f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tedhak sinten

Merawat Budaya Tedhak Sinten, Bagaimana Pandangan Islam?

Tedhak sinten tak lagi asing walaupun merupakan ajaran orang-orag jawa terdahulu, bahkan saat ini budaya tedhak sinten ini mulai digandrungi lagi dengan banyaknya public fgur yang juga melaksanakannya. Tentunya tidak sedikit yang memiliki pandangan lain dengan orang-orang yang melaksanakan tedhak sinten ini. Apakah budaya tedhak sinten yang dianut budaya jawa ini ada dalam ajaran Islam?. Apakah tidak musyrik percaya akan masa depan anak yang mujur setelah melakukan prosesi tedhak sinten ini?. Tedhak sinten adalah adat jawa yang dilakukan saat anak belajar menginjakkan kaki ke tanah. Prosesi tedhak sinten inipun memiliki lambang-lambang tersendiri dalam rangkaiannya. Tedhak sinten dilakukan saat bayi berumur 7 bulan dalam hitungan jawa dan berumur 8 tahun dalam hitungan masehi. Pada umur-umur tersebut bayi mulai belajar untuk berjalan.

Tedhak sinten ini adalah sebuah budaya Indonesia khususnya pada tanah Jawa. Dalam jurnal yang ditulis Nuryah, Tedhak sinten ini merupakan akulturasi budaya Jawa-Islam. Di mana saat orang-orang Jawa yang kental dengan ritual dan upacara dan orang islam kental dengan beribadah. Tentunya akan sulit bagi kalangan Islam dan Jawa jika memiliki masing-masing karakterisktik yang harus diturunkan. Maka dengan perpaduan dua elemen besar tersebut muncullah Islam Kejawen.

Tedhak sinten juga disebut dengan lambang keidupan manusia, adat ini merupakan ajaran dalam Islam Kejawen, penggabungan dua budaya ini disebut dengan akulturasi. Islam berperan sebagai budaya asing dan masyarakat lokal menerima budaya-budaya yang dibawa oleh islam. Maka dengan sendirinya masyarakat jawa mulai beralih dari upacara tedhak sinten yang kental akan adat-adat dan upacara mulai membaur dengan unsur-unsur Islam yang dapat diterapkan dalam tedhak sinten seperti do’a-do’a. Karena memang tujuan awal tedhak sinten adalah mendo’akan bayi supaya menjadi anak yang jujur, cerdas, dan memiliki etos kerja yang tinggi.

Baca Juga  Menyoal Larangan Aktivitas LGBT di Piala Dunia 2022

Tujuan itupun diwujudkan dengan upacara tedhak sinten dengan serangkaian prosesinya. Dalam jurnal Pamator yang ditulis oleh Ana Musdalifah, dkk menyebutkan beberapa rangkaian acara dalam tedhak sinten. Di antaranya : dititah, naik tebu wulung, masuk ke kurungan ayam, memilih benda kesayangan, mandi air kembang dan memakai pakaian baru, yang terakhir rebut rercehan. Adapun dalam prosesi dititah ini adalah bayi diajarkan berjalan pada jadah (makanan yang berasal dari ketan) yang berwarna-warni. Dalam akun YouTube Rudi Fotografi dijelaskan bahwa setiap warna dalam jadah tersebut memiliki makna yang berbeda-beda. Sebelum menginjak pada jadah pertama bayi dibilas terlebih dahulu kakinya sebagai lambang dan harapan kehidupan bayi kedepannya akan bersih dari segala gangguan.

Pada pijakan pertama diawali dengan jadah yang berwarna putih melambangkan kesucian dan kebersihan bayi, karena bayi adalah makhluk yang suci dari segala dosa. Pijakan kedua berupa jadah yang berwarna hitam yang melambangkan kepandaian dan kecerdasan. Di mana orang tua berharap anaknya menjadi anak yang cerdas. Kemudian, pijakan ketiga berupa jadah berwarna kuning yang melambang kekuatan. Pijakan selanjutnya jadah berwarna merah yang melambangkan keberanian. Diikuti dengan pijakan jadah berwarna pink yang melambangkan kasih sayang. Jadah yang berwarna hijau melambangkan kesuksesan dan kecukupan. Pijakan terakhir adalah jadah yang berwarna biru yang melambangkan ketenangan.

Prosesi selanjutnya menaiki tangga yang terbuat dari tebu, yang melambangkan segala kebaikan seharusnya segera dilakukan tanpa menunda-nunda selagi masih bisa dan berkesempatan serta kegigihaan anak dalam mencapai kesuksesan dan mencari rezeki. Prosesi selanjutnya adalah mengurung anak pada kurungan ayam yang di dalamnya terdapat beberapa mainan, buku,bolpin, dan sebagainya. Apa yang nantinya diambil oleh sang anak tersebut sebagai harapan orang tua mengenai cita-cita anak. Setelah itu anak dimandikan dengan air kembang, air yang berisikan bunga akan memiliki bau harum yang memiliki arti semoga sang akan bisa mengharumkan nama keluarganya. Setelah mandi dipakaikan pakaian yang baru, dilanjutkan dengan prosesi yang terakhir yaitu rebut rerecehan  yaitu berebut uang-uang receh. Dalam prosesi rebut rercehan ini diharapkan anak memiliki kedermawanan dalam membantu orang lain dan berbagi dengan sesama.

Baca Juga  Menilik Arti Peringatan Hari Ibu

Bagaimana kacamata tafsir memandang prosesi tedhak sinten ini dalam dunianya? Dalam surat Al-Insyirah ayat 8 yang berbunyi

وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب

Artinya: “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

Bagaimana tedhak sinten ini masih dilakukan padahal dalam seruan ayat suci Al-Qur’an dianjurkan bahwa berharaplah hanya kepada Allah Swt. Dalam tafsir As-Sa’di karya Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di yang dimuat di laman tafsirweb.com menjelaskan bahwa ayat tersebut “Dan hanya kepada Rabbmulah,” semata, “hendaknya kamu berharap,” yakni, besarkanlah harapanmu agar doamu dikabulkan dan janganlah seperti orang yang bermain-main seusai bekerja dan berpaling dari Rabb mereka dan berpaling dari mengingatNya sehingga kau akan menjadi orang merugi. Ada yang menafsirkan sebagai berikut, makna ayat ini adalah bila engkau selesai salat dan setelah menyempurnakannya, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa dan hanya kepada Rabbmu lah hendaknya kau berharap dalam meminta apa yang kau inginkan. Orang yang bependapat demikian berdalil dengannya atas disyariatkannya berdoa dan berzikir setelah salat wajib.

Saat tedhak sinten dijadikan sebagai ikhtiar orang tua untuk anaknya di masa depan dengan percaya pada benda- benda yang digunakan dalam prosesi tersebut. Tentunya akan menjadi sebuah hal yang dilarang. Bahkan sudah masuk pada ranah syirik karena berharap pada sesuatu selain Allah Swt. Saat melaksanakan sebuah kebudayaan tentunya didasarkan pada niat tertentu. Melestarikan budaya bukan menjadi sebuah larangan dalam Islam saat hal itu tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Tedhak sinten menjadi salah satu akulturasi budaya jawa dengan arab.

Saat prosesi dilakukan dengan adat kejawen naumn, do’a-do’a dan nilai Islami juga dimasukkan di dalamnya. Saat orang tua berhajat kepada Allah dengan mengadakan tedhak sinten mengharap berkah dan do’a dari tamu-tamu yang hadir justru menjadi sebuah kebaikan bagi keluarga tersebut. Hal tersebut juga dipaparkan oleh Buya Yahya yang menjawab pertanyaan salah satu jama’ahnya apakah boleh melakukan prosesi tersebut. Beliau menjawan boleh asalkan tidak menyalahi syari’at jika diniatkan hal-hal yang baik maka boleh saja.

Baca Juga  Bukan Islam yang Buat Perempuan Jadi Terkekang

Apabila tedhak sinten dilakukan dengan mengharap kekuatan benda-benda yang sebagai lambang tadi maka hal ini menyalahi hukum Islam. Di mana seharusnya kita bergantung hanya kepada Allah Swt. Tedhak sinten saat ini tak lagi saklek dengan ajaran nenek moyang, bahkan dalam prosesinya banyak menggunakan nilai-nilai positif Islam. Hal tersebut menandakan bahwa Islam dan Jawa dapat dilestarikan bersama dengan damai dan toleransi. Melakukan upacara tedhak sinten ini juga boleh dilakukan dengan niat melestarikan budaya. Karena budaya tidak akan ada jika SDM tidak melakukannya. Di sisi lain budaya juga harus tetap terjaga karena merupakan sebuah kekayaan bangsa Indonesia. Sebagai warga Indoneia dan Umat Islam yang baik tentunya akan lebih memerhatkan dan memandang dari berbagai sisi saat hendak melakukan sesuatu agar sesuai dengan adat, aturan, dan syariat.

Bagikan
Comments
  • Wurry Srie

    Kalau boleh tanya, mana yg benar tedhak sinten apa tedhak siten? Krn siten berasal dari kt dasar siti yg artinya tanah. Tedhak siten bs berarti turun tanah atau bayi mulai dikenalkan menapak tanah. Mhon koreksi bila saya salah. Trmkasih.

    April 12, 2023
    • Sasa

      Tedhak Siten kak, namun dibeberapa daerah banyak yg menyebutkan tedhak sinten🙏

      April 14, 2023
Post a Comment