f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pernikahan

Komunikasi Hati Pasangan, Untuk Kebahagiaan Sejati

Setiap pasangan pastilah mendambakan keluarga yang harmonis. Keluarga dengan kehangatan, kenyamanan dan kebahagiaan. Keluarga yang produktif dalam menciptakan kehidupan yang bermakna. Visioner dalam menatap masa depan, solid dalam kebaikan, dan mampu menjadi sentral kebermafaatan.

Tentu menciptakan suasana yang demikian tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pastinya membutuhkan effort dan perjuangan yang tidak mudah. Dalam prosesnya akan menguras tenaga yang tidak tanggung-tanggung.

Membangun keluarga yang harmonis bukanlah persoalan individu, melainkan tugas bersama pasangan. Keduanya harus menyatukan dan menyelaraskan apa-apa yang ada dalam diri masing-masing. Menciptakan kesinambungan dan ketersalingan antara keduanya. Maka agar sampai pada titik itu perlu sebuah landasan cinta yang kuat.

Cinta yang seperti apa? Dalam tulisan saya yang berjudul ‘Membangun Mahligai Pernikahan yang Mawaddah wa Rahmah’. Salah satu basisnya adalah cinta yang sifatnya mahabbah. Dengan mahabbah inilah diharapkan mampu menciptakan komunikasi yang berasal dari hati antara kedua pasangan.

Mahabbah, Asas Komunikasi Hati

Mahabbah adalah cinta murni yang lahir dari dalam hati. Yang membawa pemiliknya pada kecenderungan untuk taat dan mengikuti kebaikan. Mahabbah adalah cinta yang berlandaskan pada keimanan yang paripurna. Keimanan pada Allah dan nabi Muhammad sebagai utusan-Nya. Dalam surat Ali Imran 31,

‘Qul inkuntum tuhibbuna Allah fattabi’uni yuhbibkumu Allah wa yaghfir lakum dzunubakum wallahu ghafurun rahiim’, Katakanlah; jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang’ (Ali Imran: 31).

Orang yang memilki mahabbah pasti akan melandaskan interaksi dan komunikasinya dengan hati yang murni. Menjalin komunikasi pasangan dalam sebuah hubungan sangatlah penting, termasuk melandaskannya dengan hati. Salah satu cara untuk meraih harmoni dalam sebuah hubungan perlu komunikasi yang ‘dari hati ke hati’.

Baca Juga  Khomsatun, Pendiri Rumah Baca Ilalang di Blitar

Dengan kata lain, pasangan yang ingin merintis keluarga yang harmonis harus melandaskan hubungannya dengan cinta yang mahabbah. Cinta yang di dalamnya mengandung keimanan dan keyakinan.

***

Terkait iman, dalam sebuah hadist : ‘Tidak sempurna iman kalian, sehingga kalian saling mencintai dan menyayangi. Para sahabat berkata: Ya, Rasulullah, kami telah saling cinta dan kasih sayang. Nabi bersabda: bahwa cinta dan sayang yang dimaksud bukan hanya sekadar kepada salah seorang temannya, dalam ruang lingkup terbatas, tetapi cinta dan sayang yang dimaksud adalah cinta dan sayang yang bersifat menyeluruh’.

Menilik hadist di atas, dapat dikatakan bahwa orang yang beriman haruslah melahirkan cinta kepada sesama. Cinta dalam hal ini bisa diartikan kasih sayang kepada pasangan. Dengan kata lain, keimanan seorang kepada Allah pada saat yang sama juga harus diejawantahkan dalam proses mencintai pasangan hidup.

‘Sepantasnya cinta-Ku tercurahkan kepada orang-orang yang saling mencintai pada jalan-Ku. Akan Kunaungi mereka pada naungan bayangan arsy pada hari kiamat, dimana pada hari itu tidak ada naungan kecuali naungan-Ku’ (HR. Ibnu Abi Dunya).

Dengan demikian, komunikasi hati dalam arti saling mencintai atas dasar mahabbah sangatlah penting bagi setiap pasangan. Buah dari keimanan itulah yang pada hilirnya akan membawa pasangan pada rasa saling percaya.

Rasa Saling Percaya

Kepercayaan merupakan satu hal pokok, mendasar dan asas dalam sebuah hubungan. Rasa saling percaya itu sebuah keharusan dalam rangka menjalin sebuah hubungan, terutama pernikahan. Seorang pasangan haruslah memiliki rasa percaya antara satu dengan yang lainnya. Tanpa itu hubungan tidak akan ada rasa tenang, tentram dan damai.

Dalam sebuah hubungan rasa saling percaya itu penting. Untuk menuju itu maka perlu kembali pada landasan awal yaitu iman. Mengapa demikian? Karena pada prosesnya iman itulah yang akan menjadi sumber dari mahabbah. Pada gilirannya cinta yang mahabbah mampu menjadi satu asas atau landasan kuat untuk menjalin hubungan yang saling percaya.

Baca Juga  Peran Penting Komunikasi dalam Hubungan

Lebih jauhnya, keimanan masing-masing pasangan haruslah menjadi iman yang aktif. Iman yang termanifestasikan menjadi kepercayaan pada pasangan. Dalam proses pernikahan seorang pasangan bersama-sama mengikrarkan diri di atas nama Allah. Artinya di dalam sebuah hubungan ada unsur keimanan yang harus menjadi pegangan teguh bagi keduanya. Dalam bahasa Al-Qur’an adalah mitsaqan ghaliidzan (komitmen).

Rasa saling percaya di sini menjadi bersifat paripurna karena landasannya adalah keimanan yang paripurna. Dari keimanan itu lahir mahabbah yang mencipta rasa kepercayaan antara kedua pasangan. Maka dengan sendirinya keterbukaan dan kejujuran akan mewarnai komunikasi pasangan. Hal demikian sangatlah baik untuk mencipta sebuah hubungan yang harmonis.

Terbuka dan Jujur

Keterbukaan dan kejujuran menjadi bagian yang penting dalam membangun keluarga yang harmonis. Keduanya adalah buah dari rasa saling percaya. Saat seorang pasangan saling percaya maka akan lahir sikap terbuka dan jujur. Pada gilirannya sikap tersebut akan melahirkan kepercayaan yang lebih kuat antara keduanya, begitu seterusnya.

Selain menjaga kepercayaan pasangan, komunikasi yang terbuka dan jujur juga menjadi penting dalam proses saling memahami. Proses yang menjadi pangkal dari seorang pasangan untuk saling menyadari kekurangan, kemudian berusaha saling mengisi dan melengkapi. Saling menyempurnakan ketidaksempurnaan. ‘Hunna libasun lakum antum libasun lahunna, Mereka (para istri) adalah pakaian kamu dan kamu (para suami) adalah pakaian bagi mereka’ (Al-Baqarah: 187).

Lebih jauhnya, keterbukaan dan kejujuran juga menjadi pemeran utama dalam segala permasalahan. Baik terkait hal-hal yang bersifat personal pasangan maupun perihal yang lebih luas. Termasuk dalam menghadapi kesulitan dan masalah dalam hubungan. Yang paling pertama dan utama untuk menyelesaikannya adalah sikap terbuka dan jujur.

Kesimpulannya, ketiga aspek di atas; mahabbah, rasa saling percaya, terbuka dan jujur sangatlah penting bagi seorang pasangan. Dalam kerangka interaksi dan komunikasi hati, aspek-aspek tersebut diharapkan mampu mencipta harmoni keluarga. Yang muaranya meraih kebahagiaan sejati, ridho ilahi. Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan
Comments
  • A. Dzikrul

    Barakallahu lakum kang ulwan. Ana mau nanya, apa perbedaan antara jatuh cinta dan mencintai? Menyoal rasa dan cinta adalah suatu yang abstrak, manusia tidak bisa menentukan rasa dan cintanya kepada seseorang, bahkan terkadang bisa berganti-ganti dan akhirnya bisa poligami ataupun datang tak diundang pulang tak diantar, wkwkwk. Terus apa bedanya rasa dan cinta? Apakah cukup hanya dengan adannya sikap percaya terhadap pasangan dan sikap keterbukaan itulah yang merupakan mahabbah? Mungkin pertanyaanya lebih mengarah kepada personal dari setiap pasangan, mohon jawabannya y.

    April 13, 2021
  • Im

    Wow

    April 13, 2021
  • Jawab y

    April 13, 2021
Post a Comment