f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sekolah unggul prestasi

Sekolah Unggul Prestasi! Mari Bergabung Bersama Kami, Cetak Generasi Muda Yang Berprestasi!

Familiar dengan iklan seperti ini? Yah sepertinya memang sudah tidak asing lagi, seringkita baca dalam iklan-iklan sekolah saat penerimaan peserta didik baru. Ada hal menarik yang ingin sedikit saya ulas tentang sebuah sekolah unggul prestasi yang diidam-idamkan oleh umumnya masyarakat kita saat ini. Apakah salah sekolah dengan keunggulan prestasinya? Exactly No.

Tidak ada yang salah dengan sebuah prestasi yang diagung-agungkan jika kita melihat memang seperti itulah model pendidikan kita secara tidak langsung terbentuk. Sekolah yang dituntut untuk mempertahankan eksistensinya dengan berbagai macam prestasi peserta didik maupun sekolahnya. Tuntutan itulah yang membentuk minat masyarakat akan sebuah prestasi yang penilaiannya adalah mengejar sederet angka.

Tapi untuk saya pribadi, melihat iklan sekolah dengan embel-embel unggul prestasi bukan lagi sebuah ketertarikan, malah sepertinya ingin sekali melewati iklannya. Bukan apa-apa, ini semua berangkat dari pengalaman pribadi saat mencarikan adik sekolah dengan mempertimbangkan dengan karakter dan minatnya.

Dia sosok anti apresiasi, anti publikasi, dan bukan seseorang yang akan terpacu saat iming-iming kompetisi disodorkan padanya. Mau menyebutnya sebagai anak yang less motivation sepertinya tidak bisa sedini itu juga menjudgenya. Lalu sekolah seperti apa yang cocok untuk seorang anak dengan karakter seperti itu. Dengan melihat banyaknya iklan sekolah yang mengunggulkan prestasi dan menjabarkan berbagai macam kejuaraan yang diraihnya.

Loh bukannya memang jelas tujuan dalam pendidikan kita ya untuk mengembangkan potensi peserta didik, dan salah satu wadahnya adalah perlombaan? Ya benar memang kalau perlombaan adalah sebuah wadah untuk mengembangkan potensi anak. Namun perlu diperhatikan juga, tujuan pada pengembangan potensi ini untuk apa?

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Tidak hanya untuk mencerdasakan seorang anak, namun lebih dari itu. Membentuk watak, menjadikan seseorang yang berakhlaqul karimah, bertakwa kepada Tuhan YME, Sehat, Cakap, berilmu, pun bertanggung jawab. Namun apa yang terjadi pada masyarakat kita?

Baca Juga  Minat dan Bakat Anak, Orang Tua Harus Peka

Pengembangan potensi itu dijadikan ajang melombakan sebuah kecerdasan. Tidak berjalan selaras dengan mencapai tujuan pendidikan yang lainnya. Bagaimana dengan mencapai pembentukan watak, menciptakan anak yang berakhlaqul karimah, bertaqwa, yang sehat, cakap, dan juga bertanggung jawab. Jawabannya jelas bukan lagi sebuah perlombaan sebagai wadahnya. Karena memang tidak ada angka yang pas untuk menilai tujuan-tujuan tersebut.

Berapa angka yang pas untuk menilai kesehatan mental anak, misalnya? Berapa angka yang pas untuk menilai seorang anak yang barangkali daya tangkapnya kurang cepat namun sangat paham bagaimana berucap maaf, tolong, dan terima kasih? Kemudian, berapa angka yang pas untuk seorang anak yang selalu mengucap salam saat pulang dan perginya? Berapa angka yang pas untuk seorang anak yang dengan baik hatinya mau mendengarkan curahan hati orang lain? Contoh-contoh remeh yang sepertinya sering diabaikan.

Tidak ada angka yang pas sepertinya untuk menilai semua itu, dan juga sepertinya bukan hal yang pantas untuk dinilai. Bukan sebuah kesalahan dengan sekolah yang sangat menjunjung tinggi sebuah prestasi. Mau gimana lagi itu memang tuntutannya. Tapi ya jangan lupa untuk memperhatikan dari segi individu tiap peserta didiknya.

Bagaimana sekolah menciptakan suasana yang penuh akan keteladanan, menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk peserta didik mengekspresikan kemauannya, menjadikan tiap sudut tempat sekolah adalah pembelajaran untuk hidupnya. Itu yang sepertinya harus dicapai tiap lembaga pendidikan kita.

Kalau hanya bicara prestasi, Negara kita sepertinya sudah cukup maju dalam ajang kompetisinya, sudah banyak sekali anak didik yang mengharumkan nama bangsa dengan ragam prestasinya. Tapi nyatanya rank pendidikan kita di kancah dunia masih dalam tingkat yang rendah. Lalu masih mau mengandalkan sebuah kejuaraan untuk meningkatkan kualitas pendidikan Negara ini?

Baca Juga  Bed-Procrustean

Masih timpangnya penanggungjawab pendidikan di negara kita, seolah sekolah adalah tempat penitipan anak yang diminta menghasilkan sesuatu. Kemudian mengsampingkan penanggung jawab lain sebagai pihak penuntut pada sekolah. Orang tua, dan masyarakat sekitar punya tanggung jawab yang sama dalam penyelenggaraan pendidikan.

Melihat tuntutan masyarakat, sangat jelas umumnya orang tua punya ego untuk menunjukkan sebuah eksistensi dengan mendorong anaknya mengikuti berbagai macam kompetensi. Iming-imingnya apalagi kalau bukan, “biar hidupnya enak nanti, biar masa depannya jelas”, padahal kalau boleh dibilang agak kasar masih banyak orang tua yang menjadikan anaknya sebuah investasi di masa depan.

Menginginkan anaknya nanti mempunyai pekerjaan yang enak, memiliki sederet gaji dengan beberapa digit, yang memang jelas secara tidak langsung akan menaikkan derajat orang tua pula. Padahal ya sudah jelas bahwa anak adalah individu yang berbeda dengan ayah dan ibunya, anak punya kemauan untuk hidupnya, anak punya rencana yang sudah mereka pasang dalam dirinya masing-masing. 

Perlu kiranya ketika mempertimbangkan sesuatu yang berkaitan dengn anak, sudah seharusnya melihat dari sisi pribadi anaknya, libatkan anak dalam proses pemutusannya. Tidak salah memang ketika orang tua menginginkan anak yang seperti ini itu, itu memang sebuah visi misi orang tuanya. Tapi ya visi misi itu kan sifatnya tidak kaku, masih cukup fleksibel untuk diselaraskan dengan keinginan anak juga.

Banyak yang bilang keluarga adalah sebuah organisasi terkecil dalam masyarakat kita. Sebuah organisasi pastilah punya tujuannya masing-masing, namun perlu  diingat tiap anggotanya juga punya keinginan dan tujuannya masing-masing yang ingin dicapai dalam organisasi tersebut. Pun dalam keluarga, Orang tua punya tujuan, anak juga punya tujuan. Why not untuk terus berdiskusi dan berbicara satu sama lain? Anak juga bukan sebuah gelas kosong yang harus diisi paksa sesuai keinginan kita.

Baca Juga  Empat Cara Istri Napiter Menghadapi Stigma Masyarakat

Karena memang pendidikan adalah warisan termahal yang diberikan orang tua, maka sudah semestinya memilihkan lingkungan pendidikan yang baik dan sehat itu adalah sebuah tugas besar orang tua.

Bagikan
Post a Comment