f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
menikah itu

Menikah itu Sunah, Mencari Ilmu itu Wajib !

Manusia diciptakan berpasang-pasangan. Dan setiap orang harus mencari pasangan masing-masing. Meski terkadang, belum sempat mencari, pasangan itu malah sudah muncul di depan mata. Mungkin, itu yang disebut keberuntungan. Tidak perlu susah-susah mencari, tetapi tiba-tiba mucul sendiri. Persis sebagaimana penjelasan Pak Quraish Shihab bahwa pasangan atau jodoh itu rezeki, yang kadang susah didapatkan, tapi kadang datang sangat mudah, bahkan tanpa mencari.

Tentu, ada juga yang harus berkali-kali putus cinta karena merasa tidak pas. Sebab itu, kasus perceraian masih saja naik. Sampai-sampai, Kemenag menghimbau kepada pasangan suami istri agar sering tadarus, sering mengaji. Heemmm. Cinta memang rumit, bukan (?) Presiden Sujiwo Tedjo saja sampai bilang begini, “Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa.”

Terlepas dari itu tadi, ada yang lebih rumit diselesaikan berkaitan cinta. Tidak lain tidak bukan, adalah ketika disodorkan pertanyaan kapan nikah. Pertanyaan ini sakral. Tidak mudah dijawab, kecuali oleh para pemain sinetron FTV. Sebab, pertanyaan ini mengandung jawaban masa depan. Masa di mana seseorang telah naik level kehidupan, yakni berumah tangga.

Hukum Menikah itu Sunah

Nikah itu hukum asalnya sunah. Tentu, hukum itu bisa berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi yang berlangsung. Maka, nikah bisa menjadi haram dilakukan, atau makruh, bisa mubah (boleh), bahkan wajib. Jadi, kata kuncinya ada pada situasi dan kondisi yang sedang berlangsung. Dikatakan sunah karena sudah cukup umur, punya pekerjaan, tetapi ia mampu mengontrol syahwatnya dengan baik.

Nikah ketika wajib, adalah untuk orang yang sudah layak dari segi usia, sudah bekerja, tetapi tidak memiliki pasangan, sedang syahwatnya tinggi dan tidak mampu dikontrol. Maka, orang tersebut wajib menikah. Jika tidak segera menikah, dikhawatirkan ia akan berbuat maksiat, seperti zina. Ini berbahaya.

Selain itu, seseorang bisa makruh menikah, jika ia menikah hanya untuk melampiaskan amarah. Menikah dikatakan makruh karena tujuannya tidak baik. Makruh artinya dicegah. Maksudnya, sesuatu yang dianjurkan untuk ditinggalkan, meski dikerjakan sekalipun tidak berdosa. Sesuatu yang tidak baik tentu harus dicegah terjadinya. Maka pernikahan semacam itu harus dihindarkan. Sedangkan mubah, ketika pasangan sudah saling cocok, saling siap, baik zahir maupun batin.

Dan haram, tatkala seseorang menikah tetapi tidak memiliki pekerjaan tetap. Bagaimana bisa menghidupi keluarga kalau begitu? Menafkahi keluarga itu secara zahir dan batin. Atau, pernikahan bila dilangsungkan justru akan mendapatkan dosa. Contoh sederhana, pernikahan beda agama.

Jadi, Menikah itu Bukan Asal-Asalan Ya, Terus Gimana dong?

Dari situ sangat jelas, bahwa kita tidak bisa asal-asalan untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan kapan nikah. Nikah bukan dunia permainan anak-anak, yang serba asal main, yang tidak takut mainan itu rusak, yang bisa seenaknya bermain, bosan lalu ganti permainan. Semua orang pasti ingin menikah sekali dalam seumur hidup. Meski realita kadang tidak sesuai ekspektasi.

Sebab itu, sebelum menikah ada proses taaruf, perkenalan. Taaruf ini dilakukan sebelum melangsungkan lamaran. Di situ, pasangan saling mengenal lebih dalam, lebih banyak. Ini penting. Supaya ketika sudah menikah nantinya tidak menimbulkan salah paham. Dari taaruf inilah bisa diputuskan lanjut menikah atau tidak. Tidak tepat jika langsung menikah tanpa mengenal pasangan dahulu. Maka tidak perlu tergesa-gesa untuk menikah.

Belajar dari Kisah Joni dan Toni

Saya jadi ingat percakapan senior di pesantren. Waktu itu, saya menyimak adu argumen yang seru. Joni, santri yang mempertahankan kejombloannya sampai usia 30 tahun di pesantren, ditanya kapan menikah oleh Toni. Joni yang telah 20 tahun lebih di pesantren menjawab dengan santai, “Menikah itu sunah, sedang mencari ilmu itu wajib. Meninggalkan perkara wajib demi melaksanakan sunah itu tidak boleh, bukan (?)”

Toni mendadak terdiam sepi untuk beberapa saat. Kemudian dia kembali merespon, “Loh, kan setelah menikah masih bisa?” Kali ini, giliran Joni berpikir agak lama. Seperti mencari dalil yang pas dan mampu membuat Toni diam dan pergi.

Cinta memang tidak sepele, tidak seperti masa Hitler. Cinta itu bukan sekadar kegiatan yang diawali lewat perkenalan dan diakhiri oleh hubungan badan. Saya setuju dengan pendapat Ataka di buku pertamanya “Baca Buku Ini Saat Engkau Patah Hati” tersebut. Cinta apa itu. Bahkan, Nabi Adam dan Siti Hawa saja melakukan perjuangan berat demi bersatu.

Terus, Bagaimana Kalau Dijodohkan?

Dijodohkan atau tidak, itu bukan masalah. Sebab, setiap individu berhak bersuara, boleh memilih. Setiap manusia sudah ditetapkan pasangannya, tetapi pasangan tersebut tidak diberitahukan. Ini menunjukkan bahwa setiap manusia berhak memilih pasangannya. Lebih-lebih ini menyangkut masa depan, maka harus dipikirkan matang-matang. Pertanyaan itu mungkin sering kali muncul jika orang tua cocok dengan seseorang, atau memiliki hubungan dekat dengan orang tersebut. Nah, coba kembali simak percakapan Joni dan Toni ini untuk menjawab pertanyaan tadi.

“Jangan terburu-buru, Kang! Terburu-buru itu sifat setan, bukan?” balas Joni dengan cerdik.

“La kalau dijodohkan gimana coba?” sergah Toni.

Akhirnya Joni menjelaskan perjodohan kepada Toni. Dia mengambil kaidah dari kitab Ushul Fikih. Dan menjelaskan begitu detail kepada Toni. Hukum asal segala sesuatu adalah mubah sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya.

“Tapi ingat, segala sesuatu pasti diiringi baik dan buruk. Nah, model sliramu kan gak pernah bangun Subuh tepat waktu, mesti nyambung Dhuha. Jadi, lebih baik kamu serius mondok dulu. Nikah pikir belakangan. Setelah aku. Hahaha” jawab Joni sambil terbahak-bahak.

Sampai sini, kita perlu kembali mengulas makna nikah. Nikah bisa berarti jimak, hubungan seksual. Mungkin definisi ini sering dipakai pada masa Hitler tadi, sehingga pemaknaan cinta terbilang sempit, hanya diawali dengan perkenalan dan diakhiri dengan hubungan badan. Kalau seperti itu pelacur saja bisa, bukan?

Kita perlu membuka pikiran lebih luas tentang nikah. Nikah paling tidak diartikan sebagai akad, yakni ikatan atau kesepakatan. Kedua belah pihak ketika menikah wajib sepakat untuk saling setia, saling tanggung jawab, saling mencintai, bersama-sama meraih tujuan menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah. Jadi, sebelum mengambil keputusan lebih baik pahami dulu semua itu.

Bagikan
Post a Comment