Menikmati Cinta Ibu Lewat Masakannya
“Le, ini sarapannya sudah siap,” teriak Ibu saya dari dapur di pukul setengah lima pagi itu.
Saya yang sedang siap-siap menyiapkan keperluan kerja sebelum perjalanan dari Trenggalek ke Ponorogo pun kaget. Lha buat apa ibu saya memasak sepagi ini? Padahal sebenarnya beliau tidak perlu repot-repot, saya bisa beli sarapan di jalan, kapanpun saya mau. Malahan, saya sudah terbiasa tidak sarapan jika sudah hari kerja di Ponorogo.
Internship saya yang berlokasi di kabupaten tetangga, membuat saya kadang pulang tiap dua minggu atau satu minggu sekali. Dan, ibu selalu begitu kalau saya mau berangkat ke Ponorogo setelah subuh. Beliau pasti bersikeras menyiapkan masakannya.
Belakangan saya merenung. Ibu saya yang memang tidak memiliki penghasilan tetap, alias seorang ibu rumah tangga. Beliau tidak bisa memberikan uang saku lebih ke saya, selain karena tidak ada pemasukan, saya juga sudah ada uang gaji sendiri.
Nyatanya, tidak ada lagi bahasa cinta lain yang bisa diungkapkan oleh beliau, selain lewat masakan. Pun, di usia beliau sekarang, tidak mungkin saya akan didandani dan dicipika-cipiki seperti waktu kecil dulu. Apalagi jika beliau harus memberi suapan nasi ke saya. Jelas tidak mungkin.
Pernah sesekali saya menolak untuk dibawakan bekal. Dan begitu, beliau tetap saja bikin bekal. Pernah sesekali saya kesal dan bilang kalau tidak perlu serepot itu, karena waktu itu di tempat kerja saya sedang ada hajatan. Tampak di sana, muncul raut wajah kecewa dari beliau.
Saya ingat, beliau dulu cukup malas untuk memasak terlampau pagi. Kalaupun sudah siap, biasanya sudah mepet waktu saya berangkat sekolah. Jika saya memaksa sarapan, jelas saya terlambat. Namun, perilaku beliau mulai berubah ketika saya merantau untuk kuliah. Kini, jika saya di rumah, masakan pagi pasti sudah siap sebelum saya melakukan aktivitas.
***
Saya pun teringat, mengapa sekian tahun yang lalu, tiap ada bulik saya yang dari jauh berkunjung ke kampung, nenek saya selalu saja bikin makanan andalannya, Ayam Lodho, khas Trenggalek, Jawa Timur. Masakan itu, kebetulan juga merupakan kesukaan bulik saya.
Walaupun proses pembuatannya susah, harus diasap lalu direbus dengan bumbu kunyit dan tambahan lain yang ribet. Waktu itu, beliau tetap saja ngoto masak. Padahal, bulik juga berusaha untuk beli saja makanan dari luar, ya dari uang bulik sendiri, daripada repot-repot. Niat bulik saya pulang itu untuk juga menyenangkan nenek, minimal mengajaknya ke tempat makan kesukaan, tapi kok nenek mau-maunya repot sendiri.
Bertambah tahun, kini nenek saya sudah tidak kuat untuk memasak sendiri, fisik beliau sudah tidak mumpuni.
***
Dulu, ketika kecil, kalau tidak bisa dikatakan benci. Jujur, saya tidak suka makan sayur dan olahan ikan laut. Sampai hari saya bisa menyalakan kompor sendiri dan menggoreng telur, hari-hari adalah perjuangan untuk menghabiskan masakan sayur dan olahan ikan laut itu.
Setelahnya, ketika ada masakan ibu yang saya tidak suka. Saya langsung saja menggoreng telur. Barang saya hanya memakan telur dan semangkuk nasi, itu sudah cukup, daripada saya harus bersikeras menghabiskan masakan yang tidak saya suka.
Dan kini saya juga sadar, ketika menghemat pengeluaran di perantauan, kadang saya dan teman-teman yang tinggal di tempat yang sama mencoba untuk memasak sendiri. Dan saat itu saya paham, kalau perkara memasak bukan hal yang mudah. Apalagi untuk membuatnya disukai orang-orang di dekat kita.
Jika seleranya kawan saya tidak sama dengan saya, dan dia tidak memakannya, perasaan saya ikut remuk. Apalagi jika saya juga tahu kalau rasa masakan saya hari itu memang tidak enak.
Saya tidak tahu, bagaimana perasaan ibu saya ketika anak laki-lakinya tidak suka masakannya. Dan lebih memilih memasak sendiri, barang cuma telur ceplok rasa hambar.
***
Entah apa yang dipikirkan ibu saya yang ngotot kasih masakannya itu. Mungkin beliau sadar, dalam waktu dekat, dia tidak bisa melihat anaknya sesering sekarang. Mungkin dia sadar misal anaknya kelak akan menikah dengan wanita yang jauh dari kampung, atau anaknya perlu bekerja di luar kota yang tidak bisa membuatnya pulang tiap minggu. Atau malahan, akan datang waktu dimana anaknya hanya pulang seminggu sekali ketika lebaran saja.
Ya kalau pulang, kalau tidak? Pun saya sendiri juga tidak tahu sampai kapan ibu saya bisa memasak sekuat sekarang.
Sebagai anak yang terlambat paham. Kini saya hanya bisa mengusahakan untuk makan makanan buatan beliau saja ketika sedang di rumah. Kalaupun ada kawan yang mengajak makan di luar, bagaimanapun saya mengusahakan agar bisa makan makanan rumah, walau cuma sesuap.
Ibu saya akan senang, kalau ada bekas piring di tempat cucian, tanda saya sudah makan masakan beliau.
Kelahiran Trenggalek Jawa Timur. Saat ini sedang menempuh Pendidikan Profesi di Fakultas Kedokteran Airlangga.

Dona
bener banget,
Prima Ardiansah
Makasiii Mbak :’)
Wurry Srie
Bahagianya seorang ibu memang sederhana, Masdok. Enak atau tidak masakan beliau untuk anak tercinta, makanlah walau sesuap.
Selain formula bumbu2 yang diracik, ada beberapa jumput rasa kasih dan sayang yang sudah pasti ditaburkan dlm masakannya.
Prima Ardiansah
Setuju tenan sama sampean Mbak, jumputan kasihnya bikin masakannya nganu :’)