Memahami Makna Masa Muda; Remaja
Agama Islam adalah agama paripurna, ia menjadi penyempurna atas syari’at Nabi dan Rasul Allah yang telah hadir sebelum diutusnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qur’an dan As-Sunah menjadi pedoman hidup seorang muslim yang telah Allah tetapkan untuk mencapai keselamatan baik di dunia maupun di akhirat, semuanya telah Allah jelaskan. Allah Subahanhu wa Ta’ala berfirman:
…وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا
“…dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan sejelas-jelasnya.” (Q.S al-Isra: 12)
Sebagai seorang muslim cara kita dalam bertindak, begitu juga cara pandang terhadap sesuatu haruslah merujuk kepada keduanya.
Berbicara tentang cara pandang kita akan mengenal istilah worldview. Mengenai istilah worldview ini kita akan mendapati istilah Islamic worldview dan western worldview. Terlebih dahulu kita mengenal definisi dari Islamic worldview, mengutip dari saa.unida.gontor.ac.id yaitu tentang bagaimana Islam memandang sesuatu; dan cara pandang tersebut haruslah dimiliki oleh seorang muslim mencakup aspek batin dan aspek jasad secara menyeluruh atas realitas dan kebenaran; mencakup aspek yang terlihat (fisik) maupun tidak terlihat (metafisik). Sedangkan worldview Barat hanya berkutat dalam sesuatu yang bersifat materi (fisik) semata. Islam membimbing kita agar memahami sesuatu bukan hanya sebatas fisik yang terlihat saja tetapi lebih dari itu kita pun harus memahami atau mengimani sesuatu yang tidak terlihat.
***
Cara pandang kita mengenai masa muda pun tentulah harus berlandaskan terhadap wahyu yang telah Allah turunkan. Pemahaman tentang masa muda atau remaja menurut Al-Qur’an dan As-Sunah dan menurut selain keduanya tentu berbeda. Yang satu berlandaskan wahyu Ilahi dan yang satu berlandaskan akal semata. Ustaz Budi Ashari, Lc di dalam bukunya Remaja, antara Hijaz dan Amerika Panduan Penyiapan Masa Baligh memberikan penjelasan tentang bagaimana seharusnya kita memandang masa muda; memandang usia muda anak kita berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunah.
Pemahaman yang akan lebih menentramkan hati kita memandang makna masa muda, memberikan pengharapan bukan keputusasaan ataupun kerisauan. Karena, kini kita disuguhi berbagai pemahaman bahwa masa muda adalah masa yang bergejolak sehingga menjadi sebuah kekhawatiran yang mendalam bagi para orang tua. Berbagai kondisi yang menggambarkan tentang betapa berbahayanya masa muda atau remaja ini. Dan pandangan tersebut adalah pandangan yang bersumber dari data barat yang menggambarkan dengan gambaran yang sangat buruk tentang fase remaja sebagai fase yang penuh dengan masalah.Beliau (Ust. Budi Ashari) mengutip penjelasan Imam Ibnu Katsir tentang pemuda ashabul-kahfi;
“Sungguh mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (Q.S al-Kahfi: 13)
Allah Ta’ala menyebutkan bahwa mereka adalah pemuda. Karena mereka (para pemuda) lebih mudah menerima kebenaran, lebih mudah mendapat petunjuk jalan (yang lurus) dibandingkan orang tua yang durhaka dan tenggelam dalam agama kebathilan. Untuk itulah kebanyakan yang menyambut (seruan) Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemuda. Adapun orang-orang tua dari Quraisy, kebanyakan mereka tetap bertahan dalam agama mereka dan tidak masuk Islam kecuali sedikit saja. Begitulah Allah mengabarkan tetang ashabul kahfi bahwa mereka adalah pemuda.”
***
Kemudian beliau (Ust. Budi Ashari) menuturkan, “Bukankah antara kalimat-kalimat sebelumnya yang menakutkan, dengan kalimat Imam Ibnu Katsir, berbeda antara langit dan bumi? Seharusnya kita sadar, beginilah kita diajari oleh para ulama untuk membicarakan usia muda dengan bahasa yang positif dan penuh rasa optimis. Bukan bahasa menakuti yang menjerembabkan dalam pesimistis dan putus asa.” Beliau mengajak kita untuk menanggalkan cara pandang kita dalam melihat usia muda menurut perspektif barat yang gagal dalam mendidik anak muda; dan beralih pada kacamata Nabawi; berlandaskan bimbingan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Mari kita lihat bagaimana Islam memandang masa muda dan kita bandingkan dengan istilah yang yang tertanam di masyarakat kita tentang remaja. Ustadz Budi Ashari, Lc beliau di dalam bukunya “Remaja Antara Hijaz dan Amerika: Panduan Penyiapan Masa Baligh” mengutip perkataan Dr. Khalid Ahmad asy-Syantut yang menjelaskan bahwa; “Sudah waktunya kita membuang istilah murohaqoh (remaja). Dan menegaskan bahwa istilah yang jelas dipakai oleh Nabi adalah syabab (pemuda).” Kemudian beliau (Ustadz Budi) menjelaskan tentang makna remaja menurut kamus Arab bermakna: kedunguan dan kebodohan, kejahatan dan kedzaliman serta gemar melakukan kesalahan. Menurut mereka di usia ini ada pembahasan tentang pubertas. Dan ternyata kata puber mempunyai makna asli: rambut kemaluan. Beliau menuturkan bahwa jelaslah peradaban barat memang peradaban yang hanya melihat fisik. Itulah mengapa pembahasan yang kita dengar tentang kedewasaan tidak lebih dari pembahasan biologis manusia.
Jelas berbeda dengan cara pandang islam tentang fase ini. Itulah mengapa Rasulullah tidak pernah menyebut fase ini. Beliau mempunyai istilah tersendiri, yaitu syabaab (الشَّبَاب) yang mempunyai akar makna: kekuatan, baru, indah, tumbuh, awal segala sesuatu. Kata yang positif dan penuh dengan optimisme. Kemudian Ust. Budi Ashari menuturkan bahwa menurut para pakar muslim di bidang pendidikan memberikan kesimpulan bahwa keguncangan dan kenakalan di usia ini bukan merupakan hal yang pasti dan harus dilalui oleh anak-anak kita. Demikian tentang bagaimana kita seharusnya memberikan pemahaman pada diri kita selaku pemuda, orang tua, pengajar dan orang-orang di sekeliling kita; tentang makna masa muda dengan pandangan yang penuh optimisme bukan pesimisme. Islam telah memberikan panduan dan jalan bagaimana mendidik anak-anak kita agar menjadi pemuda harapan umat; pemuda dengan daya tuang; pemuda Islam yang sesungguhnya.
Seorang ibu rumah tangga, tinggal di Kp. Tegalparung Desa Ciburuy Kec. Bayongbong Kab. Garut Jawa Barat. Facebook: Rida Rahmi Instagram: @ridarahmi
