Kisah Sringah Si Saksi Sejarah
Wanita berusia 97 tahun bernama Sringah ini adalah satu-satunya orang dari generasinya yang masih hidup dan mengingat banyak sejarah penjajahan yang terjadi di daerahnya yaitu Desa Cepoko Kecamatan Berbek.
Setiap pagi datang, Sringah rutin sholat berjamaah di mushola dekat rumahnya. Meski langkahnya harus dibantu dengan sebelah tongkat, namun tak membuat semangatnyA berubah. Ia tetaplah Sringah yang dikenal oleh warga sebagai sosok yang giat. Banyak orang berperasangka yang membuat Sringah masih sehat sampai sekarang karena ia giat. Sejak kecil sudah tahu bekerja, sudah membantu ibunya jualan di pasar hingga akhirnya ia menikah di usia sangat muda yaitu 16 tahun.
Sringah menikah dengan salah satu pejuang kemerdekaan berasal dari desa sebelah. Mereka memiliki lima orang anak, si sulung laki-laki menjadi kakak dari keempat adik perempuannya. Anaknya kini hanya tersisa dua perempuan yang masih hidup dan wajahnya pun tampak muda seperti dirinya. Perkulitan putih mereka turunan dari Sringah yang merupakan cucu dari seseorang berdarah arab.
Hingga kini di usianya yang ke 97, Sringah masih terlihat cantik dengan rambutnya yang masih hitam. Dan sore ini aku duduk di sampingnya. Momen yang sangat aku suka, adalah ketika beliau menceritakan kisah-kisah tentang zaman penjajahan dulu. Kali ini, dengan logat khasnya, Sringah menceritakan bagaimana dia bertemu dengan tambatan hatinya yang telah gugur di medan perang. Tentang sulitnya hidup di zaman penjajahan di mana semua orang harus selalu waspada dalam aktivitasnya. Tentang anak-anak yang harus putus sekolah karena terlalu berbahaya untuk keluar rumah. Juga tentang lubang-lubang persembunyian yang menghubungkan setiap dua rumah yang bersebelahan.
Sringah sudah biasa melihat orang-orang bersimbah darah digotong dengan tandu untuk segera mendapat pertolongan medis. Bahkan ia harus menyaksikan bagaimana jeritan keluarga samping rumahnya saat mengetahui satu anaknya terkena tembakan peluru. Sringah begitu takut, bersembunyi di lorong meja kamar seorang diri.
Sringah bercerita bahwa sewaktu kecil dirinya pernah dibawa oleh seorang penjajah kesebuah rumah dengan pilar besar juga pintu setinggi dua kali orang dewasa. Ketika pintu terbuka, segera terlihat tiga kursi mewah ditata mengelilingi meja marmer yang penuh dengan hidangan lezat. Tak jauh dari meja kursi itu, terdapat dua vas bunga keramik dengan gambar seorang gadis bertopi sedang menari sambil membawa payung. Satu vas berisi bunga kertas dan satu lagi berisi payung. Tak cukup itu, lukisan-lukisan indah dipajang di sepanjang dinding putih. Lukisan abstrak yang tak Sringah mengerti maksudnya.
Kemudian dua pelayan berseragam putih hitam mendekatinya dan mengajaknya pergi ke meja makan. Di sana seorang anak gadis seusianya sedang duduk sambil menikmati sepotong roti. Di belakangnya berdiri seorang pelayan sedang menyisir rambutnya. Sringah tersenyum saat kemudian anak gadis itu menghampirinya.
“ini untukmu,” anak gadis itu memberikan sepotong roti selai pada Sringah.
Tak lama kemudian Sringah harus pulang karena seorang prajurit memberitahunya bahwa sang ibu risau mencarinya. Sebab ia tak sempat pamit ketika seorang penjajah yang kebetulan melihatnya tengah bermain sendiri di depan rumah mengajaknya pergi. Ternyata Sringah dibawa bertemu dengan anak gadisnya yang cantik jelita.
Saat perjalanan pulang dengan diantar salah seorang prajurit, Sringah menyaksikan satu dua orang berjalan mengendap-endap bersembunyi dari penjajah. Juga beberapa orang bersejata yang siap menembakkan pelurunya kepada siapapun yang mencurigakan. Dan yang lebih mengerikan adalah lalu lalang pesawat tempur di langit dengan suara yang amat menyeramkan. Tembakan terdengar di mana-mana tak terelakkan bahkan saat hari telah beranjak malam.
Setibanya di rumah, seluruh anggota keluarga menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Mengapa Sringah pergi tidak pamit. Mengapa bisa sampai masuk ke rumah mewah milik penjajah yang sejauh ini tak pernah ada satu orang pun pribumi yang berani mendekati rumah itu. Sringah hanya tertawa sembari mengeluarkan sebungkus roti selai dari kantong kertas.
Sringah menjelaskan kepada semua orang mengapa ia pergi tiba-tiba dan tidak pamit. Ia menjelaskan betapa baik keluarga penjajah yang baru saja ia kunjungi rumahnya. Ia tidak tahu bagaimana khawatirnya orang-orang, takut jika itu adalah sebuah jebakan. Namun dengan wajah polosnya, Sringah terus menceritakan semuanya hingga ceritanya ditutup dengan membagi roti selai yang ia dapat tadi. Ia membagi kepada lima orang yang sedari tadi mencemaskannya, secuil roti yang kala itu menjadi makanan mewah bagi warga pribumi.
Sringah selalu suka dan terlihat bersemangat saat diminta menceritakan hal-hal berbau sejarah seperti ini. Terlebih untuk anak-anak zaman sekarang yang mungkin tidak terlalu menyukai sejarah. Sringah menarik nafas panjang untuk segera melanjutkan ceritanya. Namun helaan nafas kecewa kemudian terdengar saat adzan magrib berkumandang. Aku bersenyum tipis. Watu salat magrib telah tiba. Sringah menyuruhku segera mengambil air wudhu. Kita cukupkan dulu berbagi kisah hari ini. Esok hari atau di lain kesempatan, aku ingin mendengar lebih banyak kisah sejarah lainnya.
Mahasiswa semester tujuh prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Walisongo Semarang. Saya bertempat tinggal di Kota Nganjuk Jawa Timur. Saya suka menulis. Sebab dengan menulis, saya mampu menuangkan sesuatu yang tak dapat saya ungkapkan. Find me on instagram @avitanh. Email : avitanh0312@gmail.com
