f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bersepeda

Noktah Merah Pembelajaran Daring pada Anak

Oleh : Mulia Rahayu*

Sambutan sorak sorai mewarnai ruang kelas di sebuah sekolah ketika seorang guru mengumumkan waktu belajar di rumah selama 2 minggu. Hal itu mungkin terjadi juga di beberapa sekolah dan institusi lainnya. Masa pandemi Covid 19 memunculkan Perda dsetempat terutama  Dinas Pendidikan yang mengatur penyelenggaraan pembelajaran di rumah dalam jangka waktu tertentu.

Bagi institusi Pendidikan awal baik PAUD, Pendidikan Dasar dan lainnya semua menyelenggarakan pembelajaran berbasis online. Untuk tingkat SMP dan selanjutnya  mungkin tak bermasalah, karena ini akan menjadi sebuah pengalaman baru untuk model pembelajaran mereka.

Muncul sebuah problematika baru ketika ini dihadapi oleh anak yang usia KB, TK, SD. Mengapa hal itu terjadi? Karena mereka masih memerlukan ranah  sentuhan langsung dari guru. Meskipun demikian para guru tetap menyesuaikan dengan peraturan yang ada.  Pemberian kegiatan pembelajaran yang tidak mengabaikan aspek karakteristik dunia anak yaitu bermain, dan diharapkan pula orangtua turut berperan serta mendampingi kegiatan  anak tersebut di rumah.

Imajinasi pembelajaran di rumah bagi anak adalah seperti masa liburan sekolah yang bisa diselingi jalan-jalan, rekreasi atau sekadar bertandang ke rumah nenek. Tapi kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan, sebab mereka harus mentaati berbagai protokol pandemi salah satunya adalah stay at home atau melakukan segala aktivitas di rumah, sungguh ini diluar dugaan anak.

Bersamaan dengan perpanjangan masa belajar di rumah akhirnya membuat anak menjadi bosan dan menumbuhkan benih-benih kerinduan terhadap suasana sekolah, kebersamaan dengan teman ataupun keramahan juga kedekatan seorang guru sebagai pengganti orang tua saat di sekolah.

Rindu Datang ke Sekolah

Dimulai dari viralnya video seorang anak SD yang masih usia kelas 1 menangis menyayat hati menumpahkan kerinduan pada suasana sekolah. Setelah itu bermunculan video lainnya yang berupa goresan pena anak-anak baik melalui gambar maupun tulisan mengungkapkan perasaan yang tak jauh berbeda. Ungkapan kerinduan yang tertuang dari bukan hanya klise semata seperti ungkapan para sejoli yang tengah memadu asmara. Meskipun sekilas hanya ungkapan virtual ini adalah sesuatu yang bernilaikan isi hati tulus, sepenuh hati bertaburan kejujuran diri.

Baca Juga  Menolak Kehidupan Patriarki

Fenomena ketidaknyamanan sikon pembelajaran di rumah ini diperkuat juga dengan berseliwerannya status di media sosial. Status keluh kesah mendampingi pembelajaran anak yang terkadang menguras energi dan kesabaran sebagai orang tua yang memiliki banyak tugas dan pekerjaan lainnya. Profesi orang tua yang memicu dissinkronisasi peraturan adalah para pekerja seperti buruh, pelaku industri rumah tangga, maupun pengusaha yang tidak mengenal istilah “tanggal merah”.

Memasuki Era Digital

Untuk para orang tua ASN yang bekerja di instansi pasti sibuk melakukan WFH (work from home).Pandangan mata mereka yang tak lepas dari layer komputer dan gawai, secara spontan ini meminimalisir perhatian mendampingi kegiatan pembelajaran anak di rumah. Cerita dari seorang teman yang keduanya menjadi guru di SMP dan SD bahkan tak sempat menemani anaknya mengerjakan tugas, bagaikan seperti kuda yang dibiarkan berlari tanpa kusir yang mengendalikannya. Sedang Si Kusir sendiri sibuk mengendalikan delman-delman kuda lainnya.

Ada juga cerita teman yang mengalir meski berawal dari sikap kekemalan (kepo maksimal) saya dari update statusnya. Status yang pendek “capek plus emosi” disertai unggahan foto bersama kedua anaknya sekitar usia TK dan SD kelas IV  sedang mengerjakan tugas sekolah di ruangan yang sangat berantakan. 

Setelah saya pancing cukup dengan balasan kalimat “Kenapa Jeng?”. Mengalirlah cerita bahwa sebagai IRT yang terbiasa dengan mengentaskan pekerjaan rumah dengan waktu yang telah terjadwal, tiba-tiba semua berubah. Menjadi seorang guru dadakan dengan tuntutan meltek (melek teknologi) tinggi plus anak-anak yang menurutnya susah untuk dibelajari. Hal itu sangat membuat dia merasa capek plus sering emosi tak terkendali. Tak heran jika bermunculan meme seorang ibu berubah menjadi harimau atau singa sehingga anaknya ingin segera kembali ke sekolah Bersama gurunya.

Baca Juga  Optimalisasi Peran Perempuan dan Kesejahteraan Ekonomi

Menjadi Guru Memang Tak Mudah

Memang menjadi seorang guru tidaklah mudah tanpa berbekal ilmu pendidikan yang mumpuni, maka tak luput pasti emosi akan tersulut seperti api yang disodori minyak didekatnya. Alhasil banyak anak frustasi bila diajari oleh orang tua mereka sendiri dan orang tua menjadi pesimistis merasa telah kelelahan namun tak menuai hal yang diharapkan.

Ketika proses belajar online  menggunakan media elektronik, maka itu diartikan  anak belajar dengan televisi atau gawai. Apakah anak akan berhenti dengan kedua media itu setelah mengerjakan tugas? Saya rasa tidak, karena mungkin anak akan melihat acara televisi lain belum tentu terkontrol. Masalah pegang gawai apakah anak akan melepaskan setelah tugas terkirim? Tentu tidak, mereka pasti akan meminta kompensasi untuk bermain gawai lagi dengan membuka aneka game yang kadang beriklan konten abal-abal. Hal ini tak bisa dianggap sepele, mengapa?. Karena akan membawa problem lain plus dampak psikologis lebih menyeramkan nantinya.

Persoalan lain dari pembelajaran online ini bisa juga karena minimnya media maupun fasilitas pembelajaran seperti yang ada di sekolah, sehingga kegiatan ini akan terabaikan. Fungsi guru hanya sebagai kiblat instruksi kegiatan semata tanpa memerhatikan kondisi anak didiknya.

Keterkaitan Sekolah dan Kondisi Ekonomi

Problem pembelajaran daring juga erat kaitannya dengan kondisi ekonomi masyarakat berupa kebutuhan pokok pangan. Dalam komentar status saya di Facebook orang tua yang sangat keberatan dengan sistem pembelajaran ini, dikarenakan mereka terkena proses peliburan kerja efek pandemi. Permasalahan kuota data bagi orang tua tidak bisa disepelekan juga, ibarat membeli voucher data seharga Rp.50.000,00 keatas akan lebih baik ditukar dengan sekardus mie instan untuk menjaga stabilitas organ cerna mereka. Meski mungkin bagi para orang tua lain yang memiliki zona nyaman finansial tidak akan bermasalah.

Baca Juga  Menutup Stigma Tabu Masyarakat terhadap Pendidikan Seksual

Ada lagi cuitan orang tua yang juga warganet; “Sekolah libur tidak perlu membayar SPP dan guru tak perlu di bayar”. Hal ini karena orang tua merasa sudah kebobolan kuota.  Bisa dibayangkan bila ini terjadi maka anggaran pemasukan sekolah seketika menjadi amburadul dan nasib guru terutama yang honorer semakin terperosok.

Belum lama ini Bapak Menteri Pendidikan kita Nadiem Makarim mengeluarkan sebuah peraturan tentang ditetapkannya tahun pelajaran baru 2020/2021 dimulai tanggal 13 Juli 2020, namun anak masuk pada bulan Januari 2021. Peraturan ini tentunya belum final karena Presiden Jokowi mengambil komando agar tidak ‘grusa grusu’ dalam menentukan kebijakan. Pertimbangan dari perjalanan pro kontra panjang berbagai aspek mekanisme pendidikan dan protokol kesehatan terus digodog.

Siapkah Sekolah dengan Protokol Kesehatan?

Peraturan yang masih terasa ambigu, bila memang anak sudah mulai ke sekolah ada berbagai kekhawatiran orang tua sekaligus pemerintah. Siapkah sekolah dan komponennya dengan penerapan protokol kesehatan? Terlebih ini berkaitan dengan fasilitas, sedangkan tak semua institusi pendidikan dapat memfasilitasi.

Mungkinkah kegiatan tahun pelajaran baru memperhatikan status zona? Atau penerapan model pembelajaran tatap muka agar tercipta social distancing seminggu sekali pada 50% anak didik kelas. Ada juga penyingkatan waktu tatap muka disekolah dengan meniadakan jam istirahat sementara ada hal penting yang tak boleh kita abaikan yaitu dunia anak yang sesungguhnya adalah bermain.

*) Penulis Mulia Rahayu, Seorang guru TK dan pemerhati Pendidikan anak.

Bagikan
Post a Comment