f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mata pelajaran

Spiritualisasi Mata Pelajaran, Sebuah Metode Dakwah Kekinian

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia semakin banyak memahami mekanisme kehidupan dan kompleksitas alam. Namun, di tengah pencapaian luar biasa ini, kita sering kali lupa untuk menyelami dimensi batin dari keterhubungan antara manusia, alam, dan sains itu sendiri. Sehingga makin banyak orang pintar, namun alam semakin rusak. Hal inilah yang memotivasi saya untuk menawarkan transformasi mata pelajaran menjadi spiritualisasi mata pelajaran.

Spiritualisasi mata pelajaran adalah upaya untuk mengintegrasikan pandangan spiritual dan nilai-nilai ke dalam dunia sains dan teknologi. Hal ini penting, karena kita menjadi lebih lebih paham bahwa kita tidak hanya berhubungan dengan alam secara fisik, tetapi juga secara spiritual. Sehingga kita lebih sadar bahwa mata pelajaran di sekolah, misal biologi, tidak hanya berkaitan dengan proses fisik dalam tubuh. Tetapi juga tentang makna mendalam dari kehidupan itu sendiri.

Ketika kita berbicara tentang spiritualisasi biologi, kita membuka eksplorasi yang lebih dalam tentang persoalan-persoalan mendasar mengenai hakikat kehidupan, tujuan eksistensi manusia, dan keterkaitan kita dengan alam. Perlu diingat bahwa ini bukan upaya untuk menggantikan sains dengan dogma agama. Sebaliknya, untuk menggabungkan pandangan-pandangan yang berbeda agar kita dapat lebih memahami kompleksitas kehidupan secara holistik.

Salah satu aspek utama dari spiritualisasi biologi adalah dampak etika dan moral dari penemuan-penemuan dalam biologi. Dengan teknologi modern yang memungkinkan manipulasi genetik, pertanyaan-pertanyaan tentang etika dalam kloning, modifikasi genetik manusia, dan perawatan medis semakin penting. Spiritualisasi biologi membantu kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan mempertimbangkan nilai-nilai spiritual yang mendasari keputusan-keputusan etis.

Selain itu, spiritualisasi biologi juga membawa kita ke dalam pemahaman yang lebih dalam tentang keterkaitan antara semua bentuk kehidupan di Bumi. Hal ini adalah kesadaran bahwa kita semua bagian dari satu ekosistem yang rapuh dan bahwa tindakan kita memiliki dampak langsung pada keseimbangan alam. Dengan melihat alam sebagai manifestasi spiritual, kita mungkin lebih cenderung untuk merawatnya dengan penuh rasa kepedulian.

Dalam tulisan ini, umpama kita akan menjelajahi konsep spiritualisasi biologi dan bagaimana hal itu dapat membantu kita sebagai guru menjembatani kesenjangan antara sains dan nilai-nilai spiritual dalam upaya untuk merawat bumi dan menghormati semua bentuk kehidupan. Kita akan melihat bagaimana pemahaman tersebut dapat membantu kita meraih pemahaman yang lebih mendalam tentang tujuan eksistensi manusia dan hakikat kehidupan itu sendiri.

Baca Juga  Membaca dan Menulis: Seni Melatih Kesabaran
***

Kalau ditanya apa momen paling indah saat mengajar, saya selalu mengangkat kisah dengan murid saya. Namanya Ipul, dia salah satu murid di pelajaran biologi dan juga perwalian saya. Ipul bersuku Bugis, namun keluarganya hijrah ke Papua, sehingga dia lahir dan dibesarkan di Papua. Nah karena itulah ada banyak kisah-kisah kearifan lokal yang tidak sampai pada Ipul, karena telah lama tinggal di Papua.

Setelah lepas dari pesantren, dia bersekolah di sekolah tempat saya mengajar. Dia termasuk anak yang unggul secara sosial, santun, ramah, dan pandai berkawan. Jika dibandingkan dengan ketertarikannya di bidang akademik, selain mengaji dan ilmu agama, dia agak kesulitan mengikuti pelajaran-pelajaran IPA khususnya Biologi.

Suatu hari giliran saya yang masuk ke kelasnya untuk membawakan materi sistem ekskresi. Sebelum mengajukan masalah mengenai penyakit yang berkaitan dengan sistem ekskresi, saya berikan dulu gambaran kontekstual mengenai urinasi. Saya sampaikanlah materi yang tidak akan ada di buku teks biologi mana pun. Saya bawa pentingnya bersuci secara maksimal yang telah dicontohkan oleh orang-orang tua di Makassar pada umumnya lakukan, khususnya laki-laki.

Selain itu, saya juga memberikan testimoni, bahwa saat Tsanawiyah (setara SMP) kakek saya mengajarkan cara beristinja. Kakek saya dulu seorang imam rawatib masjid dekat rumah. Ia memiliki kebiasaan jika bersuci atau buang air kecil (BAK). Beliau menggunakan sarung khusus ke kamar kecil. Rumah kami kecil, sehingga suara-suara dari kamar kecil itu sangat jelas terdengar. Saat saya tanyakan mengapa beliau berdehem, dia jelaskanlah pentingnya arti bersuci. Ia terangkan bahwa BAK baik laki-laki apalagi perempuan dilakukan dengan cara berjongkok. Pastikan pakaian yang digunakan saat di kamar kecil ditanggalkan atau diganti ketika akan menunaikan salat, takutnya ada percikan najis di sana. Hal yang paling melekat adalah bagian berdehem ini dan ia terangkan bahwa berdehem di akhir proses BAK adalah ikhtiarnya untuk memastikan tidak ada lagi kotoran yang tertinggal di saluran kemihnya. Semua ini dilakukan dalam rangka persiapan untuk menghadap sang maha suci Allah Swt. Ketika akan melaksanakan ibadah salat.

Baca Juga  PP Tunas sebagai Instrumen, Pengasuhan sebagai Jantung Perlindungan Anak

Hal tersebut membekas pada waktu itu mungkin saja karena itu adalah pengetahuan baru bagi saya. Mungkin juga karena pada waktu itu saya sudah menangkap filosofi bahwa begitu suci nya Allah Tuhan semesta sehingga tidak boleh ada najis melekat di tubuh. Bahkan di dalam saluran pembuangan baik itu rectum maupun pada buli-buli. Sebagai upaya menghadapkan diri sesuci-sucinya guna menghadap kepada Sang Maha Suci.

Nah hal itulah yang saya sampaikan pada kelas saya dan proses belajar mengajar pun berjalan seperti biasa.

Persoalan menanamkan agama, mengajarkan perintah Allah dan ajakan menjauhi larangannya, amat membuat saya frustasi. Betapa tidak, ajakan itu ingin saya lihat perubahannya secara spontan.

Padahal tidak demikian menurut Holland (2006) Bahwa mengajarkan karakter butuh 100 tahun.

Sehingga ada masa di mana saya memilih pasrah dan memilih untuk tidak menasihati anak-anak. Karena saya belum melihat perubahan radikal pada diri anak-anak saya setelah saya berikan wejangan.

Kadang juga ciut di awal, karena mereka terlihat antipati saat saya menyampaikan satu dua ayat yang berkaitan dengan materi yang berujung pada pemberian nasihat spiritual. Sampai ada suatu titik di mana saya dan beberapa kawan dari diskusi kami bahwa anak-anak jaman sekarang susah mendengar dan kurang adab. Hal ini makin membuat kami para guru sedih dan nyaris putus asa.

Hingga suatu siang, ada seorang guru yang tersipu-sipu menghampiri saya. Namanya pak Prusdianto, guru Seni Budaya. Saya tanya ada apa dengan dia kok melihat saya dengan tersipu-sipu begitu.

Beliau bercerita bahwa, tadi saat di toilet, beliau berpapasan dengan seorang siswa yang saat antrean di kamar kecil, beliau mendengar suara berdehem. Pas ditanya sama beliau, tentu saat selesai BAK. Dia bilang itu adalah ajakan Bu Risma kalau selesai buang hajat. Sebisa mungkin berdehem karena selain bersih secara lahiriah hal itu juga sangat sehat dan menghindarkan dari bakteri berbahaya, yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada saluran urine. Tanpa sadar Ipul sudah menjadi sumber pemberi manfaat dari ilmu yang disampaikan di kelas setahun setelahnya.

Baca Juga  Membuka Kembali Pintu Pemahaman tentang Perempuan

Adanya informasi dari bapak guru tersebut membuat saya semakin semangat menyampaikan wejangan, menyampaikan ajakan kebaikan, makin berkontribusi terhadap dakwah di sekolah saya. Karena ternyata, semalas-malasnya anak mendengarkan wejangan kita, jika dibarengi dengan sikap kita yang datangnya dari ketulusan, keinginan melihat yang terbaik, otak anak akan secara otomatis menyimpan informasi tersebut. Dan hanya menunggu momen kapan hidayah dan taufiknya Allah menjangkau anak ini untuk memutuskan menjalankan hal-hal baik tersebut.

Mungkin bukan hari ini, mungkin bukan besok, mungkin belum tahun ini. Tapi suatu hari, ada masa di mana anak mendapat taufiq dari Allah dan mulai menjalankan satu-satu nasihat dari orang tua, bapak dan ibu gurunya. Di situlah saat terbahagia bagi guru, saat kita memanen pahala ketulusan dan keikhlasan kita. Dan sampai saat kita sudah tidak ada di dunia ini, kita masih mendapatkan aliran pahala, jika anak kita tersebut masih menjalankan apa yang kita wasiatkan kepadanya.

Jadi buat para orang tua dan guru atau siapa pun Anda yang punya concern terhadap perbaikan moral, aqidah dan akhlak anak-anak kita. Mulailah dengan peduli dengan hal terkecil, dan berkontribusilah terhadap hal itu. Karena kita tidak akan pernah tahu, dari lisan kita, mana yang kan mereka praktikkan. Mana yang akan dapat menghantarkan kita kepada tempat termulia surganya Allah Swt.

Bagikan
Post a Comment