f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
menikah

Menikah Bukan Ajang Disik-Disikan

Bulan ini adalah bulan yang cukup membuat pengguna media sosial baper, salah satunya saya atau mungkin juga rahmania. Bagaimana tidak, buka story whatshap melihat unggahan foto pernikahan, buka story ig melihat unggahan foto teman nikah. Sayangnya saya masih di fase yang sama yakni nerima undangan haha.   Belum lagi berita pernikahan Dinda Hauw dan Rey Mbayang. Membuat netizen terbayang-bayang dengan keuwuan mereka.

Ternyata pandemi tidak menjadi penghalangan untuk mempersatukan dua pasangan memulai bahtera rumah tangga. Pernikahan sederhana dengan ukuran pesta pernikahan skala kecil menjadi pilihan. Namun menjadi single pada masa pandemi ini memang benar-benar diuji. Saya pun tak ingin ketinggalan memberi ucapan selamat kepada teman yang telah melepas status lajangnya dengan mengunggah foto mereka.

Lantas netizen langsung berkomentar “Kamu kapan?”. Ah bosan rasanya ketika mendapatkan pertanyaan itu. Kemudian tak sengaja melihat instastory salah satu teman yang berisikan “Menikah itu bukan ajang disik-disikan” (dulu-duluan). Mungkin dia senasib dengan saya sudah merasa bosan dan jengkel karena selalu mendapatkan lontaran pertanyaan intimidasi “Kapan menikah ?, temanmu itu sudah pada menikah loh, kamu kapan?.

Tanpa berfikir panjang para netizen singlelillah pasti langsung menjustifikasi statement tersebut. Tapi memang ada benarnya, menikah bukan perihal siapa yang lebih dulu, tapi butuh persiapan baik fisik, mental, finansial. InsyaAllah teman-teman yang melangsungkan pernikahan akhir-akhir ini sudah mempersiapkan hal itu semua ya.

Mau Nikah Muda?

Memang pernikahan menjadi momen yang ditunggu-tunggu bagi sebagian orang. Mulai dari keseruan merencanakan setiap detailnya; pilihan gaun, dekorasi, konsep prewed, menu hidangan dan sebagainya.

Secara umum, sejak perempuan memasuki masa pernikahan maka ia mulai memasuki periode untuk hamil dan melahirkan. Oleh sebab itu, semakin cepat memasuki usia penikahan, maka risiko untuk hamil dan melahirkan juga semakin besar. Namun jika periode tersebut tidak dipersiapkan dengan baik maka berbagai masalah kesehatan menanti.

Baca Juga  Memantaskan Diri Sebelum Menikah

Pernikahan pada usia muda memang tidak disarankan dari sudut pandang kesehatan karena berkaitan dengan kesiapan organ reproduksi dan pemenuhan gizi. Ibu yang masih remaja masih membutuhkan zat gizi perkembangan fisiknya, sementara secara bersamaan harus berbagi zat gizi dengan bayi yang dikandungnya.

Investasi SDM Negara: Berada di Tangan Kalian

Secara tidak langsung pasangan yang sudah menikah mengemban tugas investasi SDM negara. Terutama untuk seorang perempuan, dia akan melahirkan generasi-generasi penerus bangsa. Maka dari itu pasangan muda tentu harus mempersiapkan segala hal untuk melahirkan sosok-sosok generasi dengan pencapaian kesehatan fisik, kognitif dan intelektual terbaik. Untuk mencapainya yang bisa dilakukan adalah memperhatikan kebutuhan gizi baik sebelum dan sesuah menikah.

Banyak pasangan tidak menyadari akan hal itu.  Misalnya sebelum menikah seorang perempuan tidak mengetahui apakah kebutuhan Fe nya (zat besi) sudah tercukupi? alih-alih memikirkan hal itu sepertinya lebih menarik mempersiapkan gaun dan prewed. Padahal kebutuhan gizi dapat mempengaruhi kehidupan di masa yang akan datang.  

Masalah yang sering terjadi adalah ketika hamil akan dihadapkan dengan anemia. Anemia pada ibu hamil berkontribusi sebanyak 20% dari kematian ibu.  Selain itu konsumsi rendah kalsium dapat menyebabkan hipertensi kehamilan yang memicu preeklampsia dan eklampsia yang merupakan penyebab kematian ibu paling banyak kedua.

Indonesia sendiri menurut data SUPAS: AKI 305, Indonesia termasuk negara dengan AKI tertinggi di ASEAN (maternal mortality, 2015). Angka kematian ibu di Indonesia pada tahun 2019 yaitu sebesar 305 kasus per 100.000 kelahiran hidup sekitar 38 ibu/ hari. Meski ini menurun dari data tahun 2012 sejumlah 359 kasus. Namun angka ini masih relative tinggi.  Sedangkan angka kematian neonatal  (AKN) sebesar 15/ 1000 kelahiran sekitar 185/hari. Maka perlunya perbaikan gizi baik sebelum maupun sesudah menikah.

Baca Juga  Toxic Family : Racun Tersembunyi dalam Keluarga
Gerakan 1000 HPK untuk Pasangan Muda

Kita mengenal gerakan 1000 HPK (hari pertama kehidupan), yakni perbaikan gizi dimulai dari awal kehamilan sampai usia 2 tahun. Periode ini sering disebut window of oppurtunities atau sering disebut periode emas (golden periode). Waktu kritis yang jika tidak dimanfaatkan dengan baik akan terjadi kerusakan yang bersifat permanen.

1000 hari merupakan momentum kritis akan menentukan kualitas generasi masa depan suatu bangsa. Bagaimana tidak, ketika seorang calon ibu tidak mempersiapkan gizi dengan baik banyak sekali masalah kesehatan yang akan di terima oleh cabang bayi nantinya. Dampak yang akan ditimbulkan yakni BBLR, anak balita pendek, anak balita kurus, anak balita gizi kurang, anak balita gizi lebih.

Dampak buruk yang akan ditimbulkan oleh masalah gizi tersebut dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik dan ganguan metabolisme tubuh. Sedangkan jangka panjang dapat menibulakn menurunya kemmapuan kognitif, prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh dan rentang terkena penyakit. Semua itu akan menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, produktifitas dan daya saing bangsa. Tiga waktu kritis yang penting diketahui oleh para calon ibu yakni diantaranya.

Periode dalam Kandungan (280 hari)

Pada masa ini seorang calon ibu sangatlah penting untuk menyediakan kebutuhan gizi yang optimal. Sehingga menjalani kehamilan dengan aman dan melahirkan bayi dengan potensi fisik, mental yang baik. Serta mengurangi terjadinya bayi pendek (stunting). Kebutuhan kalori tambahan sekitar 300-350 kalori/hari, kebutuhan protein meningkat deengan 10 gram sehari. Kebutuhan suplai vitamin  A dan D, kebutuhan berbagai mineral terutama fe dan kalsium.

Periode 0-6 Bulan (180 hari )

Ada dua hal penting dalam periode ini yaitu melakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan pemberian air susu ibu (ASI) secara eklusif (sejak lahir – 6 bulan tanpa pemberian makanan lain).  IMD adalah proses meletakkan bayi baru lahir pada dada dan perut sang ibu agar bayi secra alami dapat mencari sendiri sumber ASI dna menyusu. Hal ini  bermanfaat karena tetes ASI pertama mengandung kolostrum yang kaya akan zat kekebalan tubuh. Selain itu proses IMD juga bermanfaat untuk sang ibu karena mmebantu mempercepat prose pemulihan pasac persalinan

Baca Juga  Muslimah Teladan Tak Pongah Gelar
Periode 6- 24 Bulan  (540 hari)

Mulai  usia 6 bulan keatas, anak mulai diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian MP-ASI yang telalu dini sebelum 6 bulan dapat menyebabkan masalah pencernaan (diare). Sebaliknya penundaan memberikan makanan pendamping akan menghambat pertumbuhan bayi.

7000 HPK untuk SDM Berkualitas

Kebutuhan gizi sebenarnya tidak cukup dimulai dari 1000 HPK, bahkan lebih dari itu.  Perhatian gizi haruslah dimulai dari masa remaja (sebelum menikah) bahkan masa anak-anak. Dengan demikian kesempatan untuk terjadi pertumbuhan yang gagal akan berkurang. Jika kegagalan pada remaja tidak dilakukan intervensi maka akan berlanjut sampai menikah dan mempunyai balita. 

Peraturan PRESIDEN No 42 tahun 2013 menyatakan gerakan 1000 HPK terdiri dari intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Perbedaannya adalah intervensi gizi spesifik ditujukan untuk kelompok 1000 HPK, sedangkan intervensi gizi spesifik ditujukan untuk msyarakat umum salah satu sasarannya adalah remaja.

Maka perlunya memperhatikan gizi dimulai dari 7000 HPK (mulai dari masa kanak-kanak sampai remaja) karena akan mempengaruhi investasi pembangunan manusia pada masa remaja. Dengan menaruh perhatian lebih pada masa anak dan remaja diharapkan kedepan Indoensia akan memiliki SDM dengan pencapaian kesehatan fisik, kognitif dan intelektual terbaik.

Jadi menikah itu bukan secepatnya, tapi setepatnya. Bagi semua pasangan muda saya ucapkan selamat menempuh hidup baru !

Bagikan
Comments
  • Dhila

    Calon ibu.. harus belajar sampai situ..
    Gudluck kak!

    Agustus 26, 2020
Post a Comment