Selektif Memilih Guru dan Pesantren
Belum lama ini, dunia pesantren dibuat geger. Tiba-tiba, berita trending pesantren muncul karena suatu kasus tindak asusila. Diberitakan seorang ustaz pesantren melakukan pemerkosaan terhadap 13 santrinya. Para santriwati yang seharusnya diberi ilmu keagamaan, sebaliknya, mereka malah mendapatkan perilaku guru yang tidak berperikemanusiaan.
Masyarakat di berbagai daerah lantas membicarakan pesantren. Pikiran positif maupun negatif muncul seperti biasanya. Namun, semua membenci tindakan yang dilakukan oleh ustaz tersebut. Walaupun demikian, citra pesantren tidak turun. Animo masyarakat tetap tinggi untuk memondokkan anaknya ke pesantren. Sebab, masyarakat tahu yang busuk adalah sikap ustaz itu, bukan pesantren.
Ini adalah pelajaran yang sangat penting agar masyarakat tidak sembarangan dalam memilih guru, terutama guru agama. Masyarakat harus selektif dalam memilih bakal calon guru panutan untuk anak-anaknya nanti. Sehingga anak-anaknya bisa mendapatkan ilmu dan wawasan yang tepat, serta mendapat bimbingan yang lurus oleh sang guru.
Salah satu tokoh masyhur Abu Hanifah memberikan contoh dalam memilih guru. Beliau sebelumnya telah mempertimbangkan lebih lanjut dan memikirkan siapa yang akan dijadikan sebagai gurunya. Lalu, Abu Hanifah menetapkan Hammad bin Abu Sulaiman sebagai gurunya. Dan sebagaimana yang kita tahu, sampai saat ini Abu Hanifah menjadi tokoh masyhur terutama di kalangan umat Islam. Kini, Abu Hanifah menjadi salah satu imam mazhab.
Hal ini mengingatkan saya ketika dulu akan memilih pondok pesantren mana yang cocok untuk saya. Sekitar 13 tahun lalu, saya dan orang tua mencoba mencari beberapa nama pondok pesantren di Jogja. Setelah mendapatkan beberapa nama pesantren, saya dan keluarga sowan ke kiai panutan di daerah saya tinggal.
Kriteria Memilih Pesantren
Beberapa pesan kiai yang masih terngiang dalam memori saya, mengenai bakal pesantren mana yang saya pilih. Setelah Ujian Nasional waktu itu, saya dan orang tua mengunjungi beberapa pesantren. Karena masih bingung, saya dan orang tua mengikuti arahan kiai. Begini pertimbangannya waktu itu.
Pertama, sebaiknya pilih guru yang luas wawasan atau berilmu tinggi. Lebih-lebih, guru itu memiliki ilmu khusus, alias keahlian khusus. Guru spesialis memiliki wawasan luas dalam bidang tertentu. Contohnya: ahli Al-Qur’an, ahli kitab kuning, ahli astronomi, dan lain sebagainya. Jika menginginkan anaknya hafal Al-Qur’an, sebaiknya anak masuk ke pondok pesantren yang program unggulannya adalah hafalan Al-Qur’an, seperti di Yanbuul Qur’an, Kudus atau Al Munawwir, Yogyakarta.
Kedua, pilih guru yang berhati-hati, yang berjaga diri. Dalam pemahaman pesantren, orang yang wara’ adalah orang yang menghindari perkara haram, atau suatu keburukan meski kecil. Analoginya, jika keburukan kecil saja berusaha dihindari, kejadian seperti kasus asusila di atas pasti tidak akan pernah terjadi.
Ketiga, pilih yang tua, yang lebih berumur. Sejak kecil, kita diajarkan untuk mengormati yang lebih tua, iya ‘kan? Dalam hal memilih guru, lebih baik mencari guru yang tua baik dari segi ilmu dan pengalaman. Meski sebenarnya menimba ilmu dari siapa saja itu boleh. Guru masih muda, bahkan lebih muda dari murid itu sah-sah saja. Tetapi, ilmu dan pengalaman yang lebih tua pasti jauh di atas yang muda.
Kalau di dunia pesantren, ada namanya ‘ngalap berkah’. Ini biasanya bagi santri yang mengaji kepada ulama sepuh, meskipun yang muda masih ada. Ada yang belajar dari Pak Quraish Shihab, meski sebenarnya belajar dari Gus Baha bisa saja. Sebab, Pak Quraish Shibab ‘lebih tua’ ilmu dan pengalamannya.
Bertanya pada yang Berilmu
Begitupun saat mencari pesantren, masyarakat perlu mencari yang lebih tua. Belajar Al-Qur’an, misalnya, yang saat ini sudah banyak ulama ahli Al-Qur’an. Tetapi, mencari berkah dengan memilih pondok Al-Qur’an tertua seperti Pondok Pesantren Al-Munawir Krapyak Yogyakarta. Yang mana, mayoritas ulama ahli Al-Qur’an bersanad dengan Simbah Munawwir.
Nah, biasanya, guru dengan kriteria yang ketiga ini memiliki kriteria yang pertama juga. Sebab, orang-orang dahulu sangat semangat dalam menuntut ilmu. Bahkan, mereka menuntut ilmu tidak hanya di satu-dua pesantren saja. Belum lagi, mereka mendalami bertahun-tahun di pesantren. Ada banyak kisah ulama yang masyhur dalam hal ini yang tidak bisa saya sebut satu per satu.
Tidak cukup hanya memakai tiga kriteria di atas. Ada langkah lain untuk memilih guru. Kalimat ini pasti familiar, “Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui”. Sudah pernah dengar? Atau sudah pernah membacanya di buku? Kalimat ini bisa dipakai untuk memilih guru.
Ini penting. Ketika akan memasukkan anak ke pesantren A, misalnya. Orang tua perlu bertanya kepada anak yang sudah berada di sana, alumni, atau pengurus di sana. Bertanya dengan sebanyak-banyaknya pertanyaan. Contoh: anak akan mengaji dengan siapa? Bagaimana jadwal kegiatan sehari-hari anak? Dan sebagainya. Setelah mendapatkan informasi yang cukup, musyawarahkan bareng keluarga.
Informasi memang banyak tersebar di internet, di dunia maya. Tapi tanpa bertanya langsung, bahkan melihat langsung, itu tidak baik jika dijadikan pilihan secara langsung. Apalagi dunia internet saat ini banyak orang menggunakan dengan cara yang negatif. Informasi yang didapat dari internet bisa saja keliru.
Untuk itu, ketika masa-masa sebelum pendaftaran begini harus dimanfaatkan mencari informasi sedetail mungkin. Mencari informasi di media sosialnya dan bertanya. Lebih bagus lagi jika bisa observasi ke tempatnya langsung. Sehingga semakin mantab dalam memilih, semakin ketat dalam seleksi.
Selektif itu pentingnya, salah satunya bisa dapat guru yang kredibel. Tahun ajaran 2022 ini masih ada waktu yang banyak untuk mencari informasi sebelum masuk tahun ajaran baru mendatang. Mari bertindak lebih selektif dalam mencari guru dan pesantren. Sebab, pendidikan adalah masa depan anak.
Di awal tahun begini, banyak sekali pesantren yang sudah buka pendaftaran. Jangan langsung mendaftar, tetapi coba lakukan beberapa hal di atas. Harapannya, orang tua tenang dan anak pun senang ketika belajar.
Lahir di Bantul, 22 tahun yang lalu. Menyelesaikan studi sebagai santri di Pondok Pesantren An Nur Bantul sejak 2009 hingga sekarang. Kuliah di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta. Beberapa tulisan pernah dimuat di media, seperti: bangkitmedia.com, SantriNews.com, rahmad.id dan pernah juga menulis berita di Koran Kedaulatan Rakyat. Sekarang, ia tergabung dalam komunitas online Rumah Membaca Indonesia (RMI) dan komunitas-komunitas online baca-tulis lainnya. Dan tinggal di Pondok Pesantren An Nur.
