Menciptakan Pelayanan Kesehatan di Masa Pandemi dengan Penguatan Kesejahteraan Psikologis
Dukungan kesehatan jiwa dan psikososial adalah dukungan jenis apa pun dari luar atau lokal yang bertujuan melindungi atau meningkatkan kesejahteraan psikologis (Panduan IASC: 2020). Adalah mencegah atau menangani kondisi kesehatan jiwa seperti halnya keadaan psikologis pada masa Pandemi. Pendekatan biologis dan pendekatan sosiokultural ini bergeliat di bidang kesehatan, sosial, pendidikan dan komunitas; serta untuk menekankan perlunya pendekatan-pendekatan lain yang beragam dan saling melengkapi dalam memberikan ruang dukungan yang sesuai sebagai upaya menciptakan pelayanan kesehatan di masa pandemi.
Menciptakan pelayanan kesehatan di masa pandemi menjadi suatu keharusan dan kebutuhan bagi siapapun dan di manapun. Kesejahteraan psikologis ( baik tubuh, nalar/pikiran dan perasaan/spirit) menjadi satu kesatuan utuh penting yang harus diikhtiarkan. Sebab dari kesejahteraan psikologis akan menguatkan keyakinan bahwa tak ada krisis apapun yang tak terlewati dengan keyakinan penuh (QS Al Luqman:22). Adanya perasaan tidak tenang karena khawatir dari sebab kondisi ekonomi melanda setiap individu. Hal tersebut menyangkut pula kesehatan secara fisik dimana imunitas sangat berpengaruh. Untuk itulah diperlukan dukungan.
Pendukung Pelayanan Kesehatan
Dukungan terciptanya pelayanan kesehatan dimulai dari lingkungan terdekat dan diawali oleh diri; sebagai wujud dari disiplin diri seperti dengan melakukan gerakan pemakaian masker sebagai kebutuhan dan kebaikan bersama. Layanan kesehatan terhadap diri dapat diperoleh dari proses konseling melalui psikolog, dan lainnya; adapula layanan kesehatan yang menyangkut kebutuhan fisik bisa berupa cek atau kontrol kesehatan di rumah sakit / puskesmas dan dukungan layanan di masyarakat seperti pendampingan rohani (ilmu agama) dan lainnya. Semua terbalut dalam apa yang dinamakan manajemen kesehatan. Manajemen kesehatan merupakan rangkaian sistem kesehatan yang mencakup banyak hal. Sebagaimana menghubungkan banyak faktor termasuk didalamnya aspek sosial ekonomi. Sehingga saat bicara tentang kesejahteraan psikologis maka akan banyak aspek yang menyertainya.
Profesionalisme Pelayanan Kesehatan
Berbicara tentang kesehatan di masa pandemi maka tidak terlepas dari makna profesionalisme atau profesi. Freidson dalam Swick tahun 2020 menyebutkan bahwa’ …profesionalisme a specific type of occupation, one that performs works with special characteristic while comparing for economic, social, and political reward. Because of profession holds something of a monopoly over its work, it enjoy and relative autonomy that derives from the nature of the work performed and form the relationship of profession to institutions external to it..’
Dari paparan tersebut menegaskan bahwa profesi berkaitan dengan pekerjaan yang multidimensional di mana saat bicara tentang kesehatan atau profesional kesehatan maka ada dua hal penting yakni; Pertama, individu baik itu sebagai bagian atau pihak yang terkait di medis, pengelola, staf dan lainnya serta berikutnya. Kedua, masyarakat sebagai bagian pengguna jasa kesehatan. Dari sini terdapat benang merah bahwa realitas yang ada di masa pandemi saat ini, menunjukan bagaimana pelayanan kesehatan dapat tercipta dengan baik yakni dengan penguatan kesejahteraan psikologis individu dan masyarakat.
Upaya evaluasi selalu menjadi bagian penting perbaikan dalam melihat realitas yang terjadi di masyarakat menyangkut pelayanan kesehatan. Institusi pelayanan kesehatan menjadi pijakan kuat bagi individu dan masyarakat dalam mengungkapkan kesejahteraan psikologis; di mana kepuasan atas pelayanan dirasakan oleh semua pihak sehingga menurut Richard (1998), Tayler (1996) dan Bunker (1994) menyampaikan bahwa keterkaitan kesejahteraan psikologis dipengaruhi oleh hal/ sarana lain. Seperti adanya dukungan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai juga mensejahterakan baik individu maupun masyarakat.
Self Regulation : Penunjang Profesional Kesehatan
Seorang bernama Irvine Loudon tahun 1997 mengemukakan bahwa salah satu dari ragam penunjang profesional kesehatan adalah self regulation yakni nilai-nilai standart; sistem yang membentuk kualitas pelayanan kesehatan, adanya keterlibatan pasien dan peranan dari sumber daya manusia. Di mana tugas kesehatan didasarkan pada cinta kasih dan kemanusiaan. Sebab ini adalah awal dalam mencapai kesejahteraan psikologis yakni dengan memberikan ruang ketentraman (saling menolong dan menguatkan) dalam situasi kesehatan yang tidak baik. (QS Al Maidah:2).
Realitas di masyarakat menunjukan bahwa di masa pandemi ini; untuk menciptakan pelayanan kesehatan yang prima diperlukan dukungan baik itu sumberdaya manusia yang menunjang dan juga anggaran yang menunjang pula. Contoh nyata yakni keterpaduan langkah dalam pelayanan dapat tercipta dari staf medis, staf umum, pengelola rumah sakit/ puskesmas/ balai kesehatan sejenis sekaligus pimpinannya dalam menciptakan sistem nilai.
Sistem nilai menyangkut apa saja yang dibutuhkan individu/masyarakat khususnya biaya dapat terjangkau dan secara adil diterima oleh siapapun. Adanya dana bantuan oleh pemerintah maupun kelembagaan/ individu yang diperuntukan untuk rehabilitasi sarana prasarana, serta penunjang pelayanan lainnya agar dapat dipergunakan sesuai kebutuhan dalam pelayanan kesehatan dengan tepat sasaran sehingga kesiapan dalam pelayananpun dapat dioptimalkan serta tercipta pula kepuasan akan pelayanan dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Di sinilah diupayakan kesejahteraan psikologis tercipta.
Pelayanan Kesehatan di Masa Pandemi dengan Penguatan Kesejahteraan Psikologis
Selain itu hadirnya ruang konseling akan layanan kesehatan dapat dikuatkan pula dengan aktivitas ibadah yang menunjang seperti kajian ilmu agama sehingga upaya kesadaran bersama akan pentingnya kesejahteraan psikologis dapat tercipta. Sebagai starting point dalam bahasan menyangkut pelayanan kesehatan di masa pandemi ini dengan penguatan kesejahteraan psikologis maka ada beberapa hal:
- Keterjangkauan biaya menjadi hal yang sangat dibutuhkan individu maupun masyarakat apalagi dalam kondisi seperti ini. Kesehatan menjadi kebutuhan yang diperjuangkan siapapun sehingga imunitas menjadi kekuatan yang dibangun dari kesejahteraan psikologis
- Kemudahan akses dan fasilitas baik administratif maupun penunjang pelayanan kesehatan yang lain menjadi pijakan individu maupun masyarakat
- Pelayanan yang akurat dan profesional sebagai upaya dalam menghindari kesalahan diagnosa yang diberikan kepada individu/ masyarakat dengan berdasar kemanusiaan
- Antisipasif dan reponsif dimana upaya jemput bola yang dilakukan dalam hal pelayanan benar diupayakan sampai ke daerah tertinggal sekalipun
- Outcome-nya mampu memberikan pelayanan terbaik sehingga mematahkan paradigma tentang hasil yang memuaskan bukan karena mahalnya biaya namun kualitas dari pelayananlah yang menentukan
Dari deskripsi di atas dapat digarisbawahi bahwa adanya kesejahteraan psikologis mampu menguatkan keyakinan dalam melewati masa Pandemi ini melalui pelayanan kesehatan yang prima. Semoga..

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Mahasiswa Program Doktoral Universitas Airlangga Surabaya
