Mental Block: Hambatan Terbesar Menuju Kesuksesan
Seberapa sering kamu memberi afirmasi positif pada diri sendiri? Seberapa sering kamu berpikiran positif pada diri kamu? Pernahkah kamu memberikan reward pada diri kamu sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar sepele namun sangat berdampak pada kesehatan mental kita. Karena hal ini akan berkaitan dengan topik mengenai mental block.
Ada sebuah analogi dari buku yang saya baca mengenai topik ini. Dalam buku tersebut menjelaskan bahwa mental block seperti sel tahanan bagi orang yang berbuat kriminal di lembaga pemasyarakatan. Akan tetapi yang dipenjarakan bukan fisiknya melainkan mental kita.
Berdasarkan analogi tersebut apa sih sebenarnya mental block itu? Definisi mental block ini pernah saya baca dalam buku Breaking Your Mental Block. Buku tersebut menjelaskan bahwa mental block adalah cara berpikir dan berperasaan yang terhalangi oleh ilusi-ilusi yang sebenarnya hanya membuat kita terhambat dalam melangkah menuju kesuksesan.
Sifat mental block itu dapat positif maupun negatif, sebagaimana penjelasan yang ada dalam buku tersebut. Mental block yang bersifat positif akan membuat individu tidak mau melakukan lagi sesuatu yang bisa menghambat atau membuat mereka hancur kembali. Sedangkan mental block negatif dapat membuat seseorang menjadi terhambat tujuannya untuk menjadi lebih baik. Lalu jika melihat pada saat ini, keadaan mental masyarakat saat ini kebanyakan kasus yang terjadi yaitu mengenai mental block yang bersifat negatif.
Penyebab Munculnya Mental block
Mental block ini muncul karena pengalaman-pengalaman masa lalu dengan cara pandang yang salah. Maka dari itu mental block akan berkaitan erat dengan pikiran negatif. Hal ini sejalan dengan pendapat Yusdarmanto, dalam bukunya yang berjudul Spiritual Mental Block. Buku tersebut menjelaskan bahwa penyebab munculnya mental block yaitu kekeliruan pengalaman hidup, pergaulan, sisa trumatik, sisa luka batin, sisa pengalaman yang tidak mengenakkan ketika kecil ataupun kekeliruan cara pandang atau pendidikan yang tidak tepat. Menurutnya mental block terjadi karena program-program negatif yang ada dalam diri individu.
Mental block juga akan berdampak pada rasa bersyukur karena adanya sindrom inferior complex atau sindrom rendah diri. Dalam hal ini kita akan terkurung oleh perasaan-perasaan yang merendahkan diri kita, sehingga kita cenderung mengabaikan kemampuan yang kita miliki. Maka dapat dikatakan bahwa kita akan lebih meng-highlight pada kekurangan dan kelemahan kita. Hal ini tentunya tidak baik bagi kesehatan dan kebebasan mental. Kita akan terkurung oleh hal-hal yang sebenarnya belum tentu terjadi.
Dengan adanya mental block ini, kepercayaan diri juga akan semakin berkurang. Karena kita akan mengadopsi pikiran “tidak mampu”, “tidak pantas”, “kurang layak” “saya selalu gagal”, dan pikiran negatif lainnya. Antonius Arief pun menjelaskan dalam bukunya Rahasia Menghancurkan Mental Block , ia mengumpulkan hasil terapi dan menemukan beberapa mental block yang berkaitan dengan mental block rendah diri dan juga mental block selalu merasa gagal. Maka, hal ini akan berdampak pada rasa percaya diri, dan akan memuncul kecanggungan dalam bertindak, kesulitan untuk berbicara di depan umum, serta kesulitan mengaktualisasi diri.
Bagaimana kita bisa mengaktualisasikan diri ketika kita saja tidak percaya pada diri sendiri? Hal ini menunjukkan bahwa mental block memberikan impact yang begitu besar pada diri kita. Hal ini akan menghambat kita untuk menuju kesuksesan. Karena kita hanya terfokus pada pikiran negatif. Dengan begitu kita tidak akan pernah memberikan reward atau hadiah pada diri atas pencapain yang kita raih.
Perlunya Apresiasi Terhadap Diri Sendiri
Tanpa disadari pemberian reward ini sangatlah penting bagi kita. Karena reward ini akan menjadi sumber kekuatan kita untuk terus berusaha semaksimal mungkin. Hal ini pun dijelaskan oleh Dr. Rizal Fadli dalam sebuah artikel ia menjelaskan bahwa kegiatan ini dapat membantu kesehatan mental dan memotivasi diri untuk bekerja lebih keras dan lebih baik lagi serta dapat meningkatkan kepuasan diri. Pemberian reward ini menurut saya tidak harus secara mewah dan memerlukan biaya tinggi, misalnya dengan menonton film, bermain game, memasak, ataupun melakukan suatu hal yang sesuai hobi kita.
Dampak self reward ini pun sudah saya rasakan, hal ini membuat saya semakin termotivasi. Biasanya ketika selesai ujian saya selalu memberikan reward pada diri saya yaitu dengan menonton film dan bermain game. Walaupun hanya melakukan hal sederhana, namun itu sangat berarti untuk saya. Maka dari itu cobalah buat kalian untuk menerapkan self reward ini atas usaha-usaha dan rintangan yang telah kamu lalui.
Berbicara mengenai mental block, saya teringat oleh sahabat karib saya. Ia mengalami hal yang sama dan mengarah ke mental block ini. Dia menjadi seorang yang selalu overthinking, sehingga membuatnya takut untuk melangkah kedepan.
Banyak pikiran negatif yang ia adopsi, sehingga menghambatnya untuk melangkah. Ketika ia melangkah, ia akan teringat oleh masa lalunya sehingga membuatnya kehilangan kepercayaan diri. Ia sering berkata pada saya “andai aku dulu begini pasti aku sekarang lebih baik lagi”. Ia terus menyesali keputusan yang diambil saat itu.
Sahabat saya juga selalu membatasi diri untuk melangkah maju. Ada perkataan yang selalu ia ucapkan yaitu “aku takut salah”, “aku gak bisa”, “aku gak seberuntung kamu”. Ia selalu memberikan afirmasi negatif pada dirinya, merendahkan dirinya dan selalu membandingkan dirinya. Dan hal ini yang membuat saya marah pada dia, mengapa ia selalu mengatakan hal yang sama saat kita ngobrol bersama?
Percaya Terhadap Kemampuan Sendiri
Saya beberapa kali mengatakan pada dia, bahwa ucapan ini tidak baik untuk dirinya. Karena pada dasarnya setiap orang itu tidak sama, setiap manusia itu unik. Kita punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jangan hanya fokus pada kekurangan kita, tetapi fokuslah pada kelebihan yang kita miliki dan coba kembangkanlah.
Dari pengalaman sahabat saya tersebut, dapat dilihat bahwa dirinya tidak memberikan self reward atas pencapain yang diraih. Sehingga hal ini membuatnya kurang menghargai pribadinya. Maka timbulah pikiran-pikiran negatif yang menghambatnya untuk meraih sukses dan mencapai kebebasan diri. Karena sebagian besar pikirannya hanya sebuah pikiran negatif.
Maka untuk sahabat saya dan kalian yang merasakan hal sama, sadarilah bahwa kamu itu unik, kamu itu hebat, kamu istimewa, dan tumbuhkan sikap pantang menyerah serta selalu berpikir optimis. Cobalah untuk mencintai diri sendiri karena itu sangat penting bagi kemerdekaan mental kita. Berilah self reward, beri afirmasi positif pada diri, sehingga tidak akan ada lagi hambatan dalam diri untuk mencapai kebebasan diri. Ingatlah bahwa kesuksesan sedang menantimu.
Sebagai penutup saya mendapat kutipan yang mengena di hati saya, kutipan ini mengandung pesan yang menurut saya bermakna. Kutipan itu berbunyi “your life your rules!”. Kalimat ini related dengan topik yang saya bahas. Bagaimana menurut kalian?
Editor: Irvan Chaniago
Seorang mahasiswa pecinta drama korea. Instagram: @margareta_ventriana.

Vitalis nia
Sangat bagus
Margareta Ventriana
Terima kasih 🙏