f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
spiritual

Pernikahan sebagai Tangga Spiritual

Pernikahan adalah ajaran agama yang selalu menarik untuk diangkat menjadi diskursus di ruang publik. Setidaknya ada dua alasan kenapa pernikahan selalu menjadi tema yang menarik. Pertama, dari segi ruang lingkup kajian pernikahan itu sendiri, dan yang kedua berkaitan dengan berbagai permasalahan yang timbul akibat ikatan pernikahan tersebut.

Ruang lingkup kajian pernikahan memang sangat luas. Dalam pembahasan fikih, pernikahan masuk ke dalam dua irisan pembahasan yaitu fikih ibadah sekaligus muamalah. Pernikahan masuk kategori ibadah karena ia merupakan ikatan suci yang diucapkan atas nama Allah Swt. Namun demikian, akibat hukum dari akad nikah tersebut melahirkan hak dan kewajiban yang merupakan ciri khas pembahasan dalam fikih muamalah. Tidak hanya itu pernikahan juga menjadi kajian dari berbagai disiplin ilmu, di antaranya adalah kajian  hukum, sosial, psikologi, dan budaya.   

Dari berbagai sudut pandang kajian inilah yang menjadikan pembahasan tentang pernikahan tidak pernah habis untuk dikaji. Tidak hanya dari segi kajian saja, permasalahan yang timbul akibat pernikahan juga banyak dan sangat menarik untuk diteliti. Perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual kepada anak, adalah permasalahan yang seakan tidak pernah selesai akibat konflik dalam keluarga.

Banyaknya masalah dan konflik yang timbul akibat pernikahan kadang kala membuat sebagian orang enggan atau takut memasuki jenjang pernikahan, atau jika ia sudang dalam ikatan pernikahan akhirnya memutuskan untuk mengakiri pernikahan itu.

Kenapa hal itu bisa terjadi ?

Menurut saya ada pemahaman yang tidak komprehensif tentang pernikahan itu sendiri, khususnya pada aspek yang sangat mendasar yaitu aspek spiritual. Selama ini kebanyakan orang menganggap bahwa pernikahan adalah soal hubungan seksual yang telah disahkan oleh agama. Setelah hubungan itu sah, mereka hanya mengejar kebahagian dengan cara mengumpulkan harta, mengejar pangakat dan jabatan tanpa memikirkan aspek lain, misalnya sisi spiritual.

Baca Juga  Cerai itu Boleh tetapi Allah Tidak Suka

Padahal, pada sisi spiritual inilah yang akan memperkokoh sebuah ikatan pernikahan. Kita tidak sulit menemukan contoh pasangan dengan harta melimpah, pangkat, dan jabatan tetapi tak bisa lepas dari masalah dan konflik, sehingga tak mampu meraih kebahagiaan. Sebaliknya banyak pasangan dengan ekonomi pas-pasan, tapi mampu menghadapi konflik dengan baik dan akhirnya mereka bisa merasakan kebahagiaan dengan keterbatasan yang mereka miliki.

Antara pernikahan dengan spiritualitas itu ibarat dua mata uang yang saling menyatu. Di satu sisi, pondasi spiritual akan memperkuat pernikahan. Di sisi yang lain,  pernikahan dengan segala kerumitan masalah yang ada di dalamnya dapat meningkatkan spiritualitas dalam diri seseorang. Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan sisi yang kedua.

Pernikahan adalah Penolong Agama

Untuk membuka wacana ini, kita sebaiknya memahami terlebih dahulu bahwa pernikahan juga merupakan laku spiritual. Ada ungkapan menarik yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab ihya ulumuddin:

النكاح معين على الدين ومهين للشياطين 

“pernikahan adalah penolong bagi agama dan sesuatu yang dapat merendahkan syetan”

Bagi saya, ungkapan ini sangat berarti karena menunjukkan sisi spiritualitas dari pernikahan. Kita bisa mengatakan bahwa pernikahan dapat membantu seseorang memperbaiki kualitas keberagamaannya.

dalam sebuah hadis Rasulullah juga pernah bersabda :

من تزوج فقد أحرز شطر دينه فليتق الله في الشطر الثاني

“Barang siapa menikah maka ia benar-benar menjaga separuh dari agamanya, maka bertakwalah kepada Allah untuk separuh kedua.” (H.R Ibnu Jauzi dan Tabrani)

Yang dimaksud “menjaga setengah dari agama” adalah bahwa sumber kebinasaan seseorang itu biasanya karena menuruti dua syahwat, yaitu syahwat perut dan kelamin. Ketika seseorang telah menikah maka ia telah menajaga syahwat kelaminnya agar tidak berbuat maksiat sehingga ia menjaga separuh dari sesuatu yang dapat membuatnya jatuh pada kemaksiatan. Dengan demikian Hadis tersebut mempertegas bahwa pernikahan adalah sarana untuk menyempurnakan agama seseorang, dan itu berarti meningkatkan sisi spiritualitas dalam manjalanakan ajaran agama dengan tidak berbuat maksiat.

Baca Juga  Pikirin Dulu Sebelum Poligami!
Bagaimana caranya pernikahan dapat meningkatkan sisi spiritualitas seseorang?

Dalam hal ini, saya ibaratkan pernikahan sebagai tangga spiritual, yaitu sebuah proses perjalanan panjang menaiki tangga kehidupan. Setiap tangga merupakan ujian agar kita bisa sampai pada kualitas spiritual tertentu.

Misalnya ketika seseorang baru memasuki kehidupan rumah tangga pasca akad nikah, maka ia akan mendapatkan ujian berupa sulitnya mencari nafkah. Banyak pasangan yang harus berjuang sekuat tenaga untuk keluar dari ujian ini, ada yang harus pasrah dengan keadaan dan bahkan ada yang tidak bisa lulus ujian dan akhirnya memutuskan untuk bercerai.

Jika pasangan tersebut telah selesai dengan ujian ini akan datang ujian berikutnya, yaitu tanggung jawab mengasuh dan mendidik anak. Dalam hal ini, setiap pasangan  harus siap lahir batin menjalani kehidupan sebagai orang tua. Selain menanggung beban materi untuk mencukupi kebutuhan anak, orang tua juga dituntut kuat memikul beban emosi ketika menghadapi keadaan sulit.  

Contohnya ketika anak sedang sakit, setiap orang tua pasti pernah merasakan betapa pilunya hati ketika melihat anak  terbaring sakit, apalagi jika sampai harus dirawat di rumah sakit. Atau kita diuji dengan kenakalan anak. dalam hal ini kita dituntut untu bisa bersabar menahan amarah. Kedua keadaan tersebut melahirkan beban spiritual yang harus kita jaga yaitu selalu berprasangka baik dan mendoakan anak-anak kita.

Jika ia bisa melalui ujian ini akan menyambut ujian berikutnya, bisa jadi ujian pertengkaran dalam rumah tangga, pekerjaan suami atau istri yang tempatnya jauh sehingga harus berpisah, konflik dengan mertua atau ujian dan masalah lain yang tidak akan ada habisya selama menjalani kehidupan rumah tangga.

Ujian dalam Pernikahan

Akan tetapi banyaknya ujian yang datang itulah yang menjadikan seseorang menjadi lebih matang secara spriritual; ia akan belajar bagaimana bersabar menghadapi setiap ujian dan cobaan, ia akan belajar bersyukur pada setiap nikmat yang diberikan oleh Tuhan, ia juga akan belajar menerima setiap kepingan takdir yang hadir dalam tiap fase kehidupan. Oleh karena itu pernikahan adalah sarana yang sangat baik untuk memperbaiki kualitas diri seseorang, pernikahan adalah tangga spiritual yang akan mengantarkan pada spiritualitas terdalam pada diri setiap manusia.

Baca Juga  Membangun Rumah Tangga dengan Harmonis

Imam al-Ghazali mengatakan bahwa salah satu dari hikmah pernikahan adalah bersungguh-sungguh dan bekerja keras untuk melindungi dan memenuhi hak-hak keluarga, bersabar atas perilaku istri atau suami yang tidak baik, berusaha untuk tidak menyakiti pasanagn, berusaha mendidik istri dan anak-anak agar mengetahui ajaran agama yang lurus, dan bekerja keras mencari nafkah yang halal untuk keluarga.

Semua usaha itu adalah bentuk laku spiritual dalam sebuah pernikahan. Jika seseorang menajalninya dengan sabar dan ikhlas maka ia akan mendapatkan anugerah dari yang Maha Kuasa berupa ketenangan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak, semoga.

Bagikan
Post a Comment