Tak Mudah bagi Anak Membuka Pintu untuk Orang Baru
Pada kasus perceraian dalam rumah tangga, sebagian orang tua yang telah berpisah masih bersikap abai terhadap emosi dan psikologis anak. Memang tidak semua perceraian menjadi sebab anak bermasalah, karena terkadang keputusan untuk bercerai tidak selamanya buruk. Bercerai atau anak-anak hidup dalam keadaan rumah tangga yang dipenuhi emosi negatif dan konflik. Keduanya sama buruknya apalagi jika tiada cara untuk menyelamatkan anak terlebih dahulu. Orang tua cenderung berpikir, bahwa anak pasti mampu menanggung dan menerima situasi seburuk apa pun pasca perceraian kedua orang tuanya.
Padahal faktanya tidaklah demikian, karena menyaksikan proses kedua orang tua di rumah mulai dari pertengkaran, berselisih paham, hingga kekerasan dan berakhir pada perceraian adalah proses yang menyakitkan. Di mana dampak dari perceraian menyebabkan anak merasa sedih, bingung, takut, marah, perasaan bersalah, rasa tidak aman, dan kesepian. Rasa kehilangan begitu dalam, namun mereka belum mampu mengelola perasaannya saat situasi itu terjadi. Anak-anak dirundung kecemasan, khawatir apabila perpisahan orang tua akan mempengaruhi masa depan mereka. Kegundahan tentang bagaimana nasib hubungan mereka nanti dengan kedua orang setelah berpisah? Apakah mereka tetap memiliki akses yang sama pasca perceraian terhadap kedua orang tua mereka?
Anak Membutuhkan Waktu untuk Menerima Perceraian Orang Tua
Perceraian tidak semata-mata melukai pasangan yang berpisah, ada sosok kecil yang belum sempurna seutuhnya sebagai manusia, turut serta menjadi saksi hidup atas peristiwa buruk tersebut. Setiap anak juga akan memiliki reaksi yang berbeda. Hal ini tergantung pada usia, kepribadian, dan dukungan yang mereka dapatkan. Beberapa anak-anak merasa kesulitan untuk menyampaikan isi hatinya, karena merasa malu, takut, dan kebingungan.
Kemampuan anak untuk menerima perubahan keadaan setelah perceraian akan mengalami titik puncaknya, yaitu mengetahui bahwa orang tua mereka akan menikah lagi. Tentu saja tidak mudah bagi anak menerima kenyataan, bahwa mereka harus menyerahkan orang yang paling berarti dalam hidupnya kepada orang lain. Selain itu kehadiran orang baru bagi anak-anak setelah perceraian orang tua dapat menimbulkan berbagai perasaan dan tantangan emosional pada psikologis mereka.
Pertimbangkan Perasaan Anak Sebelum Kembali Memulai Hidup Baru
Luka atas perpisahan kedua orang belum juga rampung, anak-anak harus menerima luka baru, yaitu harus membuka pintu untuk kehadiran orang baru. Tidak mudah bagi anak beradaptasi, karena terlalu banyak emosi yang harus ditanggulangi. Deburan rasa cemburu, amarah dan takut ditinggalkan membuat anak merasa terancam akan kehilangan cinta dan perhatian dari orang tua. Situasi di mana seorang anak kehilangan arah atau merasa bingung saat orang tua mereka menikah lagi bisa menjadi pengalaman yang sulit bagi anak tersebut.
Beberapa anak mungkin merasa ditinggalkan oleh orang tua yang akan menikah lagi. Mereka mengira nantinya orang tua akan lebih fokus pada pasangan baru dan mengabaikan perasaan serta kebutuhan mereka. Tidak hanya itu saja, kehadiran orang baru di mata anak bukanlah keluarga baru melainkan pengganggu. Pengganggu yang sudah bersiap untuk mengambil alih semua yang perlahan mulai tertata rapi pasca perceraian. Alih-alih merasa bahagia atas pernikahan ayah atau ibunya anak justru merasa menjadi orang asing dan berada di luar keluarga barunya.
Selain itu anak-anak akhirnya hanya menjadi korban dari tekanan dan pergunjingan lingkungan atas pernikahan baru ayah dan ibunya. Menyakitkan bagi anak harus menjawab pertanyaan orang-orang sekitar, yang terkadang bernada penuh ejekan, merendahkan dan tidak punya empati pada anak-anak.
“Ayahmu menikah lagi ya? Wah punya ibu baru nih?!”
“Kamu pulang kemana? Ayah tirimu baik? Saudara tirimu berapa orang?”
Memerlukan mental yang kuat bagi anak untuk mampu menjawab semua pertanyaan itu. Pertanyaan yang terkesan menelanjangi, merendahkan harga diri seorang anak sampai ke dasar lautan paling dalam. Maka kehadiran orang baru justru seperti ancaman terhadap kestabilan emosional mereka. Meski memang ada anak-anak yang secara terbuka dapat menerima pernikahan kedua orang tuanya, namun tetap saja sebagai orang tua setidaknya dapat mendukung pemulihan emosi dan kepercayaan diri anak terlebih dahulu sebelum memutuskan menikah lagi.
Jangan Terburu-buru! Berikan Waktu untuk Anak Pulih
Rasa kehilangan orang tua bagi anak-anak broken home, bukan semata-mata karena orang tua meninggal dunia. Penyebab dari rasa kehilangan itu karena terpisah oleh pernikahan baru orang tua mereka. Beberapa anak-anak broken home di antaranya bahkan mengatakan, bahwa mereka tidak tahu harus pulang ke rumah yang mana, seketika semua menjadi serba terbatas baik kasih sayang dan perhatian. Memberi ruang dan waktu pada anak, agar dapat memproses perasaan dan berbagai perubahan yang terjadi setelah perceraian orang tua setidaknya membantu anak memulihkan jiwa.
Menunda menikah lagi sampai keadaan kondusif kembali, bukan berarti jalan terbaik adalah seumur hidup menjadi single parent. Setelah perceraian, yang tidak kalah penting dari diri sendiri adalah pemulihan jiwa anak-anak. Memberi prioritas pada kesejahteraan dan kestabilan jiwa anak-anak jauh lebih penting daripada menikah lagi. Selanjutnya, memaksakan kehadiran sosok baru dengan menghadirkan laki-laki atau perempuan baru, justru bisa saja berdampak buruk. Selain tidak mengetahui, apakah orang baru tersebut tulus dalam menyayangi si anak atau malah sebaliknya.
Apakah kelak akan ada perbedaan perilaku, jika nanti akan lahir anak dari pernikahan yang baru? Apakah kehadiran orang baru mampu mengisi kekosongan sosok ayah atau ibu, atau justru menciptakan sejumlah praktik kekerasan baru bagi kejiwaan anak? Fakta yang sebenarnya adalah, anak tidak memerlukan orang baru dalam kehidupannya, tetap lebih baik seorang ibu atau ayah dengan entitas jiwa sebagai orang tua yang utuh, sehingga anak merasa penuh. Berilah anak waktu sebanyak mungkin, untuk membangun kepercayaan diri yang sudah hilang. Berikan waktu untuk anak bersandar sejenak menarik nafas lega setelah dunia yang mereka impikan hancur porak-poranda berserakan.
