagainya, yang “katanya” itu adalah kewajiban seorang istri. Namun di samping itu perempuan juga dituntut untuk melayani suami dan dituntut untuk tetap menjaga dirinya agar tetap terlihat cantik, meskipun sudah menikah dan melahirkan. Karena ketika suami berselingkuh sering kali masyarakat malah menyalahkan seorang istri. Yang katanya istri tidak pandai dalam menjaga penampilan sehingga membuat suami bosan dan sebagainya.

Belum lagi jika perempuan bekerja, ia harus bisa membagi satu orang (dirinya) menjadi banyak peran dalam waktu yang bersamaan, menjadi seorang istri, ibu, dan pekerja. Karena walaupun ia bekerja, perempuan pasti akan tetap dituntut untuk melaksanakan mitos kewajiban dari seorang perempuan. Padahal pekerjaan domestik dapat dilakukan oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Namun perempuan (apalagi yang bekerja) selalu berusaha memenuhi hal tersebut tanpa memikirkan dirinya. Karena ketika ia memenuhi standar tersebut perempuan akan mendapatkan self esteem-nya. Sedangkan jika tidak, perempuan akan dianggap rendah oleh masyarakat karena ia tidak termasuk dalam kategori “ibu dan istri yang baik”.

Haruskah Menjadi “Cantik” dalam Versi Mereka (Masyarakat)?

Seperti yang sudah penulis bahas sekilas di atas, kaum perempuan seolah didoktrin dengan kesempurnaan yang harus melekat pada dirinya. Baik kesempurnaan secara fisik, peran dan hal lainnya. seorang perempuan dituntut untuk menjadi cantik secara fisik. Cantik sebagaimana standar yang dibuat oleh masyarakat, kulit yang harus putih, bentuk tubuh yang ideal; tidak terlalu kurus dan juga tidak terlalu gemuk, memiliki tinggi ideal, make up yang natural tetapi dapat terlihat menawan dan sebagainya. Sialnya sebagian besar kaum perempuan mempercayai hal tersebut. Sehingga banyak perempuan yang berbondong-bondong untuk mempercantik dirinya sesuai dengan standar yang telah ditentukan masyarakat tersebut.

Baca Juga  Dukung Perempuan Korban Kekerasan Seksual, Voice of Baceprot Rilis Lagu [Not] Public Property

Perempuan dengan warna kulit sawo matang, rambut keriting, badan yang gemuk, wajah yang jerawatan, cenderung tidak dapat percaya diri ketika tampil di muka umum karena ia mengira dirinya jauh dari kata cantik, sebagaimana standar cantik yang berkembang di masyarakat. Sehingga banyak upaya yang dilakukan kaum perempuan agar bisa menjadi “cantik” dalam versi mereka (masyarakat). Perempuan rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk menjadi “cantik”. Hal teesebut dilakukan dengan menggunakan skincare yang mahal, make-up yang bermerk, perawatan wajah, perawatan tubuh dan sebagainya.

Selain mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, untuk dapat terlihat cantik perempuan juga harus rela menahan sakit dalam proses perawatan tersebut. Sehingga ada slogan “menjadi cantik memang harus sakit”. Perempuan harus mengorbankan rasa nyaman pada dirinya agar bisa terlihat cantik di muka umum, dengan mengenakan pakaian, sandal, bentuk rambut atau apapun itu yang sebenarnya ia tidak nyaman memakainya namun tetap ia paksakan agar terlihat cantik dan sesuai tren yang berkembang pada saat itu.

Bukankah beberapa hal tersebut membuat perempuan tidak bebas untuk menjadi dirinya sendiri? Perempuan berusaha cantik menurut versi orang lain, walaupun mungkin sebenarnya ia tidak menyukai hal tersebut. Atau bahkan, perempuan merubah hal-hal yang ia sukai pada dirinya karena itu tidak sesuai dengan standar cantik yang ada. Lalu mengapa kaum perempuan melakukan itu? Perempuan rela mengorbankan banyak hal untuk menjadi “cantik” dalam versi mereka karena perempuan merasa lebih mendapatkan self esteem-nya dibandingkan jika ia tidak memenuhi standar tersebut.

Kesimpulan dari permasalahan yang telah dibahas yaitu perempuan tidak perlu mengikuti standar yang ditetapkan masyarakat untuk dapat menjadi “ibu dan istri yang baik”, juga menjadi “cantik” untuk mendapatkan self esteem-nya di mata masyarakat. Apalagi ia (perempuan) sampai harus kehilangan dirinya sendiri dan mengorbankan keinginan, cita-cita, kenyamanan, serta kesehatan mentalnya.  Perempuan mampu mendapatkan self esteem-nya dengan tetap menjadi dirinya sendiri dan mengutamakan keinginan, cita-cita, kenyamanan, serta kesehatan mentalnya. Perempuan bisa menetapkan standarnya sendiri untuk menjadi “ibu dan istri yang baik” juga “cantik” menurut versinya sendiri. Bukan mengikuti standar masyarakat.

Bagikan
Comments
  • Albustomipauzi

    Kerennn 😍

    Agustus 3, 2024
Post a Comment