f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
My Body My Choice

Indonesia Hari Ini: Ing Sinyal Sung Tulodho, Ing Kuota Mangun Karso, Tut Wifi Handayani

Pak Presiden lagi kemebul mikirin Covid yang nggak selesai-selesai. Begitu juga Mas Nadiem, Menteri pendidikan kesayangan, yang tengah di aduk-aduk pusaran kebingungan menanggulangi krisis pendidikan Indonesia selama pandemi yang nggak tak kunjung kelihatan titik selesainya.

Sejauh ini, langkah Mas Menteri dalam mengatasi keterbatasan pendidikan Indonesia selama pandemi, dirasa sangat jauh dari kata maksimal. Maksimal saja belum jelas, apalagi kesetaraan dan pemerataan pendidikan. Bagaimana bisa Mas Menteri tidak tahu menahu ada seorang anak yang rela pinjam handphone ke tetangga untuk sekolah; seorang bapak yang mencuri handphone untuk sekolah online anaknya; hingga seorang anak yang hendak menjual ayam kesayangannya untuk beli handphone guna sekolah online. Serba-serbi berita menyayat hati telah lalu lalang menghiasi permasalahan indonesia.

Seiring berjalannya waktu, seolah-olah jadi banyak pihak yang mengesampingkan esensi belajar dan sekolah. Kalau kalimat bekennya, “yang penting absen dan ngumpulin tugas”.

Ki Hajar Dewantoro yang Tinggal Quotesnya Saja

Sedari kecil, masuk di sekolah dasar, kita di biasakan dengan petuah legendaris yang tidak ada tandingannya, yang ditempel di topi, di dasi, di buku, hingga di seragam sebelah kanan. Petuah itu berbunyi, “Ing Ngarso Sung Tuladha. Ing Madya Mangun Karsa. Tut Wuri Handayani”. Di cetuskan oleh guru besar pendidikan Indonesia, beliau adalah Eyang Ki Hajar Dewantoro, dengan harapan dan makna bahwa “Di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberikan dorongan”.

Tapi, karena dilanda krisis pendidikan di masa pandemi yang nggak berkesudahan, menjadikan beberapa orang dengan jailnya mempermainkan petuah legendaris tersebut menjadi, Ing Sinyal Sung Tulodho, Ing Kuota Mangun Karso, Tut Wifi Handayani.

Kejailan masyarakat indonesia tersebut, menjadi salah satu bentuk kekhawatiran, keputus asaan, hingga ketidak pedulian terhadap kebijakan pemerintah yang dirasa ngawur dalam menghadapi krisis tak berkesudahan sekarang ini.

Baca Juga  Internet of Things konsep pengganti Peran Pendidik!?

Waktu pertama kali baca, lucu, tertawalah. Ternyata ada juga masyarakat indonesia yang senekat gini, hingga bisa dilihat, bahwa sekarang, pendidikan indonesia yang dibangun dengan semangat berkemanusiaan, telah luntur, dengan menyisakan petuah guru besar yang terlindas oleh keadaan.

Rencana Mas Menteri

Segala macam rancangan yang telah di tata rapi oleh Mas Menteri pada awal dilantik, harus di giring dan ubah pada tatanan krisis yang sedang melanda. Siapa yang tidak tega melihat pendidikan indonesia yang semakin berkembangnya zaman, pendidikan indonesia telah terjatuh jauh dari kata kemajuan.

Pendidikan indonesia tidak juga keluar dari tingkat membaca yang rendah, krisis baca tulis, hingga keterbelakangan pemerataan jaringan.. Beberapa peserta didik di daerah-daerah pelosok negeri, telah berani mengambil keputusan untuk tetap mengikuti pembelajaran jarak jauh, hingga merelakan diri mereka menginap di gunung, menyebrangi sungai yang tidak bisa diperkirakan deras arusnya.

Melawan krisis yang tak berkesudahan, Mas Menteri telah menetapkan beberapa rencana kebijakan di era pandemi, di antaranya Pemberdayaan dana BOS untuk kuota internet, dengan adanya kebijakan ini. Mas Menteri menegaskan sekali lagi, bahwa para orang tua dari peserta didik, boleh meminta pulsa kepada kepala sekolah, guna keperluan pembelajaran jarak jauh. Selain itu, Mas Menteri dan pasukan tengah mempersiapkan untuk bisa memberika. Ya meskipun bagi beberapa kalangan, Mas Menteri tidak sedang mengusahakan apapun.

Pendidikan adalah Tugas Siapa Saja !

Sesuai dengan kesepakatan setiap orang. Baik itu kita, bapak-bapak becak, ibu-ibu penjual gorengan, sampai kakek-kakek penjual bakso. Pendidikan menjadi satu kewajiban utama dalam membangun peradaban. Seperti Pak Presiden, Mas Menteri dan jajaran lainnya pun, mengemban PR yang teramat mulia nan besar. Sehingga dalam menjawabnya, memerlukan kerjasama secara kekeluargaan. Sekalipun pada proses perwujudan banyak ditemui perbedaan, tak mengapa, kita hanya melihat dari kacamata hidup yang berbeda.

Bagikan
Post a Comment