f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
memilih

Ketika Hidup Memang Harus Memilih

Hari ini adalah hari kelima pelaksanaan uji coba pembelajaran tatap muka di sekolah anak bungsu saya. Banyak cerita tentang teman-teman dan situasi sekolah yang mengalir dari mulut ceriwis Feren. Sepertinya dia sangat menikmati pengalaman serunya ini.

Salah satu cerita serunya adalah tentang beberapa teman yang bersekolah memakai pakaian bebas, bukan berseragam. Ada yang memang belum memiliki seragam karena belum selesai proses jahit, ada juga yang semula sudah punya tetapi sempit karena lama tidak terpakai. Hal yang sama juga terjadi dengan sepatu, karena ternyata sepatu yang lama ada sudah tidak muat lagi.

Banyak orang tua yang merasa bahwa tahun lalu telah membuang uang percuma untuk membeli seragam dan sepatu. Pada tahun ajaran baru tahun lalu, mereka memilih untuk tetap bersiap menyambut sekolah dengan membeli seragam, sepatu dan perlengkapan sekolah lainnya. Hal itu dimaksudkan untuk berjaga-jaga jika setiap saat ada pengumumam dibolehkannya PTM mereka tak harus bersiap secara dadakan. Tetapi kenyataan berkata lain. Pada akhirnya ketika hendak pakai, semua tak muat lagi karena anak-anak tumbuh dengan cepat setelah setahun berlalu tanpa sekolah tatap muka

Di lain pihak, ada pula orang tua yang memilih untuk menunggu kepastian berita tentang pemberlakuan PTM sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli perlengkapan sekolah. Ya memang pada akhirnya, ketika ada ijin pemberlakuan PTM mereka harus gerak cepat dan meluangkan waktu untuk berburu seragam dan sepatu sekolah. Tetapi paling tidak mereka telah memutuskan tidak membuang uang percuma untuk seragam dan sepatu yang tak terpakai karena kesempitan.

***

Sudah sewajarnya kita menyadari bahwa selalu ada resiko dan keuntungan yang menyertai setiap pengambilan keputusan. Tetapi yang menjadi persoalan adalah, sudahkah kita berhitung dengan cermat mengenai rasio kerugian dan keuntungan yang akan kita tanggung dari keputusan tersebut. 

Baca Juga  Mengambil Hikmah dari Sahabat Syaban RA

Ada beberapa orang yang hanya berpikir tentang sisi baik dari keputusan yang ada. Dia tidak berani, bahkan sering menolak adanya kemungkinan negative dari keputusannya itu. Pada akhirnya, ketika ada efek negatif dari keputusan, yang muncul adalah rasa sesal, kecewa dan bahkan menyalahkan situasi.

Para orang tua yang menyadari bahwa keputusannya tahun lalu untuk tetap mempersiapkan seragam dan sepatu beresiko kesempitan, tidak akan berpikir telah membuang uang percuma. Toh jika memang kesempitan, bisa dialihkan untuk adiknya, sepupunya atau bisa juga diberikan kepada tetangga dan anak-anak lain yang membutuhkan.

Sedangkan mereka yang memilih untuk tidak mempersiapkan apa-apa sebelum adanya kepastian pemberian ijin sekolah tatap muka, sewajarnya jika berisiko harus bergerak cepat berburu seragam, sepatu dan perlengkapan sekolah lain secara mendadak. Jangan lupa juga, resiko panjangnya antrian, berebut barang dan harga yang melambung ketika semua berburu barang yang sama.

Untuk memutuskan sesuatu, memang memerlukan kedewasaan berpikir dan bersikap, juga data dan fakta untuk kita pertimbangkan. Dih, lebay amat sih, timbang memutuskan aja ribet banget. Ya, terkesan ribet kalau kita tidak terbiasa melakukannya. Tetapi akan berbeda jika kita telah terbiasa mendata fakta, mempertimbangkan berbagai efek positif dan negatif baru kemudian memutuskan.

***

Saya jadi teringat perkataan mbak Najwa Shihab yang pernah menjadi trending topik pada Nopember tahun 2019. Pada saat itu mbak Nana menjadi bintang tamu yang diwawancarai oleh Denny Cagur dalam acara Opera Van Java yang tayang di Trans7.

Saat disuruh memilih jurnalis atau ibu rumah tangga, mbak Nana menjawab, “Kenapa sih perempuan harus disuruh memilih? Bukankah kita bisa mendapatkan keduanya? Pertanyaan itu sejak awal sudah menempatkan posisi perempuan seolah-olah tak berdaya”. Belum sempat Denny menjawab, pendiri Narasi TV itu melanjutkan dengan berkata, “Setiap perempuan itu multi peran. Saya bisa menjadi ibu, menjadi istri, menjadi jurnalis”.

Baca Juga  Belajar Pendidikan Al-Quran Anak Usia Dini dari Doktor Kamil El-Laboody (2)

Ya, akan mudah untuk seorang mbak Nana untuk bisa berpendapat seperti itu mengingat situasi dan kondisi telah menempatkannya pada posisinya yang mendukung. Seorang perempuan yang memiliki intelektualitas, kemampuan materi,  juga support system yang baik.

Tetapi akan lain cerita jika situasi tersebut dialami oleh perempuan biasa, dengan intelektualitas, kemampuan materi dan support system yang biasa aja. Hidup akan menjadi arena untuk tetap harus memilih, prioritas mana yang harus didahulukan ketika semua hal sepertinya meminta untuk ditempatkan di urutan teratas.

***

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu seorang teman lama. Dia bercerita tentang segala kondisi memaksanya untuk memilih antara karir dan keluarga. Pada akhirnya karena pertimbangan rasa cintanya pada orang tua yang sedang sakit, ia memutuskan untuk resign dari pekerjaannya di kota dan pulang kampung untuk merawat orang tua tercinta. Bahkan keputusan untuk pulang kampung akhirnya menjadikan teman saya tersebut tak hanya harus kehilangan karir yang telah dibangunnya, tetapi juga menjadikan dirinya dan suami harus menjalani pernikahan jarak jauh.

Mengapa tidak mengambil opsi untuk tidak memilih? Orang tua diboyong untuk tinggal bersamanya dan suami di kota misalnya? Kemampuan finansial yang tidak seberapa, tidak memungkinkan mereka untuk memboyong orang tua ke kota. Ya, fasilitas kesehatan memang sudah semakin mudah di negeri ini dengan BPJS yang bisa digunakan sewaktu-waktu. Tetapi bagaimana dengan cost living dan akomodasi? Biaya makan, transportasi dan biaya hidup sehari-hari di kampung tentu akan lebih hemat daripada di kota.

Ya, ada banyak hal yang harus ia pikirkan ketika memutuskan pulang kampung. Seperti anak-anak yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru, biaya makan yang akhirnya menjadi ‘2 dapur’ padahal dia sudah kehilangan pekerjaan. Jangan lupa juga kesempatan berkumpul dengan suami yang hanya bisa diperoleh sekali sepekan.

Baca Juga  Masjid (Tanpa) Kubah dan Menara
***

Pertimbangannya, anak-anak masih kecil, baru di awal sekolah dasar, jadi lebih mudah beradaptasi karena lingkungan pertemanan di kota juga masih terbatas. Tentang ‘2 dapur’, orang tuanya memiliki kebun dan beberapa hewan ternak yang bisa terbagikan hasilnya meskipun tidak banyak. Dia juga berpikir mungkin bisa memulai usaha jualan kecil-kecilan di rumah orang tuanya.

Tentang waktu kumpul keluarga? Big thanks untuk era digital yang memudahkan kita untuk tetap bisa berkomunikasi jarak jauh. Ya, memang harus ada penyesuaian dan penghematan di beberapa hal, tetapi itulah resikonya. Meski demikian, rasa cinta dan penghormatan kepada orang tua pantas untuk mendapatkan pengorbanan yang sepadan. “Daripada aku menyesal nantinya, Din“. Katanya di ujung cerita.

Ya, hidup memang harus memilih. Seperti saya yang memilih untuk menuliskan cerita ini daripada berkencan dengan tumpukan setrikaan di depan saya. Karena kalau tidak memilih, saya yakin tak akan mampu untuk menulis sambil menyetrika.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment