f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Mengapa Perempuan Harus Menuntut Ilmu?

Oleh : Luciana Anggraeni*

Pendidikan seringkali dilekatkan pada orang dengan sekolah tinggi, yaitu ketika ia telah menamatkan sekolah di tingkatan SD, SMP, SMA, Sarjana, Master bahkan Doktoral. Itulah penilaian yang berkembang dan mendominasi masyarakat kita dewasa ini.

Anggapan tersebut menjadikan pemahaman pendidikan bermakna sempit, sebab, hanya diukur dengan adanya Ijazah. Padahal, bagi perempuan, ilmu untuk menjadi seorang istri bahkan seorang Ibu tidak sepenuhnya diperoleh dari sekolah. Begitu juga, ketika hendak menikah, ijazah bukanlah syarat formiil dilangsungkannya pernikahan.

Bahkan kemudian, muncul anggapan masyarakat bagi kaum perempuan, “ngapain sekolah tinggi-tinggi nanti juga balik ke dapur, sumur dan kasur”. Jika menjadi istri dan Ibu tidak ada sekolahnya, dan pendidikan dianggap tidak penting untuk menunjang kesiapan mental dan pengetahuan sebagai istri dan Ibu. Maka, di manakah tempat yang layak bagi perempuan untuk membekali diri menjadi seorang istri dan Ibu yang di anggap sebagai madrasatul ula bagi anak-anaknya?

Kesiapan Orang Tua di Tengah Pandemi

Selama pandemi merambah ke seluruh wilayah hingga pedesaan, proses belajar mengajar sekolah dialihkan dari rumah. Ketika saya pulang kampung di sebuah desa di Jawa Timur, saya melihat fenomena di mana para Ibu mengeluh dengan pembelajaran online yang dilakukan dari rumah. Seorang ibu berkata, ”Haduh kalo kayak gini terus tambah ruwet, sekolah online tambah ribet, seng disuruh ngeprint tugas iki iku, terus dikumpulno nang sekolahan, lek arek e gak ngerti aku kate takon sopo, lah wong pelajarane wes bedo koyok zaman sekolahku biyen”.

Mungkin bagi beberapa orang tua yang update teknologi tidak merasa kesulitan untuk mendampingi anaknya belajar dari rumah secara online. Namun, bagaimana dengan orang tua yang tidak update? Belum lagi ,jika pembelajaran online dilakukan di daerah yang jauh dari jangkauan internet. Kondisi pandemi ini memang sifatnya sementara, namun kita juga tidak pernah tahu sampai kapan wabah ini akan surut dan berakhir.

Baca Juga  Belajar Imbang dari Siti Baroroh Baried

Di sisi lain, dengan adanya pandemi ini dapat membuka mata kita bahwa, tidak sedikit para Ibu yang belum siap kembali kepada tanggung jawab utamanya sebagai madrasatul ula di rumah. Madrasah ula dalam keluarga bukan saja ditujukkan kepada seorang Ibu, tetapi bersama sang Ayah. Dengan demikian, menjadi Ibu juga harus mempunyai kesiapan mental dan ilmu untuk mendidik, mendampingi serta memberi pemahaman kepada anak terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di sekitarnya.

Pendidikan itu Bukan Sekedar Sekolah

Pendidikan tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu, pendidikan akan terus berlanjut hingga akhir hayat. Maka, pendidikan tidak dapat diukur dengan ijazah atau gelar sarjana yang selalu disematkan di depan atau belakang nama seseorang. Sehingga bukan suatu kerendahan bagi seorang perempuan yang telah mengenyam gelar sarjana ketika lulus mengabdi dalam keluarganya.

Begitu pun bagi perempuan yang berkarir, tidak akan menjadi masalah, selama tanggung jawab sebagai istri dan Ibu tetap dilaksanakan denga baik. Oleh karena itu, keserasian dan keseimbangan peran antara suami dan istri sangat diperlukan dalam tatanan kehidupan berkeluarga untuk membina keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Sebagai seorang muslimah yang dianggap sebagai madrasah utama bagi generasi di masa datang, kita perlu membekali diri dengan ilmu sebagaimana ajaran Islam. Jangan sampai, setelah lulus SMA atau Sarjana, lalu sudah merasa cukup mencari ilmu hingga enggan untuk belaja.

Belajar tidak harus di dalam ruangan formal yang dinamakan sekolah. Menempuh pendidikan tinggi tidak selamanya harus dilakukan di bangku kuliah, menempuh pendidikan bukan untuk mengejar karir, bukan demi gelar yang tinggi, bukan juga untuk kepuasaan pribadi. Namun bagi perempuan, tentu juga sebagai persiapan menjadi seorang istri, Ibu, dan bagian dari tatanan sosial masyarakat.

Baca Juga  PHK itu Biasa Bukan Aib

Berkarir tidak selamanya harus di kantor ataupun di perusahaan besar, berkarir juga dapat dilakukan dari rumah. Dalam Islam, setiap perempuan yang telah menjadi istri dan Ibu tetap mempunyai hak untuk mengaktualisasikan diri sesuai dengan kemampuannya dalam berkarya selama tidak melanggar aturan Islam. Bahkan dengan kemajuan teknologi, semua dapat dilakukan dari rumah.

Perempuan Berkarir Juga Tidak Lalai Kewajiban

Menjadi seorang perempuan yang mempunyai peran sebagai Istri dan ibu merupakan suatu keistimewaan yang patut untuk disyukuri. Sehingga tidak ada perbedaan yang harus diperdebatkan antara laki-laki dan perempuan, mana yang lebih tinggi derajatnya. Karena, dalam Islam, Allah melihat derajat hamba Nya dari ketaqwaannya bukan dari perbedaan jenis kelaminnya.

Definisi berkarir tidak dapat dibatasi hanya di luar rumah saja, namun berkarir juga dapat dilakukan dari dalam rumah yang juga dibutuhkan pengetahuan untuk memahami bagaimana cara untuk tetap berkarya dari rumah. Oleh sebab itu, berkarir di luar maupun di dalam rumah sama-sama membutuhkan ilmu. Misalnya ada seorang Ibu yang mempunyai gelar sarjana kemudian mempunyai kemampuan menulis cerpen atau dongeng yang setiap hari diceritakan kepada anaknya setiap malam sebelum tidur. Maka, Ibu tersebut dapat menjadikan imajinasi dongengnya menjadi sebuah karya untuk anak-anak.

Hal tersebut juga sangat bermanfaat untuk membantu para ibu-ibu lain yang tidak mempunyai ide bercerita untuk anaknya. Sebab, pesatnya teknologi menyebabkan anak lebih tertarik dengan gadget, maka perlu dilestarikan kembali budaya mendongeng sebagai langkah untuk mengurangi bermain gadget pada anak. Di samping itu, mendongeng sebelum tidur dan mempererat kedekatan anak dengan ibunya.

*) Penulis adalah dosen Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang

Bagikan
Post a Comment