f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
meramadankan hidup

Meramadankan Hidup

Tidak terasa, momentum besar 1 Syawal 1444 H telah berakhir. Waktu berlalu, hari demi hari, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun, laksana mengalir bagai air sungai yang tak beriak dan berombak. Waktu seperti udara yang selalu berintegral dengan kita, namun kehadirannya kerap kali tidak mampu kita sadari.

Kita mengenal waktu berdasarkan rotasi matahari dan bulan. Tibanya esok pagi diawali dengan cahaya kemerah-merahan sebelah timur, dan perlahan tanpa mampu kita sadari Ia pudar dari sebelah barat. Malam ditandai gelap, saat langit bertabur para bintang yang masa demi masa kian berubah sudut paralaks-nya. Begitu sederhana dan nyata, sehingga kita menganggapnya biasa. Melihat lazimnya ketidak sadaran akan taburan kuasa Allah Swt. itu, membuat saya berandai untuk menjadi matahari dan meminta pada Allah Swt.—sebagai bentuk pengabdian—untuk melakukan revolusi peredaran satu hari saja. “Ya, Tuhan-ku, kali ini saja aku ingin meminta untuk tidak terbit satu hari saja. Mereka—manusia-manusia itu—tidak pernah menganggapku, mereka hanya berkepentingan pada cahaya yang Kau pancarkan melalui diriku”.

Menurut para Sufi, hidup bukanlah garis lurus, melainkan garis melingkar. Oleh karena itu semua serba berdialektika. Peredaran bulan dan matahari adalah salah satu manifestasi dialektika. Romantisme hidup manusia yang menjadi skenario Sang Dalang juga berjalan secara dialektis. Allah Swt., ngendikan: inna ma’al-‘usri yusrā (Qs. Al-Insyirah [94]: 6). Paling tidak, matur nuwun dumateng kehadiran para malaikat Allah Swt., juga merupakan salah satu bentuk dialektika romantisme kita pada Allah Swt. Melalui bulan—dan dialektika yang tepat dengan matahari—kita bisa menjadi tahu kapan momentum bulan Ramadan tiba dan berakhir.

Bukan kebetulan jika Ramadan kita hitung berdasarkan gerak bulan. Fenomena gerak bulan menunjukkan gerak melingkar. Bermula dari satu titik dan kembali ke titik itu lagi. Ada tiga malam, langit tanpa bulan, kemudian tampak bulan sabit, lalu membesar hingga purnama. Setelah itu perlahan menyusut hingga lenyap, kemudian muncul lagi bulan sabit.

Baca Juga  Beberapa Jenis Investasi yang Perlu Kamu Diketahui
Menjelang Senja Berakhirnya Ramadan

Apabila kita melihat televisi atau rajin mengikuti hiruk-pikuk media sosial, banyak orang telah membuat aktivitas ini itu untuk mempersiapkan hari raya. Seolah hari raya Idulfitri menjadi hari perayaan tersibuk sedunia.

Kita sibuk mengucapkan rindu Ramadan di bulan Sya’ban, namun begitu mulai masuk Ramadan, kita sibuk mempersiapkan hari raya Idulfitri. Ramadan masih belum terlihat, tapi kita sudah sibuk membeli toples; Ramadan tiba, kita gupruk membeli baju baru; Ramadan sudah mau pergi, kita sudah melesat jauh mempersiapkan hendak ke mana kita piknik usai Idulfitri. Idulfitri datang, kita mengeluh esok liburan sudah akan berakhir. Begitulah lazimnya konstelasi yang membuat mengapa bulan Ramadan menarik.

Maka saya teringat dialog antara tokoh imajiner Cak Dlahom dan Mak Piti yang hendak mengusulkan pada Allah Swt., supaya puasa Ramadan tidak Ia wajibkan. Karena kebanyakan orang merindukan Ramadan beserta seluruh nuansanya.

“Apa benar kamu merindukan Ramadan, Mat?”

“Ya, benar, Cak.”

“Kamu senang berpuasa?”

“Senang, Cak.”

“Beneran senang puasa?”

“Maksudnya?”

“Menurutmu, kenapa orang Islam diwajibkan puasa?”

“Supaya bertakwa, Cak.”

“Itu tujuannya, Mat.”

“Jadi kenapa diwajibkan, Cak?”

“Mat, sesuatu yang diwajibkan adalah sesuatu yang manusia tidak suka mengerjakannya. Kalau manusia suka melakukannya untuk apa diwajibkan?”

“Ya, tapi kan tetep wajib, Cak.”

“Tentu saja, Mat. Tapi masalahnya, apa benar kamu suka puasa?”

“Insya Allah, benar, Cak.”

“Kalau begitu, ayo kita usulkan kepada Allah agar puasa Ramadan tidak diwajibkan—apalagi hanya sebulan dalam setahun. Sebab manusia, termasuk kamu, sudah suka.”

Transisi Ramadan ke Idulfitri

Kita menghormati Ramadan dengan selalu menyebutnya sebagai bulan suci Ramadan. Mungkin karena Ramadan memang khas. Ramadan mengandung malam seribu bulan. Bulan penuh kekhusuan. Padanya Al-Qur’an turun, dan Allah sendiri begitu posesif terhadap ibadah puasa dengan mengemukakan bahwa ibadah yang satu ini khusus untukNya.

Baca Juga  Jangan Lupakan Duniamu

Dalam suatu momentum, Mbah Nun pernah mengatakan bahwa transisi Ramadan ke Idulfitri adalah prepare untuk memahami esensi kefitrian. Bagi Mbah Nun, esensi fitri adalah menjadi makhluk sebagaimana dahulu Allah Swt., menciptakan. Kendati di kalangan masyarakat fitri kerap dipahami sebatas kultural. Semacam mereka nilai sekadar persambungan hidup bebrayan. Beliau tak menampik kecenderungan horizontal demikian. Namun, lanjutnya, “Idulfitri harus dikonsentrasikan secara vertikal akan jangkep pula bila dilakukan keduanya, baik horizontal maupun vertikal.”

Mengutip cara pandang analogi “ketela dan tape”, Mbah Nun mengatakan bahwa Idulfitri adalah domain gaib—karena tidak mungkin kembali ke fitri adalah kembali yang sifatnya materiil, tidak mungkin kembali suci sebagai pertama kali Allah Swt., menciptakan manusia. Mustahil yang Ia maksud bukan berarti Allah Swt., tidak akan mengampuni dosa hamba-Nya yang penuh tempel lumut kesalahan.

Allah Swt., pernah mengatakan: Allażīna yu`minụna bil-gaibi wa yuqīmụnaṣ–ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn (Qs. Al-Baqarah: [2]: 3). Agar lulus di gerbang kegaiban itu, maka tidak perlu menjawab dengan argumentasi. Cukup percaya dan ikhlas marang Gusti Allah Swt.

Pada titimangsa aktivitas kita menjelang tibanya hari raya Idulfitri, sangat perlu untuk kita berterimakasih kepada Allah Swt., karena telah memberikan momentum Ramadan pada kita. Bahwa betapa luas cakupan dimensi Ramadan menyadarkan betapa sempitnya waktu untuk mengulas khazanah di dalamnya. Bahwa persoalan rindu bulan Ramadan itu adalah soal teknis emosional. Ramadan tidak cuma terletak pada satuan waktu tapi juga terletak dalam kualitas hidup manusia.

Mbah Nun pernah berpesan, “Puasa itu berlangsung di setiap diri manusia. Yang melakukan itu mulutnya, perutnya, jasadnya. Tapi dia berlangsung nilainya dalam arus kesadaran manusia, arus rohani manusia, arus cintanya manusia di dalam dirinya masing-masing,” Setelah bulan Ramadan benar-benar dipastikan berakhir, tugas kita adalah dengan meramadankan hidup dengan nuansa konstelasi, khazanah, dan tabiat-tabiat yang sama seperti bulan Ramadan.

Bagikan
Post a Comment