f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
immawati

Perempuan dalam IMM: Membaca Bidang Immawati sebagai Bagian Integral Gerakan

Pernah suatu ketika penulis ditanya terkait posisi perempuan di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) karena sekedar menjadi bidang yakni Bidang Immawati. Tanyanya,

“Kenapa Immawati tidak memiliki posisi ketua umum sendiri seperti dalam organisasi mahasiswa Islam lainnya?”

“Kalau sekedar menjadi bidang, bukannya terkesan IMM tidak memberikan kesetaraan untuk perempuan?”

Sebenarnya dalam buku pedoman Immawati tahun 2018-2020  dikatakan bahwa dalam internal IMM, Immawati berfungsi sebagai bidang pemberdayaan perempuan— sedangkan di luar struktural IMM, Immawati dikatakan sebagai organisasi keperempuanan yang memiliki representasi gerakan perempuan IMM di ruang publik. Jadi bolehlah kalau di luar IMM bersama organisasi lain, ketua bidang Immawati juga dipanggil “Tum-tum” alias “Ketua Umum”.

Pertanyaan itu menarik dan menggelitik hati penulis. Diam-diam penulis juga mempertanyakan kenapa perempuan sekedar menjadi bidang yang kesannya hanya sebagai pelengkap saja. Setelah melalui proses perenungan dan pencarian, oleh karena itu, penulis tertarik untuk mencoba menjawabnya melalui tulisan ini.

Pertanyaan kenapa Immawati sekedar menjadi bidang tidak seperti pada beberapa organisasi mahasiswa lainnya yang anggota perempuannya memiliki ketum sendiri, untuk menjawab hal tersebut perlu diperhatikan terlebih dahulu landasan filosofis gerakan berdirinya.

Sebelum membahas Bidang Immawati, perlu dibahas juga posisi IMM dalam gerakannya. IMM merupakan organisasi kemahasiswaan yang lahir pada tahun 1964 sebagai perpanjangan tangan gerakan dakwah Muhammadiyah untuk mewujudkan terbentuknya generasi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Dalam posisinya, IMM merupakan bagian dari Organisasi Otonom (Ortom) yang memiliki struktur jaringan yang sama dengan Muhammadiyah. Oleh karena itu, IMM sebagai ortom memiliki hubungan koordinatif dengan Pimpinan Muhammadiyah.

Sejak berdirinya tahun 1912, Muhammadiyah tidak hanya dikenal sebagai organisasi keagamaan saja, akan tetapi juga organisasi sosial. Organisasi Muhammadiyah merupakan gerakan dakwah yang mengusung konsep semangat integratif dalam praktiknya. Maksudnya, dakwah dalam Muhammadiyah tidak dipisah-pisah antara ibadah urusan ritual dan urusan sosial.  Banyak sekolah rumah sakit, dan panti asuhan yang didirikan Muhammadiyah. Semua itu dilakukan sebagai bentuk ajaran Islam yang membawa kemajuan dan manfaat bagi masyarakat. Inilah yang disebut dakwah integratif. Dakwah tidak hanya soal keagamaan saja, akan tetapi juga menyentuh ranah sosial masyarakat.

Baca Juga  Urgensi Epistemologi; Pengantar Manusia dan Tuhan

IMM pun lahir dari semangat dakwah integratif yang seperti ini. Muhammadiyah perlu meluaskan dakwahnya di kalangan mahasiswa dalam hal religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Adapun Bidang Immawati lahir bersamaan dengan IMM dalam kerangka dakwah semangat integratif. IMM tidak membedakan peran laki-laki maupun perempuan untuk menjadi subjek dakwah, akan tetapi memang memiliki peran dan pendekatan yang berbeda. Bidang Immawati sifatnya fokus terhadap pemberdayaan kader perempuan dan berperan dalam keumatan untuk menegaskan jati diri kader putri IMM untuk mengawal kultur keadilan gender dalam tubuh ikatan maupun di luar ikatan. Tidak hanya itu saja, Bidang Immawati juga merupakan wadah bagi perempuan IMM untuk menempa diri sehingga mampu mengambil peran dalam dinamika sosial politik dalam kemasyarakatan.

Namun, di tengah semangat integratif tersebut, muncul pertanyaan seperti dalam kalimat pembuka tulisan ini. Dan kesimpulannnya, “kalau Immawati sekedar menjadi bidang, tetap saja yang nemanya bidang itu cuma pelengkap”.

Untuk menjawab pertanyaan mengapa Immawati hanya menjadi bidang dalam struktur, tidak menjadi entitas yang berdiri sendiri sebagaimana organisasi perempuan dalam tubuh gerakan mahasiswa lainnya, pertanyaan tersebut menarik untuk dikaji bersama melalui teori Jacques Derrida. Seorang filsuf asal Perancis yang terkenal dengan konsep teori “dekontruksi” yakni cara berpikir kritis untuk membongkar cara seseorang dalam memahami sesuatu yang selama ini dianggap “pasti” atau “tetap”.

Kalau biasanya seseorang seringkali mencari “makna sebenarnya”, Derrida ini justru mengatakan kalau di dunia ini tidak ada makna yang benar-benar tetap. Semuanya tergantung konteks, hubungan, dan siapa yang mengatakan. Jadi Derrida menolak cara berpikir kaku yang membagi suatu hal dalam kondisi yang berlawanan atau disebut dengan “oposisi biner”.

Baca Juga  Perempuan Sebagai Subjek Perdamaian

Menurut Derrida, cara berpikir manusia seringkali terjebak dalam lawan-lawan pasangan atau oposisi biner. Misalnya; laki-laki dan perempuan, rasional dan emosional, pusat dan pinggiran, kaya dan miskin, subjek dan objek, kuat dan lemah, dan lain sebagainya. Masalahnya, pasangan yang pertama itu biasanya disebut yang lebih baik, lebih tinggi, lebih penting, lebih utama.

Misalnya; laki-laki itu pemimpin, perempuan itu pelengkap. Rasional itu sehat, emosional itu lemah. Nah dari perspektif ini, Derrida ingin membongkar struktur oposisi biner dengan cara “dekontruksi”. Dekonstruksi bukan berarti menghancurkan, akan tetapi membuka kesempatan untuk berpikir lebih dalam sehingga membuka ruang baru untuk menemukan makna lain. Menurutnya tidak ada yang benar-benar tetap atau benar-benar pelengkap. Keduanya saling membentuk dan bergantung.

Sama seperti halnya ketua umum dan bidang. Ketua umum itu pusat, bidang itu pelengkap. “Immawati itu hanya bidang, tidak memiliki ketua umumnya sendiri— jadi perempuan di IMM hanya sebagai pelengkap”.  Kalimat ini merupakan pola pikir biner. Sedangkan kalau menurut konsep Derrida, makna itu selalu bisa digeser dan dibaca ulang. Menurutnya tidak ada sesuatu yang lebih utama, dan tidak ada yang lebih tinggi dari suatu yang berpasangan. Jadi melalui kacamata Derrida, bidang Immawati merupakan ruang dekonstruktif di dalam tubuh ikatan. Ruang dekonstruktif bukan untuk memisahkan Immawati dari struktur laki-laki, akan tetapi untuk menggeser makna “pelengkap”, menjadi “penguat”.

Dengan demikian, posisi bidang Immawati bukanlah bentuk subordinasi atau pelengkap semata, melainkan bagian dari strategi dakwah integratif Muhammadiyah yang menempatkan sejajar laki-laki dan perempuan sebagai subjek dakwah gerakan amar ma’ruf nahi munkar. Dekonstruksi Derrida membantu melihat bahwa posisi Bidang Immawati justru membuka ruang tafsir baru atas kepemimpinan dan peran perempuan dalam tubuh ikatan. Perempuan-Immawati bukanlah “bidang pelengkap”, tetapi Bidang Immawati merupakan ruang penguatan yang memastikan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan terus hidup dalam gerakan dakwah.

Bagikan
Post a Comment