Perempuan: Menebar Islam Moderat Lewat Tulisan
Karya Tulis sebagai Indikasi Kemajuan Peradaban
Bila melihat sejarah, kemajuan sebuah peradaban biasanya bisa kita tandai dengan adanya perpustakaan yang besar. Perpustakaan yang besar mengindikasikan banyaknya karya tulis kala itu. Dengan kata lain, hal tersebut menunjukkan sikap para cendekiawan―sekaligus pemerintah―yang menaruh perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan.
Salah satu contoh dari fenomena ini dapat terlihat pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Saat itu ilmu pengetahuan begitu mendapat penghargaan. Bahkan, pemerintah Abbasiyah tak segan mengganti karya tulis ulama saat itu dengan emas seberat karya tulis tersebut. Karena hal termaktub, lahirlah perpustakaan umum pertama di Baghdad atau Bayt al-Hikmah.
Bicara soal perpustakaan dan karya tulis, siapa sih ulama besar (ternama) yang tidak memiliki buah tangan berupa kitab?. Sebut saja para imam madzahib al-arba’ah, Imam al-Bukhari, Imam al-Ghazali, Ibn Hajar al-Asqalani, semuanya memiliki karya tulis (bahkan lebih dari satu buah). Melalui seluruh karya tulis mereka, kita dapat melihat dengan jelas sumbangsih para ulama tersebut terhadap kemajuan peradaban, khususnya dalam bidang agama. Satu hal yang cukup menarik perhatian saya di sini adalah minimnya karya tulis ulama/tokoh perempuan. Selama ini hampir seluruh literatur klasik yang kita temui merupakan karya ulama laki-laki.
***
Mungkin sebenarnya karya tulis ulama perempuan ada, hanya saja jumlahnya jauh lebih sedikit daripada karya tulis ulama laki-laki. Bisa jadi hal inilah yang membuat karya tulis ulama perempuan sangat jarang terkaji, entah di pesantren maupun di perguruan tinggi. Lantas, apa dampak dari semua ini?
Ya! Kontribusi perempuan dalam kemajuan peradaban jadi tak tampak sama sekali. Perempuan terkesan hanya mengambil peran sebagai pihak yang menonton dan sama sekali tak melakukan apa pun untuk memajukan peradaban. Padahal, bagaimana pun peran perempuan tak boleh terpinggirkan, apalagi ternafikan.
Bila demikian, apakah karya tulis sebatas berfungsi sebagai rekaman bahwa seseorang (khususnya perempuan) telah memberikan sumbangsih pada peradaban? Saya rasa tidak. Bagi perempuan, fungsi karya tulis lebih jauh dari itu. Sebagai misal, dalam bidang fiqh, perempuan memiliki beberapa jenis darah yang keluar dari kemaluannya. Memang benar hal tersebut telah ada dalam beberapa literatur klasik.
Namun, kita sadari atau tidak, zaman kini telah terlampau cepat berubah. Tak menutup kemungkinan ada problematika―kaitannya dengan darah perempuan―yang belum ada dalam literatur klasik tersebut. Berangkat dari hal ini, saya rasa perlu adanya penjelasan lebih lanjut dari para perempuan terkait masalah tersebut. Apalagi mengingat perempuan yang mengalami proses biologis itu, artinya perempuan lebih otoritatif untuk membahas (menulis) masalah termaktub ketimbang laki-laki.
Membangun Narasi Islam Moderat
Selain perkara fiqh di atas, masalah lain yang juga penting diulas (ditulis) oleh perempuan adalah moderasi beragama. Kita semua tentu sudah tahu bahwa wajah agama (Islam) itu tergantung pada bagaimana narasi yang kita bangun. Apabila kita menggunakan Islam sebagai dalih untuk melakukan pengeboman terhadap non-muslim, maka jangan heran kalau islamophobia tumbuh dengan subur. Sebaliknya, jika kita berislam secara ‘manusiawi’, maka wajah agama kita akan merepresentasikan rahmatan li al-‘alamin. Disadari atau tidak, nyatanya narasi Islam ekstrem banyak bertebaran. Bahkan tak jarang corak narasi tersebut terkesan mendiskreditkan perempuan.
Atas dasar hal di atas, rasanya sangat penting narasi Islam damai (khususnya dari para perempuan). Kita mungkin tidak dapat membendung arus penyebaran narasi Islam ekstrem, tapi kita dapat melawannya dengan memperbanyak narasi Islam moderat. Hal ini bertujuan supaya Islam tidak dipandang sebagai agama pembunuh non-muslim, yang mana di beberapa negara ia malah merugikan umat Islam sendiri. Selain itu, peran perempuan dalam menarasikan Islam damai melalui tulisan juga bertujuan untuk menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama yang male-centred (hanya berfokus pada laki-laki).
Selama ini, budaya patriarki memang masih cukup banyak menghiasi keberagamaan kita. Sebagai contoh, dalam beberapa ceramah masih sering tersebutkan bahwa perempuan yang tidak berkenan ‘melayani’ suaminya akan mendapat laknat. Namun, di sisi lain hampir tidak pernah tersebutkan apa konsekuensi yang akan laki-laki terima bila tak mampu memberi kepuasan batin pada istrinya. Secara tidak langsung fenomena tersebut seakan menempatkan perempuan sebatas sebagai ‘pelayan’ laki-laki (suami), tak lebih. Padahal, perempuan sebenarnya memiliki andil yang jauh lebih besar dari itu. Salah satunya seperti yang telah disebutkan di atas, menarasikan Islam moderat melalui tulisan.
Efek Tulisan yang Tak Bisa Dipandang Sebelah Mata
Mungkin masih ada yang memandang remeh sebuah tulisan dengan dalih tulisan adalah entitas yang terlampau sederhana dan tampak kecil. Namun, jika memang terkesan remeh, lalu mengapa jumhur ulama banyak menghasilkan tulisan?. Memang benar tulisan adalah entitas yang tampak kecil, akan tetapi ia memiliki dampak yang sangat besar (yang mungkin tidak kita sadari).
Oleh sebab itu, para perempuan diharapkan terus menulis soal Islam damai. Tak perlu khawatir soal pembaca. Sebab, tiap tulisan akan menemukan pembacanya. Bisa saja tanpa pernah kita sangka, tulisan-tulisan kita tersebut dapat menggerakkan hati orang lain untuk turut serta menebar narasi Islam rahmatan li al-‘alamin.
Perlu dicatat bahwa menulis bukanlah perkara yang gampang. Ia butuh proses yang sangat panjang. Menulis bukan hanya membutuhkan kemampuan merangkai kata, ia juga butuh fondasi berupa aktivitas banyak membaca. Berangkat dari hal ini, maka para perempuan mesti aktif membaca, memahami, kemudian menyajikan buah pikirnya ke dalam tulisan. Tanpa banyak membaca, baik teks maupun konteks, tentu kita tidak akan memiliki bahan untuk ditulis. Tulisan yang menarasikan Islam moderat yang mempunyai fondasi yang kuat, tentu tak akan mudah ditumbangkan oleh tulisan/pendapat yang kontradiktif dengannya.
Ada banyak metode untuk mengajak orang bersikap moderat dalam praktik beragama. Jika kita tak mampu―atau belum memiliki kesempatan―untuk meneriakkan hal tersebut, maka kita bisa bersuara melalui tulisan. Saya rasa tak ada alasan yang menghalangi para perempuan menulis di masa sekarang. Dahulu Kartini mampu menulis “Habis Gelap, Terbitlah Terang dengan mesin tik (atau mungkin dengan tulis tangan).
Sekarang, teknologi digital telah sangat memudahkan kita untuk menghasilkan karya tulis. Semoga dengan banyaknya perempuan yang menjadi agen perdamaian lewat tulisan-tulisannya, masyarakat kita (terutama generasi mendatang) tetap menjadi generasi yang damai lantaran apa yang dibaca. Ingat! Sikap dan ucapan manusia adalah representasi dari isi kepalanya. Oleh sebab itu, mari kita berikan suguhan pada masyarakat berupa bacaan yang ‘sehat, bermanfaat, dan berkualitas’.
Alumni Pondok Pesantren Miftachussa’adah Genteng, Banyuwangi
